Latest Post

Ketika Dorayaki Berlabel Halal

Written By Frieda Kustantina on Selasa, 23 Agustus 2016 | 07.30


Dorayaki


"Kami berbincang sejenak tentang perkembangan Islam di Jepang  dan tentang moslem friendly policy terutama terhadap turis muslim. Kami diberikan leaflet tentang peta tempat-tempat makan dan kategorisasinya", demikian mengutip baris kata isi buku Menata Jaminan Halal di Indonesia.

Buku yang dibagikan Hj. Ledia Hanifa Amaliah S.Si.,M.Psi kepada anggota DPRD, pejabat kantor yang terkait ( Deperindag dan Depag) MUI, pelaku bisnis, baik wilayah Jabar, kota Bandung dan kota Cimahi, wakil dari ormas Islam tak terkecuali Salimah Jabar yang hadir dalam acara Sosialisasi Jaminan Produk Halal, di Hotel Narapati Bandung, Senin (15/08).

Dirinya mengudar perasaan cemburunya. Dikatakan  betapa mudah mencari makanan halal di negeri Sakura sana. Mulai Naan  (semacam roti) hingga Kari. Tak ketinggalan makanan yang disukai anak-anak Indonesia seperti Ramen, Dorayaki dan  banyak lagi yang produk lokal  sudah berlabel halal. 

Anggota DPRD dari Fraksi PKS ini menyaksikan dengan mata kepala sendiri fenomena di Jepang, dimana memberi ruang luas untuk pelabelan produk halal. Seolah muslim disana dimanjakan lidahnya, sehingga tak was-was kehalalannya  dalam menyantap makanan di negeri yang muslimnya minoritas. Lebih mencengangkan lagi, negeri Sakura ini siap menjadi tuan rumah penyelenggaraan World Halal Forum yang cukup bergengsi.

Ditambahkan pula fakta di beberapa negara, seperti Singapura yang jelas negara sekuler namun pemerintahnya menganggap penting terhadap label dan sertifikat halal. Bahkan produsen disana  kini sedang gencar memproduksi barang yang pangsa pasarnya banyak dicari bukan hanya oleh warga muslim saja tapi sudah menjadi kebutuhan seluruh warganya. Mengapa? Karena sudah menjadi rahasia umum disana bahwa makanan halal pasti tak mengancam kesehatan.

Bagaimana halnya di negara Indonesia yang mayoritas muslim penduduknya?. Hiruk  pikuknya perburuan produk halal kurang mencuat. Karena disamping tekanan pihak asing begitu kuat.

Mereka terancam impor bahan baku ke Indonesia dibekukan. Sementara sebagian pribumi sendiri tak menginginkan dengan berbagai alasan. Ada yang menolak karena memandang sertifikasi halal hanya persoalan umat Islam saja, ada yang menghalangi  takut bisnisnya sepi.

Betapa masih lekat dalam ingatan ketika Ledia menyinggung kasus pengoplosan bakso dengan daging celeng yang terjadi di Tambora, Jakarta. Modus yang mirip inipun sempak merebak di Bandung, dimana pedagang bakso ramai-ramai  mengoplos baksonya dengan daging babi. Mereka berani berbuat keji untuk menekan biaya produksi.

Padahal menurut Ledia, sertifikasi halal hingga ke penataan sistem jaminan produk halal sendiri jika dicermati dengan seksama  berpeluang memberikan peningkatan nilai perekonomian bangsa.

Dengan busana merah putihnya seolah ingin menggugah rasa nasionalisme peserta dan mengisyaratkan bahwa sekarang saat yang tepat untuk berbuat agar di tahun ke 71 HUT RI ekonomi Indonesia menguat lagi.

Singkat kata ketika di Jepang Dorayaki berlabel halal diserbu penggemar, disini budaya peduli produk bersertifikasi halal belum dimiliki, baik oleh konsumennya, terlebih para produsen sendiri. Dengan penuh harap perempuan yang berbusana nuansa merah putih itu agar setelah di sosialisasikan UU no 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal menjadi tergugah untuk ikut berperan aktif dalam pelaksanaannya sesuai peran masing-masing.

Sosialisasi ini  menjelaskan bahwa Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal yang selanjutnya disingkat BPJPH adalah badan yang dibentuk oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan JPH (Jaminan Produk Halal). Dalam melaksanakan tugasnya BPJPH bekerjasama dengan Kementerian dan/ atau lembaga terkait; LPH (Lembaga Pemeriksa Halal) dan MUI. Kerjasama ini meliputi Sertivikasi auditor halal; Penetapan kehalalan produk dan Akreditasi LPH. Mengingat volume permintaan bakal melimpah, maka masyarakat diberi kesempatan seluas-luasnya membuka LPH bagi yang siap, namun otorisasi Halal tetap ditangan MUI.  

Pengalaman yang alot dan panjang seorang Ketua Panitia Kerja RUU tentang Jaminan Produk Halal yang dibeberkan diatas, semua diaminkan M. Khairi ZM,S. Sos, ME. Hadir sebagai pembicara kedua mewakili  Pejabat dari DISPERINDAG Prov. Jawa Barat, menceritakan suka duka dan betapa riuhnya ketika pembahasan dengan DPRD Jabar membahas bersama tentang PERDA yang menyangkut kehalalan pruduk ini.

Melalui lobby dan taktik strategi, yaitu dengan menyisipkan kata higienis diantara kata halal di rancangan PERDA, lahirlah PERDA Prov. Jabar No. 13 tahun 2015 tentang Pembinaan dan Pengawasan Produk Barang Higienis dan Halal.

Ciri khas seorang Ledia, seberat apapun materi yang disampaikan selalu meramu dengan bumbu penyedap kata, sehingga mampu menghipnotis peserta untuk tak beranjak dari kursinya. Di sesi akhir petemuan inipun dia mengeluarkan joke  dengan mengutip judul sebuah lagu Jangan ada dusta diantara kita. Rupanya dia   ingin mengingatkan baik pihak produsen maupun konsumen yang sama-sama berkepentingan terhadap Jaminan Produk Halal. Kedua pihak sama-sama terlindungi.

Sebelum acara berakhir, Ledia menghadiahkan buku kepada segenap mitra kerja BPJPH, sementara kepada peserta dibagikan buku karyanya sendiri yang berjudul Menata Jaminan Halal di Indonesia seperti dikutip diatas tadi..
(Frieda Kustantina)



 











   





Ijazah yang Tertahan

Komisi D bersama pihak sekolah
Orang tua siswa SMKN 10 datang ke komisi D untuk mengadukan nasib anaknya yang ijazahnya ditahan oleh pihak sekolah, Jum'at (19/8). Hal ini dikarenakan di akhir persekolahan anak tersebut tidak melaksanakan pembayaran serta baru menunjukkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), padahal selama ini anak tersebut selalu membayar uang sekolah. Ketika menceritakan permasalahannya, baru diketahui bahwa orang tua siswa tersebut belakangan ini mengalami kesulitan keuangan sehingga tidak mampu lagi melakukan pembayaran. Komisi D mempertanyakan hal tersebut kepada Dinas Pendidikan (Disdik). Disdik mengakui bahwa ada beberapa hal yang luput dari perhatian Disdik karena tidak ada laporan ke pihak terkait, selain itu pula mekanisme SKTM yang tidak dipahami membuat pihak orang tua bingung. Endrizal Nazar, selaku Wakil Ketua Komisi D menyarankan kepada Disdik untuk memberikan edaran kepada orang tua tentang kebijakan-kebijakan terkait (pungutan, SKTM, penahanan ijazah, dll). Endrizal juga menegaskan agar tidak ada lagi kasus penahanan ijazah di sekolah-sekolah negeri, terlebih lagi sekolah negeri merupakan sekolah pemerintah. Dalam rapat kerja tersebut terungkap pula masalah-masalah lainnya, salah satunya permasalahan siswa yang tidak diperbolehkan mengikuti ujian karena belum membayar SPP. (ishma)

Aher : Paskibraka harus punya konsep diri menjadi orang sukses

Written By alimoel soekarno on Kamis, 18 Agustus 2016 | 20.03



KOTA BANDUNG - Sehari setelah menjalankan tugas mengibarkan dan menurunkan bendera pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-71 Tingkat Provinsi Jawa Barat, anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Jawa Barat berkesempatan untuk bersilaturahim dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) di Aula Timur Gedung Sate, Jl. Diponegoro No. 22, Kota Bandung, Kamis (18/8/16).

Pada kesempatan ini, atas nama Pemprov Jawa Barat dan masyarakat, Aher mengucapkan terimakasih dan selamat kepada mereka karena telah menjalankan tugasnya dengan baik pada upacara kemarin.

"Saya atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengucapkan selamat, kalian telah lolos dan telah tuntas melaksanakan tugas menjadi Paskibraka di Jawa Barat dengan baik," ungkap Aher dalam sambutannya.

Aher pun berpesan, agar anggota Paskibraka ini bisa memiliki konsep diri serta perencanaan yang matang untuk masa depannya. Karena menurut Aher, masa depan ada di tangan kita masing-masing.

"Rancangan masa depan itu tanggung jawab personal. Kita menjadi apa ke depan adalah rancangan kita sendiri. Tentu bersama-sama dalam kerangka memajukan bangsa ini," ujar Aher.

"Kalian harus punya konsep diri menjadi orang-orang hebat di masa depan. Silakan membangun konsep diri masing-masing mau jadi apa. Orang yang baik itu sudah merencanakan tahapan-tahapan masa depan, sudah punya visi dan cara memandang ke depan seperti apa, siapakah saya hari ini dan akan menjadi apa saya di masa depan," paparnya.

Aher pun ingin  mendengar cerita-cerita sukses dari para anggota Paskibraka ini di masa yang akan datang. Namun, Aher juga berpesan bahwa kesuksesan yang diraih harus pula bisa dirasakan dan memberikan manfaat untuk orang banyak.

"Orang hebat adalah bukan orang yang saleh pribadi saja tapi orang yang bisa menyebarkan kesalehan pribadinya untuk orang banyak, yang bisa memberikan manfaat untuk orang banyak. Orang yang sukses hanya untuk dirinya sendiri hanya sukses kecil, sukses besarnya adalah orang yang bisa mendharmabaktikan kesuksesannya itu juga untuk orang banyak," tutur Aher.

"Saya ingin ada cerita sukses, jadi kalau kalian sekarang kelas 11, maka akan lulus 2018 dari SLTA. Dan 10 tahun ke depan dari itu saya ingin mendengar cerita-cerita sukses dari kalian semua," pinta Aher disambut ucapan Aamiin dari anggota Paskibraka ini.

Sementara itu, Ibu Lurah dari anggota  Paskibraka yakni Bilqis Fadilah Faiz dari Kabupaten Bogor menyampaikan kesan dan pesannya selama ada di karantina dan tempat pelatihan sejak 1 Agustus 2016 lalu. Bilqis mengungkapkan bahwa dirinya merasa bahagia memiliki teman dan kenal dengan rekan-rekannya dari berbagai daerah di Jabar.

Selama masa pelatihan, Bilqis mengaku mendapatkan begitu banyak pelajaran tentang banyak hal selain pengetahuan tentang Paskibraka itu sendiri, seperti toleransi, jiwa korsa, rasa kekeluargaan yang begitu erat, serta keselarasan.

"Kami disini benar-benar dibina dan diarahkan untuk menjadi seorang jiwa Paskibraka yang sesungguhnya. Dalam penugasan kemarin pun pelatih-pelatih kami benar-benar mendukung, memberikan semangat, dan motivasi kepada kami," cerita Bilqis.

"Kami juga mendapat pelajaran bahwa seorang Paskibraka bukan hanya bertugas mengibarkan atau menurunkan bendera saja. Namun, setelah tugas ini ada satu langkah di depan sana untuk masa depan dan bagaimana masa depan bangsa dan negara ini ada di tangan kita semua," kata Bilqis.

Total ada 56 anggota Paskibraka Jawa Barat, namun yang bertugas untuk tingkat Provinsi Jawa Barat berjumlah 54 orang. Sementara 2 orang lainnya, atas nama Aldi dari Kabupaten Bandung dan Gloria dari Kota Depok bertugas menjadi Paskibraka tingkat nasional di Istana Negara, Jakarta.


Program Baru Kota Bandung, #JumatNgangkot


Wali Kota Bandung M. Ridwan Kamil didampingi Wakil Wali Kota Bandung Oded M. Danial, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, Dedi Taufik dan Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Didi Ruswandi meresmikan kampanye #JumatNgangkot yang dimotori oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung pada Kamis (18/08) di Jalan RE. Martadinata Bandung.

Selain stakeholder, beberapa relawan turut hadir dalam acara ini diantaranya Gerakan Bandung Disiplin, Bandung Ecotransport, dan Gerakan Pungut Sampah (GPS).

Didi Ruswandi selaku leading sector kampanye ini menjelaskan bahwa tujuan dari kampanye #JumatNgangkot adalah untuk menghimbau masyarakat untuk kembali menggunakan transportasi publik.
"Dikarenakan angka kemacetan semakin tinggi, program ini harus kita kampanyekan agar warga Bandung beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Upaya ini dilakukan agar mengurangi angka kemacetan dan pakrir-parkir liar," katanya.

Salah satu rangkaian program kampanye ini adalah lomba selfie di dalam angkot. Warga yang naik angkot bisa mengunggah foto selfienya ke twitter dan menyebut akun @BDGecotransport di dalam foto tersebut. 10 pemenangnya akan diberikan hadiah.

Selain itu, Dishub Kota Bandung juga tengah menyiapkan aplikasi selular untuk ponsel pintar. Aplikasi ini akan dapat mendeteksi lokasi penumpang sehingga supir angkot tidak perlu lagi 'ngetém' menunggu penumpang.
"Polanya seperti aplikasi game Pokèmon Go. Jadi supir angkot mencari penumpang dengan aplikasi tersebut layaknya berburu Pokèmon. Dan dari penumpangnya, cukup membuka aplikasi maka posisi supir angkot dapat terdeteksi dimana sopir angkot berada. Diharapkan setelah ada aplikasi ini para supir angkot tidak perlu ngetém untuk mencari penumpang," ujar Didi

Ridwan Kamil menyambut baik gagasan-gagasan tersebut. Pihaknya memang tengah memiliki master plan bernama Bandung Urban Mobility Project. Master plan ini tidak hanya berisi tentang rencana pola transportasi di Kota Bandung melainkan mencakup seluruh sektor mobilitas untuk Kota Bandung yang berkelanjutan.
"Kota Bandung memiliki master plan namanya Bandung Urban Mobility Project. Proyek ini memiliki tiga bagian. Pertama transportasi publik, gaya hidup, dan tata ruang seperti teknopolis. Program #JumatNgangkot ini termasuk bagian dari master plan gaya hidup. Sekarang angkot sudah jauh lebih baik. Ada tempat sampah, colokan terminal, dan ada juga yang pasang wifi. Ini membuktikan bahwa transportasi publik seperti angkot dan bis sudah jauh lebih nyaman dari yang sebelum-sebelumnya," ujar Ridwan

Dirinya memahami bahwa sebagai kota metropolitan, Kota Bandung memiliki mobilitas yang sangat tinggi. Namun ia menekankan bahwa kota ini memiliki beberapa pilihan moda mobilitas yang dapat dipilih. Kesemua fasilitas transportasi itu tengah dalam penyempurnaan Pemkot Bandung.

"Warga Bandung dalam melakukan mobilitasnya bisa dengan berbagai cara tidak harus 100% mengandalkan kendaraan pribadi. Saya bersepeda setiap hari kadang jalan kaki jika jaraknya dekat. Saya menghimbau kepada warga Bandung setiap hari Jumat untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi. Untuk melakukan mobilitasnya ada tiga pilihan, yaitu jalan kaki, bersepeda, dan naik kendaraan umum seperti angkot," tutur Ridwan

Ridwan menambahkan, Kota Bandung di masa mendarang akan memiliki sistem tata kota yang berkonsep Transit Oriented Development (TOD). Konsep ini nantinya akan berbuah fasilitas multifungsi yang memusatkan aktivitas masyarakat di satu titik.

"Dengan provinsi juga kita akan mengembangkan LRT Bandung Raya di mana terminal-terminalnya juga dikembangkan TOD. Nanti di bawah terminalnya adalah terminal kendaraan umum, di atasnya adalah fungsi property sehingga orang bisa tinggal di atas, kemudian di bawahnya lagi untuk transportasi lainnya," jelasnya
Ridwan berharap program ini dapat direspon baik oleh warga Bandung sehingga kemacetan lalu lintas dapat berkurang. 

Usai peresmian Wali Kota Bandung, Wakil Wali Kota, Kadishub Provinsi dan Kadishub Kota Bandung menuju Gedung DPRD Kota Bandung Jalan Sukabumi dengan menggunakan angkot jurusan Riung Bandung-Dago.

Pandangan Umum Raperda Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah

PANDANGAN UMUM
FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

TERHADAP
§  Lembaran Kota Tahun 2016 Nomor 10 perihal Usul Rancangan Peraturan Daerah Kota Bandung tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Bismillahirohmanirrohim

Alhamdulillahi lladzi hadaanaa li haadzaa wamaa kunnaa linahtadiya laulaa an hadaanaalloh. Asyhadu allaailaaha illalloh wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu wa rosuuluhAmma ba’du
Yang kami hormati saudara pimpinan dan anggota DPRD Kota Bandung
Yang kami hormati saudara Walikota Bandung.
Yang kami hormati saudara Wakil Walikota Bandung
Yang kami hormati saudara Sekretaris Daerah Kota Bandung.
Yang kami hormati Pejabat Muspida Kota Bandung atau yang mewakilinya.
Yang kami hormati para pejabat public di lingkungan Pemerintah Kota Bandung.
Para tamu undangan dan rekan-rekan pers baik media cetak maupun media
elektronik Yang kami muliakan.

Pertama-tama sebagai insan yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, marilah kita panjatkan segala puji dan syukur hanya kepada-Nya, karena atas izin-Nyalah pada hari ini kita bisa menghadiri rapat paripurna Dewan sesuai dengan rencana yang telah diagendakan.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan ke haribaan nabi kita, uswah dan qudwah kita, Nabi Muhammad saw,  kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang beriman yang setia mengikuti jalan petunjuknya sampai Hari Kiamat. Amiin...

Rapat Paripurna Dewan Yang Kami Hormati,
Masih dalam semangat  memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 71 mari kita doakan arwah para pahlawan bangsa semoga kita dapat meneladani perjuangan para pahlawan dalam memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa dan negara.
Merdeka!!

Tak lupa kami ucapkan selamat kepada rekan-rekan yang melaksanakan ibadah haji tahun ini :
·        Pak Aries Supriatna, SH, MH
·        Pak Teddy Setiady, S.Sos, dan
·        Bapak Wakil Walikota Oded Muhamad Danial
Semoga menjadi haji yang mabrur.

Rapat Paripurna Dewan Yang Kami Hormati,

Kami Fraksi PKS mengucapkan banyak terima kasih kepada sdr. Walikota beserta jajarannya yang telah menyampaikan  Lembaran Kota tahun 2016 Nomor 10, mudah-mudahan kami mampu membahasnya dan hanya kepada Allah kami memohon kekuatan, kesabaran dan keikhlasan sehingga mampu memberikan yang terbaik untuk warga Kota Bandung.

Lembaran Kota Tahun 2016 Nomor 10 perihal Usulan Rancangan Peraturan Daerah Kota Bandung tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, FPKS menyampaikan beberapa pertanyaan sebagai berikut :
  1. Mohon penjelasan apa latar belakang dan pertimbangan pemerintah Kota mengajukan formulasi SOTK sebagaimana yang tercantum dalam LK tahun 2016 nomor 10
  2. Berapa banyak jabatan struktural yang hilang dengan usulan SOTK baru ini serta bagaimana rencana Pemerintah Kota menempatkan SDM dari jabatan struktur yang hilang tersebut ?
  3. Apa langkah antisipasi Pemerintah Kota untuk meredam keresahan ASN terkait  perubahan SOTK ini
  4. Bagaimana pola rekrutmen yang direncanakan Pemerintah Kota untuk mengisi jabatan struktur dengan SOTK yang baru agar terwujud  The right man on the right job ?


Rapat Paripurna Dewan Yang Kami Hormati,
Demikian pemandangan umum ini kami sampaikan untuk diberikan penjelasan oleh pihak eksekutif pada sidang paripurna jawaban eksekutif selanjutnya. Mohon maaf apabila ada kata-kata ataupun kalimat yang kurang berkenan. Wallahu a’lam bishowwab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Bandung, 18 Agustus 2016

FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
KOTA BANDUNG

  Ketua


Tedy Rusmawan, AT.,MM
Sekretaris


Yudi Cahyadi, SP

Kampung Belekok : Mutiara dari Timur


Kampung Belekok  yang sunyi sepi, menambah khidmatnya  Upacara peringatan  kemerdekaan HUT RI ke-71 yang dilaksanakan warga Ranca Bayawak Kecamatan Gedebage, bersama DPD PKS Kota Bandung (17/08/2016).
Peringatan upacara yang dihadiri warga dan kader PKS ini, sengaja dilaksanakan di kampung Belekok yang merupakan wahana konservasi atas kelestarian keberadaan burung "Belekok" yang sudah hampir punah.
Hadir dalam upacara tersebut, Tedi Rusmawan selaku ketua DPD PKS Kota Bandung yang juga bertindak sebagai inspektur upacara.  Para Staf DPD , perwakilan masing-masing DPC PKS , kepanduan, Linmas, pelajar dan warga masyarakat sekitar kampung Belekok.
 Tedi Rusmawan yang dalam paparannya mengajak Bangsa Indonesia untuk mensyukuri nikmat setelah nikmat iman dan islam, yaitu nikmat kemerdekaan. Beliau mengajak masyarakat agar senantiasa menghormati perjuangan para pahlawan yang dengan susah payah merebut kemerdekaan.
Dalam pencapaian mempertahankan nikmat kemerdekaan ini, Tedi menyerukan 3 hal penting yang harus dilakukan.
1. Ikrar bil lisan.
Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, minimal kita mengucapkan, "Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas nikmat merdeka buat bangsa tercinta ini"
2. Melaksanakan yang kita ikrarkan.
 Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan serta mengokohkan ketaqwaan pada Allah. Karena dengan cara seperti ini, maka Allah akan memberikan keberkahan dari Bumi dan langit. Sehingga tak dapat dipungkiri bila  keberadaan burung belekok yang kata  Tedi Bagaikan Mutiara Dari Timur yang harus terus lestari. Sehingga harapannya pemerintah cepat tanggap akan eksistensi burung-burung  jangan sampai terganggu habitatnya karena mega proyek kota mandiri "Sumarecon".
3. Tidak mengkufuri  nikmat merdeka yang telah diberikan.
Sehingga diharapkan masyarakat tidak membuat kerusakan baik moral ataupun phisik terhadap lingkungan. Biarkanlah burung-burung yang ada sekarang menikmati kemerdekaannya. Sehingga lingkungan tetap terjaga.
Selepas upacara bendera, warga dan kader pks menikmati aneka macam permainan khas 17-an, yakni tarik tambang, lomba bakiak, tahfidz Quran, panjat pinang, balap karung dan lain sebagainya.
Keceriaan kemerdekaan ini, bukan hanya milik manusia semata, tapi burung-burung yang dilindungi seperti kuntul dan belekok pun harus merasakan indahnya kemerdekaan. Oleh karena itu, DPD PKS menyerahkan 86 pohon untuk konservasi alam di wilayah ini dan bibit ikan mujair yang nantinya turut menjaga ekosistem yang ada.
Masyarakat kampung  Belekok menghaturkan rasa terimakasihnya yang kemudian diwakili oleh  Ketua RW 02 Ujang Syafaat.  Beliau berharap agar pemerintah dan pengembang tidak menggerus semua yang ada di wilayahnya yang hanya terdiri dari 68 KK ini.  Sehingga nantinya merelakan sebagian lahan tetap menjadi pesawahan dan danau demi menjaga dari  kepunahan burung belekok yang sudah menyatu dengan warganya. Pak RW juga menceritakan bagaimana perhatian negara luar, hingga telah delapan negara yang datang ke kampung ini, dan pesannya seragam agar terus menjaga habitat burung tersebut.
Keunikan kampung Belekok, memang istimewa dibanding daerah kota Bandung lainnya. Penulis juga sempat mencicipi masakan khas berupa sambal pisang kelutuk . Pendatang yang hadir  akan merasa betah dan tidak merasa kalau daerah ini sebetulnya masih kawasan kota yang hingar bingar.  Apalagi kalau musim penghujan, burung-burung yang ada mencapai 3000an ekor. Sedangkan saat ini, dimana debit air sedikit, maka burung-burung bermigrasi jauh hingga puluhan kilometer demi seteguk air.
Kebiasaan burung-burung yang ada ini, menggugah ustadz Rodhi yang saat ini sebagai ketua  Dewan Syariah DPD PKS Kota Bandung, menyisipkan dalam doa-doanya, bahwa  burung-burung yang ada disini  mengingatkan akan keberadaan burung Hud-hud yang memberi keberkahan terhadap suatu kaum, sehingga membuat Negeri Saba beriman kepada Allah. (Tiesna)

Makna Perlombaan di Hari Kemerdekaan

Written By Ipah umu Abiba on Rabu, 17 Agustus 2016 | 15.00

Perlombaan kemerdekaam d KBB
Ketika 17 Agustus, Indonesia merayakan kemerdekaannya dengan berbagai hal, ada pemasangan bendera, upacara bendera, syukuran, dan perlombaan.

Perlombaannya beragam, ada lomba makan kerupuk, balap karung, panjat pinang, gigit sendok, tarik tambang, dan banyak lagi kreativitas lomba lainnya yang diadakan masing-masing daerah.

Anak-anak sampai orang tua pun menantikan perlombaannya, baik sebagai peserta ataupun sekedar menjadi penonton.

Biasanya panitia membuat perlombaan itu dengan tujuan untuk memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia dan menghibur masyarakat yang melihatnya. Namun sebenarnya di balik perlombaan itu semua, seharusnya ada banyak makna yang bisa kita ambil dalam kemerdekaan Indonesia yang sudah mencapai 71 tahun ini.

Dengan perlombaan itu sebaiknya membuat kita semakin cinta dengan Indonesia seperti halnya kita masih mengadakan perlombaan tradisional. Membuat kita semakin bersemangat untuk menjayakan Indonesia seperti halnya kita bersemangat memenangkan perlombaan. Membuat kita semakin kompak dan bekerjasama membangun Indonesia seperti halnya kita kompak dan bekerjasama ketika perlombaan. Membuat kita semakin mengenang pengorbanan para pahlawan seperti halnya kita mengingat pengorbanan kita untuk menang di perlombaan. Dan banyak makna lainnya yang bisa kita ambil dari perlombaan itu sehingga perlombaan itu tidak hanya menjadi ceremony semata.

Namun rakyat Indonesia terutama para pemuda, masih banyak yang belum bisa mengambil makna tersebut. Sehingga setelah perlombaan usai, para pemuda pun kembali dengan aktivitasnya yang sepertinya tidak peduli dengan Indonesia. Bahkan banyak para pemuda yang kembali merusak Indonesia, seperti pergaulan bebas, narkoba, dan sebagainya.

Untuk itu, dengan momen kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 tahun ini, mari kita ambil makna dari setiap perlombaan dan mari kita isi kemerdekaan Indonesia dengan hal-hal yang baik sehingga Indonesia tidak hanya merdeka dari penjajah tapi juga merdeka dari hal-hal yang merusak bangsa Indonesia.

Merdeka!! Merdeka!! (Wulan)

Ruh Merdeka Dulu dan Kini

masa-masa kemerdekaan 1945

Sayap Agustus mulai mengepakkan sensualnya ke seluruh Negeri. Pertanda akan dimulainya sebuah hajat besar yang dipenuhi serumpun suka cita. Bagaikan idul fitri bagi seorang muslim, bulan Agustus selalu disambut spesial oleh bangsa ini. Mengapa demikian ? karena di bulan inilah, tercatat dengan tinta emas bahwa bumi pertiwi telah merdeka. “tujuh belas agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita......” sepotong lirik sarat heroik, sangat familiar dari anak SD hingga orangtua.

Sebuah kenangan manis yang mengusik diri, masih tergambar dalam memori. Bapak  dengan semangat membawaku ke alun-alun kota, kadang saya mengekor sambil berlenggang jalan, namun terkadang digendongnya karena harus mengejar Jampana yang dipenuhi hiasan serba lucu. “Nak, jalannya harus cepet-cepet atuh. Biar ga ketinggalan arak-arakan”. Saya hanya bisa mengaduh, karena merasa sudah cepat juga dalam berjalan, mengikuti rombongan orang dewasa. Maklum tubuh ini masih mungil dan belum kuat untuk menyamakan diri dengan para orang tua. Dan biasanya Bapak sudah paham, serta merta beliau jongkok dan memberi kode agar saya naik ke punggungnya.

Jampana yang dimaksud adalah sebuah miniatur bangunan, bisa berupa rumah, masjid atau bangunan unik lainnya. Ke empat ujungnya ditandu menggunakan kayu. Setiap sisinya dihiasi warna dominan merah dan putih yang merupakan bendera Indonesia. Hiasan begitu semarak dan mencolok. Ada yang menggunakan sayur mayur, buah-buahan ataupun penganan khas kampung, Pokoknya dibikin unik dan lucu abis. Sementara bagian dalamnya, beberapa makanan berat dan biasanya akan disantap bareng setelah acara usai. Tak jarang jampana-jampana ini dijadikan bahan kompetisi oleh pihak kecamatan, sehingga nanti terpilih sebagai  jampana terunik atau terbaik.

Selepas acara yang terkonsentrasi di alun-alun kecamatan, momen kirab ke jalanan begitu meriah. Hal yang menjadi perhatian saya kala itu adalah, iring-iringan marching band dengan seragamnya yang khas. Kepiawaian yang disuguhkan peserta, sempat membuat hati ini bergumam, “kalau sudah besar, saya harus bisa seperti itu”. Biasanya rombongan marching band menempati urutan terdepan dalam kirab. Mengekor di belakangnya, anak-anak berbusana daerah dari seluruh Indonesia. Hadir juga sepasang tua renta lengkap dengan kebiasaan nenek dan kakek. Nenek menggendong bawaan dengan selendang kainnya, sementara kakek dengan pakaian serba hitam, memegang cerutu dan tongkat. Padahal sebenarnya sepasang renta ini adalah, dua pria muda yang dihias seperti itu sekedar ikut memeriahkan. Rombongan jampana yang dihias dan berjejer selama upacara pun, tak lupa mengiringi rombongan tersebut.

Banyak kenangan indah yang mengisi kisi-kisi hati ini dalam memaknai hari kemerdekaan. Semua berisi sebuah kegembiraan, luapan suka cita dan bermakna hiburan. Dan semua cerita itu, sepertinya sudah ditelan zaman. Kini tak ada lagi arak-arakan mengiring jampana. Tak terlihat lagi hiasan pete atau jengkol yang menghiasi bangunan miniatur itu. Tak dijumpai lagi, orang berebut makanan seusai menunggu upacara dibawah teriknya matahari. Kali ini, masyarakat sudah tak mau lagi ikut berpanas-panasan hanya melihat upacara bendera. Hiburan rakyatpun berubah, tergantikan dengan musik kekinian dengan mengundang biduan dangdut atau pesanan warganya. Walaupun tak dipungkiri masih ada juga yang sengaja mengundang ustadz terbaik. Dan  pas acara jamaahnya hanyalah kaum tua dan panitia. Kalaupun mau banyak yang hadir, maka panitia harus berani mengundang ustadz tenar bak selebritis, syukur-syukur sering nongol di layar kaca.
              
Hal lain yang terlupakan adalah, pemasangan bendera merah putih. Semasa belia yang saya lihat, semua rumah sejak masuk tanggal satu saja, sudah ramai memasang bendera. Aparat desa cukup memberi komando, maka warga dengan senang hati memasang bendera dibarengi sentuhan-sentuhan lain agar bendera terasa unik dan menarik. Memang tidak dipungkiri, sekarang juga masih ada masyarakat yang melakukan hal yang serupa. Hanya saja saya merasa kesakralan yang terungkap rada beda. Entah karena orang tua dulu ada yang ngalamin merebutkan kemerdekaan atau ada alasan lain. Yang jelas, terbersit dalam ingatan kalau bapak seperti menghormati benar ketika memasang bendera ini. Aura sakralnya terasa, sorotan matanya membangkitkan hubbul wathon  yang dalam. Sambi melakukan aktifitas ini, bapak menceritakan arti dari warna bendera, sejarah bendera dan cerita masa kecil ketika awal-awal meraih kemerdekaan.
           
Kemeriahan tujuh belasan yang masih ada dari dulu sampai sekarang, adalah perlombaannya. Panjat pinang sudah tentu ada tiap RT atau RW, walaupun saat ini bukan dari pohon pinang medianya. Tapi telah diganti dengn bambu sehubungan langkanya pohon pinang, apalagi di daerah perkotaan. Ada juga balap makan kerupuk, masukkin benang, membawa kelereng di sendok, balap karung, mengambil koin dengan mulut yang diselipin pada buah jeruk bali dengan tangan peserta diikat ke belakang, dan masih  masih banyak game yang sangat jadi kenangan. Hari ini, aneka lomba itu masih bertahan, dengan alasan kesenangan demi memeperingati hari kemerdekaan.
             
Kerlap-kerlip lampu plip-plop di sepanjang jalan, begitu marak kita jumpai saat ini. Demi merayakan pesta tahunan ini, masyarakat rela menambah aliran listriknya. Seolah melupakan kalau biaya PLN saat ini terasa mencekik karena TDL yang terus merangkak naik. Mau meramu jalanan dengan lamu obor seperti dulupun, sangat tidak memungkinkan, karena minyak tanah yang sudah dicabut subsidinya itu, menjadi barang mahal saat ini. Apalagi pas malam 17 atau 18 agustus, pemandangan di langit dipenuhi pesta kembang api di setiap sudut kota. Peringatan seperti ini, apakah termasuk refleksi kemerdekaan yang sesungguhnya?  Jelas bahwa semua ini hanya kesenangan semata. Euforia di tengah peringatan kemerdekaan telah mengaburkan makna kemerdekaan itu sendiri.
            
Kalau kita tarik mundur ke belakang, di era 80’an atau  90’an, karena kalau di era sebelum itu penulis belum ada. Hanya sudah tentu dapat disimpulkan bahwa syahdunya HUT RI masih kental terasa. Di malam 17-an, masih gampang ditemui jamaah masjid berkumpul untuk berdoa yang dibarengi rasa syukur atas nikmat kebebasan ini. Sehingga tak jarang banyak jamaah yang menitikkan air mata, kala diceritakan bagaimana perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan ini. Banyak cerita orang tua dulu, bagaimana heroiknya mereka ikut bergabung dengan pejuang dalam menumpas penjajahan. Dan uniknya, karena bangsa ini mayoritas muslim kala itu. Maka gema takbir “ALLAHU AKBAR” selalu hadir menyelingi kata “MERDEKA”. Sudah bukan rahasia lagi, dalam setiap literatur, kalau perjuangan dahulu sangat berisi ruh keislaman. Sehingga tak heran gelora juang yang mereka taruhkan berupa nyawa dan harta, tapi dalam pembukaan Undang-undang 1945 terukir cantik tulisan “Berkat Rahmat Allah.......”. ini sepenggal kalimat penuh makna syukur, sarat akan rasa ikhlas dari para pahlawan.
             
Di usia 71 tahun merdeka, bangsa ini malah disibukkan dengan isu-isu yang menelisik  ruh kemerdekaan yakni terbebas dari campur tangan negara lain. Hari ini, kita didera isu dengan adanya pejabat menteri yang memiliki dwi kewarga negaraan. Sangat disayangkan kalau isu ini benar adanya. Sehingga jiwa kecintaan terhadap negara masih bisa diragukan. Belum lagi isu berbondong-bondongnya warga Tiongkok yang mulai merambah lapangan kerja. Ironi dan menyakitkan, tatkala banyak pengangguran di negeri ini, tapi harus didatangkan orang luar untuk menempati lapangan usaha ini.
            Tak ada kata yang indah dari dulu, kini dan masa datang, yakni MERDEKA. 

(Tiesna)         

Betulkah Kemiskinan Menurun?

sumber : google

pksbandungkota.com - Itulah salah satu pertanyaan yang dilontarkan peserta reses Anggota DPR RI Ledia Hanifa di Madrasah Al-hidayah Kelurahan Sukabungah Kecamatan Sukajadi, Jum'at 12 Agustus 2016. Pertanyaan ini muncul terkait dengan pernyataan Presiden yang menyatakan daya beli masyarakat turun, bukankah dengan turunnya daya beli masyarakat yang terjadi sebaliknya yaitu kemiskinan meningkat. Reses yang dilakukan didampingi oleh Anggota DPRD Kota Bandung dari Dapil 1 Endrizal Nazar, memaparkan beberapa program pemerintah yang merupakan mitra kerja Komisi 8 dimana Ledia Hanifa menjadi salah seorang Wakil Ketua Komisi. Program tersebut antara lain meningkatnya alokasi peserta program keluarga harapan dari 3,5 juta menjadi 6 juta pada tahun 2016 ini.  
 Ledia berharap program ini bisa mengurangi angka kemiskinan. Dalam penjelasannya menanggapi pertanyaan peserta reses di atas Ledia mengungkapkan memang seharusnya dengan penurunan daya beli, angka kemiskinan meningkat. Disamping itu Ledia juga menjelaskan kalau ada data warga miskin yang tidak sesuai (sudah meninggal atau sudah tidak miskin lagi) maka berdasarkan musyawarah warga dengan aparatur kewilayahan (Kelurahan) bisa dilakukan usulan perbaikan data warga miskin, sehingga penerima bantuan yang diperuntukkan bagi warga miskin tepat sasaran. Berkaitan dengan upaya mengurangi angka kemiskinan Endrizal menambahkan Pemerintah Kota Bandung juga menggulirkan Program Kredit Melati untuk bantuan permodalan tanpa bunga dan tanpa anggunan. Program ini hanya bisa diakses secara berkelompok untuk mengantisipasi kredit macet (tanggung renteng antar anggota). Selain itu ada juga program pelatihan yang dikelola oleh beberapa SKPD pemkot disamping juga bisa diusulkan melalui Program PIPPK yang alokasi anggarannya diperuntukkan bagi RW, PKK Kelurahan, Karang Taruna Kelurahan dan LPM Kelurahan. Reses ini juga dihadiri oleh Lurah Sukabungah serta tokoh masyarakat di RW 2. (ishma)

Kado Kemerdekaan : Apa Kabar Indonesia?

Written By Ipah umu Abiba on Selasa, 16 Agustus 2016 | 17.55


sumber : Google

Teringat kala SD, kebagian tugas membacakan Pembukaan UUD 1945. Langkah tegap dan sigap membuka map, lalu dibentangkan ke depan dengan penuh semangat membacanya. Kalimat yang melekat di kepala sampai remaja, bahkan dewasa sampai hari ini adalah, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan”. 

Kalimat dari alinea awal tersebut, bukan dibuat kebetulan dan main-main. Pendiri bangsa ini sudah betul-betul memusyawarahkan sehingga keluar kalimat yang membuat merinding ini. Saya sih membayangkan bahwa panitia 9 yang dibentuk BPUPKI ini, yang 8 orang diantaranya adalah muslim yang shalih, mereka selalu meminta petunjuk pada Allah agar dimudahkan dalam membentuk susunan kalimat yang bukan sekedar rangkaian kata-kata biasa, tapi kalimat sarat makna karena ke depannya akan dijadikan sebuah Konstitusi sebuah Negara yaitu INDONESIA. 

Tatapan mata belia saya, ditambah gelora jiwa yang membahana kala upacara itu, serasa memiliki ruh dalam membacakannya. Pesan yang disampaikan yang menambah nilai sakral sebuah kebiasaan yang namanya Upacara Bendera tiap hari senin, sepertinya menuai sedih di hari ini.  Hari ini negeri tercinta bagai tak sanggup mewujudkan kalimat sakti yang tercantum di Muqadimah UUD 1945, yang asalnya merupakan Piagam Jakarta ini. Penjajajahan diatas dunia yang harus dihapuskan, agaknya bagai selogan belaka. Karena sesungguhnya kita seperti digiring untuk mewujudkan daerah jajahan asing lagi. 

Berita di berbagai media tak bisa dipungkiri, kalau ternyata jengkalan tanah yang diperjuangkan oleh pahlawan bangsa ini akan tergadai kepada cukong-cukong asing yang diberikan keleluasaan oleh sang Raja. Perjuangan dan tumpahan darah dalam nuansa merebut kemerdekaan, sepertinya hanya ada dalam pelajaran sejarah di sekolah - sekolah. Ironis dan Pragmatis. 

Usia merdeka bumi pertiwi yang ke-71, sejatinya belum sepenuhnya terbebas dari penjajahan. Problematika bangsa yang beraneka wajah, seolah berlomba menghampiri dan menyatu dalam sebuah keterpurukan. Bukan hanya melulu ekonomi, tapi negeri ini sedang mengalami krisis di segala lini. Tengok saja dalam setahun terakhir ini, berbagai masalah muncul menghiasi layar kaca. Kasus pemerkosaan Yuyun hingga tewas, benar-benar mengoyak hati para orang tua. Was-was dan rasa takut yang membayangi para ibu, senantiasa membayangi dalam pikiran. Belum lagi masalah LGBT yang selalu menarik dibicarakan, hal ini juga membuat ngilu tak terperikan bagi insan-insan yang memegang teguh norma Agama. 

Kaum remaja masa kini, dengan gaya yang memperihatinkan adalah buah dari penjajahan asing uang selama ini tidak kita sadari. Kalaulah dulu, mereka terang-terangan mengeruk hasil alam dan mendudukinya secara lahiriah, tapi penjajah masa kini menelusup masuk ke ruang-ruang pribadi yang bernama televisi. Tayangan sinetron yang menjual gaya hedonisme yang diperjuangkan kaum sekuler, telah mendapatkan tempat di hati kawula muda. Di kalangan Netizen, kita dikagetkan dengan sosok Awkarin yang telah menjelma menjadi idola para remaja.  Menjadi idola bukan karena sosoknya sebagai gadis ceria berhijab yang tinggal di kepulauan Riau dengan prestasi luar biasa dengan Nem tertinggi yang rata-rata nilainya 9,5.  Tapi Awkarin telah menjadi sosok terkenal dan fenomenal justru setelah terperosok ke dunia sekarang, yang jauh ketiak 3 tahun lalu berprestasi. Disini saya tak akan membahas jauh tentang gadis ini, silahkan deh cari sendiri. Hanya yang menjadi perhatian, betapa rapuhnya moral bangsa ini yang sangat gampang terpengaruh dunia luar. 

Siapa yang harus dipersalahakan ? Yang jelas jangan sampai menyalahkan pendahulu bangsa ini, yang telah bersusah payah ingin menjadi bangsa beradab dan disegani di mata dunia. Banyak elemen yang harus bersatu padu untuk menyelamatkan negeri tercinta ini. Keluarga dan orang tua yang sangat punya peranan sentral dalam  melahirkan pribadi tangguh di masa datang, betul-betul harus kembali pada tatanan nilai dan norma Agama yang serasa kendur selama ini. Setelah keluarga barulah peran sekolah yang membawa anak terbentuk menjadi teladan dalam kehidupannya. Ini betul-betul harus menyatu, karena lingkungan kondusif di sekolah tapi situasi rumah yang carut marut, maka akan terjadi ketimpangan. 

Sangat banyak problematika negara ini, selain ekonomi dan akhlak remaja, kedaan suhu politik kita cenderung carut marut. Pergantian para penguasa, otomatis selalu mengubah kebijakan yang ada sebelumnya sehingga rakyatlah yang merasa kebingungan. Nah, apakah ini kado kemerdekaan yang ke-71 tahun ini ?
DIRGAHAYU NEGERIKU, DIRGAHAYU BANGSAKU. 
(Tiesna)
 
Support :

Tim Media DPD PKS Kota Bandung Jalan Brigjen Katamso no. 17 Phone: 022-7208303 / 7237260 - Redaksi menerima tulisan, opini, agenda dan Foto kegiatan - Kirim ke humas.pksbdg@gmail.com