Latest Post

Sepatu dan Penumbuhan Karakter Anak

Written By alimoel soekarno on Sabtu, 28 Mei 2016 | 14.25



Satu kali, seorang teman bercerita bagaimana anaknya yang kelas empat SD pulang Sekolah dengan wajah cemberut. Selidik punya selidik, ternyata ia dihukum guru kelasnya dengan membersihkan kamar mandi sekolah. Bukan masalah hukuman dan bersih-bersih kamar mandi yang menjadi masalah bagi teman saya ini, tetapi sebab dijatuhkannya hukuman yang membuat dirinya galau. Menurut cerita putrinya yang suka Matematika itu, Ia dihukum karena meletakan sepatu tidak rapi. Padahal menurut pengakuan putrinya, ia telah meletakan sepatu dengan rapi berjejer seperti sepatu-sepatu yang lain. Sampai di sini, masalah belum dianggap terlalu serius, karena bisa saja putrinya lupa atau kurang teliti saat meletakan sepatu. Nah, yang jadi masalah serius justru setelah putrinya bilang bahwa sepatu itu bisa jadi kesenggol atau ketendang orang lain, baik teman-temannya atau bahkan guru-guru. Kenapa bisa begitu, karena sepatu-sepatu itu diletakan begitu saja di bawah teras depan kelas tanpa wadah khusus atau tempat sepatu yang biasanya ada.
Setelah mengetahui duduk masalahnya, bahwa tidak ada rak sepatu di kelas itu, Teman saya ini memastikan esok harinya melihat kekelas putrinya,  dan memang benar kelas itu tidak ada tempat sepatunya. Itulah yang membuat kegalauan dirinya bertambah-tambah. “Bagaimana mungkin ada aturan buka sepatu masuk kekelas dan murid-murid diminta merapikan sepatu tetapi tidak ada tempat sepatunya. Ajaib sekali.. ”Begitu selorohnya. Ia berniat menyampaikan masalah ini ke kepala sekolah.  Namun sebelum keesokan harinya ia menghadap ke kepala sekolah, teman saya ini telah membawa rak sepatu plastik yang akan diserahkan untuk kelas putrinya itu. Hebat.
Bukan cuma itu cerita tentang sepatu seperti dialami Teman saya sebenarnya. Masalah sepatu pernah pula menjadi obrolan santai saya dengan Teman saya yang lain, seorang praktisi pendidikan pada satu kunjungan kesekolah. Pendapatnya ini menurut saya malah agak ‘ekstrim’ karena ia berseberangan dengan kebanyakan aturan yang sudah dan sedang diterapkan sekolah-sekolah,  sekolah Islam khususnya. Yakni, membuka sepatu ketika masuk ke kelas. Teman saya yang ini, tidak sepakat dengan aturan itu, bahwa murid harus membuka sepatu saat masuk kelas.
“Apa tujuan aturan itu..? apakah agar kelas terjaga kebersihannya atau apa..? Apakah ada manfaatnya untuk kehidupannya kedepan secara pribadi atau bermasyarakat..?”  saya hanya diam sambil senyum kaku tak tahu harus jawab apa. Karena saya tahu ia sedang mempertanyakan kebijakan umum yang juga saya terapkan di sekolah di mana saya mengajar. Pertanyaan itu masih menggantung saat kami berjalan menuju mini market untuk membeli minuman. Dan lagi-lagi ia dapati anak-anak membuka sepatu saat masuk ke mini market. Dan ia melanjutkan ungkapan ketidaksetujuannya melihat fenomena itu.
“Bukankah malah akan bermasalah secara penumbuhan karakter anak jika begini kondisinya. Kitakan mengajarkan mereka supaya siap menghadapi kehidupan sesungguhnya di luar sana, agar mereka bisa survive dan berprestasi.  Mereka dipersiapkan untuk menghadapi kondisi sesungguhnya dari beragam kondisi, model dan aturan. Kalau di sekolah diajarkan buka sepatu saat masuk masjid, maka di manapun di luar lingkungan sekolah kebiasaan itu harus terus dilakukan. Tidak boleh tidak. Tetapi kalau kita ajarkan buka sepatu saat masuk kelas, apalagi masuk mini market, apakah saat ia kuliah nanti akan buka sepatu saat masuk ruang kuliah atau buka sepatu juga saat masuk mini market di luar lingkungan sekolah..??? ”Suaranya mulai meninggi dengan tekanan kuat di sana sini.
Saya masih terdiam sambil pasang ekspresi khusuk mendengarkan. Tapi dalam hati saya membenarkan juga apa yang diungkapkannya. Lalu saya katakan bahwa, aturan buka sepatu kebanyakan bertujuan agar ruang kelas terjaga kebersihannya, dan agar murid-murid nyaman saat belajar. Tapi teman saya menambahkan, jika memang tujuannya untuk kebersihan dan kenyamanan kelas sebagai tempat belajar ,maka libatkan murid-murid, bantu mereka buat satu aturan untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan kelas tanpa harus buka sepatu. Justru itu bisa sebagai model langsung bagaimana mereka berlatih menjaga kebersihan. Masih dimaklumi jika tanah di lingkungan sekolah becek dan kotor, apalagi saat hujan, tetapi sekolah yang sudah beraspal atau tidak ada jalan becek kenapa harus buka sepatu?
Saya pikir sebagai bahan pertimbangan kedepan, mungkin ada benarnya juga ungkapan teman saya itu didalami untuk mendapat formula yang tepat bagi tumbuh kembang murid-murid kedepannya.  Tapi Saya sendiri belum bisa mengambil kesimpulan dari obrolan itu. Untuk sementara saya masih menganut mazhab kondisional. Artinya, jika belum memungkinkan memakai sepatu, maka buka sepatu sebagai solusinya karena ada kepentingan yang lebih prioritas, yakni kebersihan dan kenyamanan ruang kelas. Namun jika –pun murid-murid harus buka sepatu, seharusnya disiapkan juga rak sepatu yang proporsional, agar kerapihan dan ketertiban bisa diterapkan.
Terlepas dari membuka atau memakai sepatu kedalam ruangan ,kerapihan dan ketertiban lingkungan menjadi hal mendasar.  Bukan hanya di sekolah tetapi tempat-tempat lain harus memperhatikan masalah itu.Terlebih Masjid sebagai tempat ibadah dan markas dawah sebagai pusat kegiatan dawah, harus ekstra memperhatikan kerapihan dan ketertibansepatu dan sandal yang berserakan… apalagi sudah disediakan rak sepatu untuk kebutuhan itu. Sayang dan mubazir jika tidak digunakan.

(inspirasi: saat berkunjung ke markas dawah DPD PKS Kota Bandung)

Dwi Fahrial
Dago, 20 Mei 2016







Realisasi Anggaran Dinas Sosial?

Written By Hafizhotunnisa Ishmatullah on Jumat, 27 Mei 2016 | 10.59

Senin (23/5) dilaksanakan Rapat Kerja Komisi D. Rapat dipimpin oleh Ir. Endrizal Nazar selaku Wakil Ketua Komisi D. Agenda pembahasan rapat mengenai Realisasi Anggaran Tahun 2016 oleh Dinas Sosial (Dinsos). Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) memberikan pelaporan realisasi anggaran dan memaparkan prosentasi anggaran per program di Dinsos. Berdasarkan data keseluruhan baru 3.30% yang terserap dari realisasi anggaran. Menurut Kadinsos rendahnya serapan anggaran ini disebabkan proses lelang pembangunan Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) yang menyerap anggaran paling besar baru mau dilaksanakan, disamping itu ada beberapa pekerjaan yang sudah dilaksanakan tapi belum dibayar. Namun, Dinsos meminta penambahan anggaran untuk perencanaan interior Puskesos, peningkatan kapasitas operator pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), penanganan orang terlantar, dan lain-lain. Sebagai penutup Endrizal meminta kepada Dinsos agar anggaran berbanding lurus dengan kualitas kinerja.

Gedung Sabuga Nyaris Runtuh


aher di Sabuga

Gemuruh tiga ribuan suara "Sayaaa..." seakan  gedung Sasana Budaya Ganesa nyaris runtuh, Ahad siang (24/Mei), menyahut  tantangan Gubernur Akhmad Heryawan ketika melontarkan  pertanyaan "Siapa yang ingin kaya?" disambung "Siapa yang ingin takwa?" "Siapa ingin keduanya?".

Aher demikian panggilan akrab Gubernur Jabar seolah menyangsikan keinginan menjadi kaya hadirin yang mayoritas pelaku bisnis, karena awal pertanyaan direspon suara tipis. Baru setelah diulang ketiga kali dengan dipompa lebih dimotivasi, kompak dijawab ‘Sayaa..’ dengan histeris. Sehingga tak menjadi heran tatkala kunjungan ke berbagai sekolah melontarkan pertanyaan siapa yang bercita-cita jadi pedagang tak ada yang tunjuk tangan. Cara bertanya diubah bahwa pintu rejeki yang paling disukai Allah itu ada pada pedagang, barulah anak-anak bersemangat  merespon.
 
Tak memiliki cita-cita berbisnis inilah salah satu penyebab Indonesia yang kaya sumber daya alamnya menjadi negara yang tergolong miskin. Semua bahan mentah diborong negara luar dengan harga sangat murah dan ketika telah diberi nilai tambah dijual lagi ke Indonesia dengan harga sangat wahh.. "Betapa ini semua harus disadari kita semua, agar denyut nadi ekonomi lebih kencang lagi dan terbuka banyak lapangan kerja", demikian dia menggugah  hadirin dan memotivasi agar berlomba menjadi pengusaha.

Gubernur  yang sarat penghargaan ini mengatakan bahwa  pedagang  yang baik dipuji dengan kata Mabrur. Maka dia mengajak hadirin untuk senantiasa  berdoa bagi diri sendiri dan orang lain yang sedang menata bisnis agar mabrur. Ditambahkan  agar tak lupa memanjatkan doa  "Robbana atinaa fii dunya hasanah wa fii akhiroti khasanah waqinaa adzaabannaar, seperti yang didawamkan Rasulullah dalam kesehariannya. Karena orang kaya jika bertakwa mampu berbuat banyak untuk sesama,  zakat  yang dikeluarkan luar biasa besarnya, maka surga pun bisa diraih orang kaya.

Ternyata kail Aher mengena pada  salah satu hadirin, penerima doorprize buku Sukses Membangun Bisnis dengan Grounded Strategy diacara itu. Ali Akbar yang kader PKS dari Gedebage  dengan jujur mengakui tambah termotivasi  setelah mendengar sambutan  dari  Gubernurnya, untuk melejitkan  bisnis kaosnya yang telah dirintis sejak dibangku kuliah.  Dia optimis bisa meningkat  kekelas  pebisnis  yang lebih tinggi lagi. Menjadi kaya bisa jadi keniscayaan jika usaha sudah maksimal ditempuh dibarengi dengan tidak melanggar rambu-rambu syariah dan sungguh-sungguh berdoa seperti yang dicontohkan Rasul, didawamkan harian.
(Frieda Kustantina)

Mana Ekspresinya?

Written By ipah umu Abiba on Kamis, 26 Mei 2016 | 09.36


ilustrasi


Pembaca setia…! Sudahkah Anda mencoba menghitung, seberapa sering Anda menyambut buah hati dengan wajah sumringah, dengan senyuman yang penuh gairah, dengan canda tawa yang mencerahkan? Atau singkatnya, seberapa sering Anda menyambut buah hati dengan kadar 100 persen?
Sebaliknya, seberapa sering Anda membiarkan buah hati berdiam diri? Seberapa sering Anda menomorduakannya? Seberapa sering pula Anda lebih memprioritaskan objek lain sementara buah hati Anda berceloteh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tanpa jawaban?
Ayah dan bunda yang berbahagia. Sesibuk apapun Anda, sepadat apapun agenda Anda dalam setiap harinya, seberapa diperlukan pun Anda oleh publik, status Anda yang paling hakiki sebetulnya adalah sebagai AYAH dan sebagai BUNDA. Dan keberadaan Anda bagi mereka (anak-anak) tak dapat tergantikan dengan benda secanggih dan semahal apapun. Karena mereka butuh nyawa, mereka butuh kehangatan, mereka butuh penerimaan, mereka butuh pengakuan, mereka butuh penyambutan yang ekspresif.
Ingatlah para ayah dan bunda. Mengekspresikan sikap terbaik, menyambut mereka dengan hangat, bersicakap tentang pegalaman-pengalaman mereka, adalah bagian penting dari upaya Anda dalam membangun kebrilianan otak mereka. Dan jangan pernah meremehkan bahwa suatu saat kemudian mereka akan kehilangan berbagai kemungkinan yang seharusnya mereka miliki sampai waktu yang tak terbatas, hanya gara-gara Anda yang kurang memberi perhatian. Dan berbagai kemungkinan yang berpotensi hilang itu adalah;
·         Sensitivitas
·         Kepercayaan diri
·         Kehangatan dan kesantunan
·         Mental-mental positif (optimisme, sudut pandang yang benar, dll)
Jadi, jangan pernah menyalahkan buah hati Anda bila pada suatu saat mereka menunjukkan perilaku-perilaku aneh seperti;
·         Menghindar dari lingkungan
·         Merasa takut terhadap orang dewasa
·         Kaku dan tidak memiliki sense of humor
·         Judes alias kurang ramah
·         Tidak berani tampil
·         Hampir tidak memiliki kepekaan sehingga tidak care terhadap masalah orang lain
Naaah, bila merenungi akibatnya seperti pada contoh diatas, sangat miris sebetulnya. Bahkan ada sebuah pengalaman nyata yang sagat ironis, dimana ada seorang anak yang sampai pada kondisi tidak dapat bicara sama sekali. Padahal anak tersebut begitu cerdas dan memahami hampir semua interuksi. Dan hanya karena ayahnya yang terlanjur MALAS untuk mengajaknya ngobrol, untuk membujuknya, untuk meraihnya dengan kehangatan, jadilah si anak manis itu tak mampu berbicara.
Untuk itu, bagi Anda yang sudah kadung melakukan “maal pengasuhan” atau bagi Anda yang baru akan punya momongan, saya hadirkan beberapa tips tentang bagaimana caranya menjadi orang tua yang ekspresif.
1.      Dengarkan dengan seksama ketika buah hati Anda bertutur tentang pengalaman dirinya atau tentang hal lain.
2.      Apresiasi penuturan mereka dengan kalimat yang membangun dan disertai dengan mimik muka yang bersahabat.
3.      Hindari memotong pembicaraan tanpa meminta izin dengan baik
4.      Hinadri men-judge terhadap penuturannya yang Anda nilai tidak benar.
5.      Perhatikan pandangan mata. Mata adalah organ sempurna yang diciptakan Allah SWT sebagai media unik yang multiguna dan multitafsir. Tatapan terbaik Anda, adalah cermin sikap terbaik Anda. Sebaliknya, satu kali saja Anda memberikan tatapan yang tidak bersahabat, maka memori otak Anda langsung merekamnya sebagai sebuah pengalaman buruk yang begitu menyakitkan.
6.      Ciptakan cara memberi hadiah yang paling unik, bukan memprioritaskan isi hadiahnya (mahal atau tidak, ber-merk atau tidak, canggih atau tidak, dll). Singkatnya, sesederhana apapun benda yang Anda hadiahkan,  akan memberikan makna yang luar biasa bila diberikan dengan cara yang dramatis, yang terekspresikan dan jauh dari sikap-sikap datar.
7.      Berikan sesuatu tanpa diminta. Artinya, coba sesekali Anda ubah konteks. Bila biasanya buah hati Anda menginginkan sesuatu sampai menangis, memaksa-makasa, atau bahkan mengamuk, pada lain kesempatan Anda mencoba memberi sesuatu tanpa harus didahului oleh tangisan atau amukan mereka.
Tidak ada yang sulit bila sudah menjadi habits. Tidak ada yang sukar bila karakter-karakter positif itu sudah mengakar. Maka tidak ada alasan bagi Anda untuk berpikir tidak bisa menjadi orang tua yang ekspresif. Bahkan, ketika Anda sudah terlajur divonis sebagai manusia yang berkecederungan otak kiri sekalipun, dimana lebih banyak diam dan lebih banyak bergelut dengan angka, Anda bisa menjadi luar biasa.
Ingat, ekspresi Anda, kehangatan Anda, orkrestrasi antara mata, tangan, wajah dan hati Anda adalah wujud penyikapan terbaik pada otak mereka. Mengapa demikian, karena salah satu bagian otak buah hati Anda adalah otak tengah. Bagian tengah otak seorang manusia adalah bagian EMOSIONAL. Maka akan matilah lampu otak anak ketika ia seringkali dituding, diancam, dimuntahi kata-kata negatif, dipermalukan, diperlakukan kasar dan disiksa, serta dibiarkan tanpa sapaan dan penyambutan. Selanjutnya, maal pengasuhan, maal pedagogik, dan apapun istilahnya, adalah faktor pemicu kerusakan pada otak anak. Oleh karena itulah, jangan sampai Anda didera oleh pertanyaan; “mana ekspresinya…?”
Semoga bermanfaat. Allohu’alam bish showaab. (Miarti)

Aleg PKS Mendengar

Written By ipah umu Abiba on Rabu, 25 Mei 2016 | 21.53

Berita kabar rapor warga di salah satu koran

Pksbandungkota.com - Beberapa waktu lalu, walikota Bandung yang biasa dipanggil Kang Emil. Beliau membuat program bernama 'Rapor Warga' dimana setiap warga diberikan poin oleh pemerintah.

Hal ini memberikan banyak pro kontra dikalangan masyarakat. Dan alhamdulillah Pak Tedy Rusmawan menerima masukan dari beberapa RT di Bandung di salah satu akun sosmed nya. Berikut adalah percakapannya.

Percakapan aleg bersama warga
Ke depannya, diharapkan warga proaktif lagi untuk memberikan masukan nya demi pemerintahan lebih baik dan juga jangan ragu untuk berpendapat.
Semoga amanah ini dapat di laksanakan sebaik mungkin dengan penuh rasa tanggung jawab. (Ipah)

Pemandangan Indah di Al Muttaqien Gedung Sate

Kondisi saat shalat Dhuhur di Al Muttaqien

Pksbandungkota.com - Senin (23/5) adalah hari awal dimana rutinitas kerja kembali menjadi kawan setelah menikmati hari bersama orang yang dicinta di dua hari libur sebelumnya.

Bandung adalah salah satu kota di Indonesia yang mempunyai daya tarik wisata yang tak kalah dengan kota lain nya. Salah satu daya tarik itu adalah kantor pemerintahan gubernur jawa barat. Dimana aher melakukan tugas nya bersama Deddy Mizwar sang partner. Itulah Gedung Sate, bagi kebanyakan orang yang belum tahu tentang gedung ini. Mereka berfikir bahwa itu merupakan gedung dibuatnya sate. Mengingat d puncak menara terdapat benda yang mirip dengan tusukan sate.

Didalam komplek gedung ini, terdapat suatu bangunan baru yang menjadi wajah baru bagi pemerintahan Aher. Disana terdapat bangunan yang mempertemukan baik gubernur, wakil gubernur, pegawai pemerintahan, satpam, office boy bahkan warga bandung.

Pemandangan yang sebenarnya jarang terlihat di kantor pemerintahan lainnya. Berbondong-bondong orang menjawab seruan Rabb nya dengan penuh senyum sapa antar satu sama lain.

Begitu banyak yang memilih untuk menggunakan waktu istirahatnya untuk menyelesaikan pekerjaan nya atau makan siang untuk penghilang lapar. Namun tidak dengan civitas gedung sate.

Baik atasan ataupun bawahan, bersatu membentuk shaff rapi. Menundukkan kepala dan ego masing-masing untuk bertemu dan memohon ampun pada Rabb nya.

Terima kasih bapak ibu telah memberikan teladan baik pada kami warga Bandung, semoga segala urusan di gedung pemerintahan kejabaran selalu diberikan kemudahan dan kelancaran. (Ipah)


Channel Hiburan Bagi Anak-Anak Mati ditelan Rating

Written By ipah umu Abiba on Senin, 23 Mei 2016 | 11.33

Sumber : google

Pksbandungkota.com - Teknologi setiap harinya menawarkan berbagai hiburan dan interaksi yang baru. Bahkan ada orang yang begitu rela menjual anaknya sendiri demi memenuhi hasrat nya sendiri.

Bahkan sekarang orang tua merasa aneh jika tidak memberi anaknya gadget. Hingga akhirnya seisi rumah menjadi hening nampak tak berpenghuni. Padahal banyak orang didalamnya. Namun sayangnya mereka sibuk dengan gadget masing-masing.

Tahukah jika sekarang banyak tontonan yang bisa diakses oleh anak-anak? Bahkan tontonan yang seharusnya tak mereka tonton pun bisa mereka akses dengan mudah.

Wifi sudah tersebar di mana-mana, provider sudah menyediakan paket internet dengan berbagai harga dan kuota.

Bahkan kini tayangan pun dibuat sesuai rating, jika rating bagus maka episode diperpanjang, muncul pemain baru ditengah cerita. Tapi apakah makna nya bertambah?

Nampaknya ini menjadi peer kita bersama untuk bisa menghindari channel yang akan merusak otak anak kita. Akan lebih solutif lagi jika para pembuat film dan pecinta video bisa memberikan tontonan yang menyenangkan namun sarat makna.

Masa depan anak bangsa lebih berharga dibandingkan sebuah rating. Karena seorang bijak mengatakan bahwa pintu kebaikan akan membukakan kebaikan yang lain. Begitupun dengan sebaliknya.
(ipah)

RKI : Solusi Bagi Ibu Kota Bandung

Kegiatan RKI di Andir

pksbandungkota.com - Sahabat, RKI Sekolah Ibu Kota Bandung telah sekian tahun menjadi sarana berkhidmat untuk penguatan, pemberdayaan ibu, anak, remaja dan ketahanan keluarga.

Alhamdulillah kiprah khidmat Sekolah Ibu kini terdokumentasi dan hadir di Facebook dengan nama fanpage: *RKI Sekolah Ibu Bandung* pada link berikut: https://www.facebook.com/rkisekolahibu

Harapan ke depannya, sekolah ibu Bandung ini bisa menjadi sarana bagi para ibu baik yang bekerja atau fokus rumah tangga. Agar bisa menjadi agen penguat ketahanan keluarga masing-masing.

Yuk para ibu, seperti apa kata Kiki Barkiah seorang pakar parenting, bahwa 'wanita harus menjaga kewarasannya'. Berkumpul dengan sesama ibu dalam kegiatan positif akan menimbulkan hal positif. (Ipah)

WAHAI ENTREPREUNER BERKACALAH PADA UMAR BIN ABDUL AZIZ

Ilustrasi

Pksbandungkota.com - “Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah di masa Bani Umayah yang memerintah selama tiga tahun namun dalam masa sejenak itu telah membuat negerinya kehilangan penerima zakat. Negara aman sejahtera dan rakyatnya menjadi para muzaki” itulah yang saya tangkap hari kemaren melalui mulut kang Aher, gubernur Jawa Barat di acara Bandung Entrepreuners day 2016.
Nah loh, apa hubungannya seorang khalifah dan Entrepreuner....?
Setelah ditelisik ternyata keberhasilan sang khalifah dalam menata negara dan melahirkan banyak Entrepreuner kala itu, rumusnya adalah keseimbangan dalam melaksanakan hidup. Seimbang dalam urusan dunia dan akhirat. Tidak melulu dunia yang dikebut, tapi ruhiyah yang ditanamkan sang khalifah pada para pengusaha di masanya harus pula dikencangkan.
Tak mesti urusan bisnis mirip pribahasa sunda “suku dijieun hulu jeung hulu dijieun suku” (kaki dijadikan kepala dan kepala dijadikan kaki) namun semua itu harus diseimbangkan dengan kedekatan ruhiyah pada sang Khaliq. Pembiasan infak, amalan sunah dan masih banyak lagi amalan pendobrak jati diri untuk sukses dunia akhirat.
Wah.... wah..... wah.... andaikata saat ini ada orang sekelas Umar bin Abd Aziz, tentunya saya mau milih di coach sama beliau. Terbayang oleh saya, Umar bin Abd Aziz akan membuatkan maping bisnis dengan tahapan-tahapan yang terarah dan jelas.
“ Tiesna, kamu pagi-pagi bangun paling telat jam 03.00 yah, kamu tahajud, sholat taubat dan perbanyak istighfar serta shalawat atas nabi”
“Siap Coach” sambut saya,
“Udah gitu menjelang shubuh kamu tilawah, dan sholat sunnah rawatib yang karena dengan itu, kamu akan dibangunkan istana di surga-Nya Allah. Bukankah kamu mau kaya Tiesna ? Kalau kamu mendawamkan tiap hari 12 rakaat rawatib, berapa istana yang Allah bangun di Surga-Nya kelak.”
Dibilang begitu sayapun manggut-manggut sambil berfantasi betapa super bahagianya diri saya.
“oke, saya lanjutkan ya.... Sebelum mengawali bisnis jangan lupa shalat dhuhanya harus benar dan banyak. Dan ketika kamu berbisnis, bersungguh-sungguhlah seolah-olah kamu akan hidup selamanya. Cari inovasi yang menghasilkanmanfaat pada orang lain. Ingat..... pesan Nabi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.
Mendengar itu dari Coach Umar bin Abdul Aziz, saya jadi merenung, “ Apakah betul saya sudah bermanfaat bagi orang lain ? apakah perlakuan saya terhadap orang tua sudah sesuai dengan perintah Allah?”
“next,..... mulai hari ini kamu biasakan infak tiap hari ya, tapi bukan berharap cash back. Tapi ikhlaskan dan tulis dalam rancangan bisnis kamu dan bandingkan dengan kebiasaan kamu saat ini. Kalau boleh tahu, kebiasaan berinfak kamu bagaimana?”

Aher di acara seminar Enterpreneur
Dengan setengah kikuk dan tersipu malu sayapun mengakui kalau selama ini infak semaunya saja, itupun pas jumatan dikala bis keropak infak lewat. Dan disaat bis-bis lewat dengan suaranya yang khas, sayapun sudah menyiapkan uang kecil di saku tertentu dan khawatir ketuker dengan saku yang satu lagi yang isi uangnya lebih besar. Lagi asyik bermain dengan dunia pikiran saya, choach Umar bertanya lagi,
“dalam sehari semalam, banyak tilawah atau baca Whatsapp?”
Gubrakkkk...... “koq nanya itu coach?” sayapun menundukkan kepala sejadi-jadinya, handphone di tangan kiri seolah-olah mengajak masuk ke dalam saku. Tangan kanan mengepal keras, menyatu dengan benak kalau ternyata banyak kebaikan yang tercampakkan. Banyak hal semu yang menutupi kisi-kisi hati, banyak Patamorgana yang menipu kehidupan ini.
Seolah mengetahui sang coachpun tersenyum dan bertutur, “ Saya tak menginginkan jawaban itu, yang butuh jawaban adalah dirimu sendiri. Susunlah semua pertanyaan dan jawablah oleh dirimu sendiri. Susun rencana dan strategi bisnismu dengan menyertakan Allah dalam segala palaningmu. Dan pelajaran Choaching sementara itu dulu. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya”.

Oke guys, semangat pagi dan salam jabat erat
(Tiesna)

Fokus pada Kelebihannya

Written By ipah umu Abiba on Kamis, 19 Mei 2016 | 09.02



 
ilustrasi
Dear Ayah Bunda.. Kembali bersalam sapa dengan Anda semua. Semoga semakin hari, kelucuan buah hati kita semakin mengairahkan kita untuk menyusun beragam karya.
Ayah Bunda dimanapun Anda.. Kembali kita menafakuri firah kita sebagai manusia. Kita terlahir sebagai pribadi yang unik, yang berbeda satu sama lain, yang berciri khas tertentu, dan memiliki kelebihan yang tak bisa disamaratakan. Nah, fitrah ini berlaku bagi semua manusia tanpa kecuali. Demikian pula dengan makhluk unik bernama anak. Bila diantara anak yang dikatakan normal saja terdapat beragam perbedaan dan keunikan, maka apalagi jika diantara anak berkebutuhan khusus.
Selanjutnya, seringkali menjadi kegalauan tersendiri bagi para orangtua ketika diantara putra putrinya belum atau tidak mampu melakukan sesuatu, atau tidak selihai temannya dalam membuat suatu karya, atau tidak sehebat anak saudara atau anak-anak tetangga. Padahal, kegalauan yang demikian hanya akan menggelamkan potensi kelebihan anak kita sesungguhnya. Karena setiap anak tak bisa diseragamkan kehebatannya. Bahkan, jangankan dibandingkan dengan anak tetangga atau teman satu sekolah, diabandingkan dengan saudara satu darah pun belum tentu sama. Oleh karenanya, sudah bukan zamannya bila diantara kita masih ada yang merasa tak tenang ketika mencoba membanding-bandingkan.
Ayah Bunda… Tak ada yang Allah ciptakan melainkan supaya kita berpikir. Termasuk keberadaan anak kita. Sanga mustahil Allah menganugerahkan pada kita seorang insan yang punya sisi kelemahan jika tak dimpurnakan dengan kelebihannya. Oleh karena itulah, jika ada sesuatu yang bisa dikatakan “tidak wajar” pada anak kita, maka balikkanlah cara berpikir kita dengan paradigma “Temukana sebanyak-banyaknya kelebihan dia dan abaikan sekecil apapun kekurangannya.”
Sebagai contoh, jika anak kita belum bisa menulis huruf pada usia SD, tak perlu kita memvonis bahwa dia tak mampu apa-apa atau dia anak yang terlambat atau anak bodoh. Banyak faktor yang menyebabkan dia mengalami kesulitan semacam itu. Bisa karena kelainan tulang belakang, bisa karena terlewatinya satu fase perkembangan -seperti merangkak-, bisa karena bermasalah dengan jari tangannya, dan lain-lain. Padahal, jika betul-betul mentok dia bermasalah dalam menulis, sebetulnya masih banyak yang bisa dia buktikan bahwa dia anak hebat. Dan sangat mungkin, ketika merasa lemah untuk menuliskan, maka dia akan sangat lihai dalam mengingat atau dalam berbahasa lisan. Oleh karenya, ketika dia berpotensi menjadi seorang penghafal Qur’an, atau berpotensi menjadi seorang public speaker, atau berpotensi sebagai negosiator yang di kemudian hari menjadi bekal berharga untuk terjun di dunia bisnis, mengapa kita terus menerus mengingat kelemahannya. Mengingat dan menyesali kelemahan anak kita bukanlah suatu yang produktif dan tak kan pernah menjadi solusi.
Bila mengingat-ingat kelemahan anak itu sangat tidak bermanfaat, maka membanding-bandingkan anak kita dengan kelebihan orang lain pun sama-sama tidak bermanfaat. Sebagai contoh, ketika anak saudara juara menggambar, atau anak tetangga juara pidato, kita langsung merasa iri dibuatnya. Jika rasa itu bisa produkf alias dapat memacu semangat kita untuk membentuk anak kita menjadi juara, itu tidak masalah, bahkan mungkin bernilai positif. Yang tidak baik adalah ketika kita secara spekulasi menginginkan anak kita menjadi seperti anak orang. Padahal, bidang atau minat yang dimiliki anak kita bukan disana. Atau dengan bahasa sederhana bisa diistilahkan; “Jika anak kita kesulitan dalam berkomunikasi lisan, tetapi sangat lihai dalam menggambar dan melukis, maka dongkrak setinggi-tingginya kemampuan dia dalam melukis dan menggambar. Bukan diarahkan untuk mengikuti lomba baca puisi atau kontes pildacil.”
Ayah Bunda… Memang perlu bagi kita untuk bijak melihat kelebihan anak. Paling tidak, lihat kesehariannya, perhatikan hobi dan minatnya, tanyakan dengan lugas pada bapak ibu gurunya di sekolah, atau lakukan tes yang mengarah pada potensi minat dan bakatnya. Mudah-mudahan kita bukan bagian dari rangtua yang mendidik putra putrinya dengan cara spekulasi alias sekadar mencoba dan meraba-raba. Karena setiap individu berpotensi untuk bisa hebat dan melesat jika minatnya terasah dan ter-mainantance.
Sebaliknya, menjadi orangtua yang tanpa cita-cita besar untuk kehidupan putra-putrinya kelak, ini merupakan bagian dari ketakberdayaan. Karena mendidik anak itu bersama perencanaan, bukan mengalir apa adanya. Selain itu, mendidik anak itu bersama impian, bukan menghabiskan waktu untuk berkutat dengan kerumitan. Maka jadilah kita sebagai ornagtua paling bahagia, supaya dengan mudah mendampingi dan membesarkan hati mereka.
Sungguh besar tugas kita. Sungguh besar pula kekuatan kita untuk memastikan tercapainya cita-cita mereka. Dan empat langkah yang saya sodorkan ini semoga menginspirasi.
1.      Pertahankanlah kebahagiaannya dan jangan biarkan ketidaknyamanan hati membuatnya tak bisa berkarya.
2.      Berikan dia kebabasan untuk mengasah pilihan, sehingga dia mencintai hobinya dan bersedia untuk terus belajar di bidang ilmu yang sesuai dengan bakatnya.
3.      Beri dia kepercayaan untuk membuktikan karya-karyanya.
4.      Uji dengan tantangan dan yakinkan bahwa dia bisa melakukan lompatan-lompatan indah dalam setiap tahapnya.
Semoga Ayah Bunda tetap tercerahkan selamanya. Peluk cium untuk Ananda. Semoga mereka menjelma pribadi-pribadi yang mewarnai dunia dengan kapasitasnya masing-masing, dengan talentanya masing-masing, dan dengan sentuhan karyanya yang berbeda satu sama lain.
Alloohu ‘alam bish showaab. Semoga bermanfaat.(Miarti)
 
Support :

Tim Media DPD PKS Kota Bandung Jalan Brigjen Katamso no. 17 Phone: 022-7208303 / 7237260 - Redaksi menerima tulisan, opini, agenda dan Foto kegiatan - Kirim ke humas.pksbdg@gmail.com