Latest Post

Waspada Kota Bandung Menghadapi Cuaca Ekstrim

Written By alimoel soekarno on Sabtu, 20 Desember 2014 | 15.55

ilustrasi dari google 

Warga Kota Bandung besok hari diharap untuk senantiasa waspada terhadap pergantian cuaca yang sangat cepat. Bercermin dari kejadian angin puting beliung pada hari Kamis (18/12/2014) yang memporak-porandakan bagian timur kota.

Tercatat ada 700 rumah yang mengalami kerusakan, sebagian besar kerusakan pada atap rumah yang beterbangan dan rusak cukup parah. Tidak kurang dari 80 Pohon tumbang, termasuk pohon-pohon yang berusia cukup tua dan cukup besar. Sehingga jalan di Bandung timur mengalami kemacetan total. Dari laporan yang kami terima, satu orang warga meninggal dunia tertimpa pohon yang tumbang. Tak luput kampus UIN Sunan Gunung Jati juga mengalami hal yang sama, Gedung Perpustakaan UIN mengalami kerusakan terparah, dimana nyaris seluruh atapnya terbawa angin.

Dari situs BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) pusat www.bmkg.go.id memprediksi Kota Bandung akan mendapati Mendung sejak pagi dengan hujan sedang, yaitu hujan yang agak deras. Suhu berkisar antara 20 - 30 derajat Celcius, bisa jadi suhu akan mencapai titik terendah saat hujan berlangsung. Kelembaban maksimum mencapai 91% dan kecepatan angin mencapai 10 km/jam, sementara arah angin mengarah ke arah barat.

Warga Bandung diharap berhati-hati saat beraktivitas esok hari, semoga kejadian dihari Kamis kemarin tidak terjadi lagi sehingga Kota Bandung terhindar dari kerusakan yang parah kembali.

Rakorwil Bidang Humas PKS se-Jawa Barat

Bandung (20/12/2014) Hari ini diadakan Rapat Koordinasi Wilayah Bidang Humas DPW PKS Jawa Barat. Rencananya dihadiri oleh seluruh Ketua Bidang Humas DPD PKS se-Jawa Barat, dimana acara ini menjadi ajang sharing dan menambah pengetahuan tentang Kehumasan.

Dibuka dengan sambutan dari Ketua Bidang Humas DPW PKS, Deddy Ambara dimana beliau menekankan akan pentingnya pertemuan hari ini. Kemudian dilanjutkan taujih kehumasan oleh Ustadz Ahmad Saikhu dengan memaparkan bagaimana Humas adalah ujung tombak Partai untuk menyampaikan semua kegiatan yang diadakan oleh kader PKS.

Ustadz Saikhu juga menyampaikan seharusnya Humas tidak akan kekurangan sumber berita, bila seluruh DPRa bisa melakukan fungsi kehumasan dengan melaporkan kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Para Pejabat Publik partai juga bisa menjadi titik sumber berita, dengan aktif di sosial media yang akhirnya bisa menjadi perhatian publik.

Jangan mudah reaktif bila mendapat "bully" dari orang lain, tapi bagaimana efek dari bully tersebut bisa menjadi simpati publik bila kita dapat mengatur ritme reaksi dengan tetap mengeluarkan statemen-statemen positif.

Angin Puting Beliung menyerang Bandung

Kamis 18 Desember 2014 Kota Bandung mengalami musibah dengan adanya angin uting beliung yang memporak-porandakan Kota Bandung bagian timur. Setidaknya ada 3 Kecamatan yang mengalami dampak langsung angin puting beliung ini: Cibiru, Panyileukan dan Kiara Condong.

Tercatat ada 700 rumah yang mengalami kerusakan, sebagian besar kerusakan pada atap rumah yang beterbangan dan rusak cukup parah. Tidak kurang dari 80 Pohon tumbang, termasuk pohon-pohon yang berusia cukup tua dan cukup besar. Sehingga jalan di Bandung timur mengalami kemacetan total. Dari laporan yang kami terima, satu orang warga meninggal dunia tertimpa pohon yang tumbang. Tak luput kampus UIN Sunan Gunung Jati juga mengalami hal yang sama, Gedung Perpustakaan UIN mengalami kerusakan terparah, dimana nyaris seluruh atapnya terbawa angin.

Hingga hari ini, masih dilakukan pembersihan lokasi dan evakuasi warga yang menjadi korban angin puting beliung. Kepanduan DPD PKS Kota Bandung bergerak tanpa mengenal lelah membantu evakuasi warga. Jum'at malam Kepanduan DPD PKS Kota Bandung kembali dari lokasi, Subhan salah satu personil Kepanduan mengatakan mereka akan kembali lagi Sabtu pagi untuk melanjutkan bantuan tanggap bencananya.

Pendidikan Bergengsi, Tapi Punya Akhlaq Kok Gengsi

Written By alimoel soekarno on Rabu, 17 Desember 2014 | 07.00



Setiap pagi, kita melihat lalu lalang manusia berseragam, ada yang berseragam putih merah, ada yang putih biru, ada juga yang putih abu. Jika menengok ke arah transportasi umum, yang bisa ku lihat hanyalah segerombolan siswa yang berlomba-lomba menuju sekolah.

Namun ada yang ku khawatirkan, bisa saja penampilan mereka seperti orang sekolahan, namun lisan dan perbuatan nya tak menunjukkan seperti orang yang berpendidikan. Kata-kata yang terucap hingga kalimat yang terungkap, semua berisikan kalimat kosong yang tak bermakna.

Sering kali ku lihat, mereka sibuk dengan gadget nya, bahkan ada orang tua yang butuh tempat duduk saja, mereka hiraukan. Begini kah potret putra masa depan bangsa?

Menjerit tak karuan, saat idola nya muncul dihadapan mata, membela idola mereka hingga mengorbankan uang jajan bahkan melawan orang tua, agar bisa bertemu idola nya. Apakah idola mereka mengenal mereka? Belum tentu.

Saat ujian bukanlah menjadi ajang untuk menuju dari proses tidak mengerti menjadi mengerti, kini ujian hanya menjadi ajang berlomba lomba dalam memperoleh nilai yang bisa jadi saat ujian berakhir, ilmu yang kau pelajari saat ujian, hilang tak bersisa.

Saat jujur pun bukan lagi menjadi kebanggaan, malah menjadi rasa malu bahkan terlihat seperti aib, menyontek pun menjadi hal yang lumrah, bahkan ada istilah "menyontek untuk kebaikan", ya kebaikan kita untuk menghancurkan generasi bangsa. Akhirnya bukan akhlak yang menjadi penting bagi kehidupan, tapi materi duniawi yang menjadi prioritas, bahkan tak heran jika banyak orang yang menghalalkan berbagai cara untuk kaya, tak peduli walaupun dengan cara haram.

Lupakah kita pada pesan baginda rasulullah saw?

Lupakah kita pada janji Allah SWT, Tuhan semesta alam?

"Bahwa yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya di mata Allah adalah akhlak nya."

Ingat baik-baik, seharusnya malu diri ini jika memang benar berpendidikan tinggi tapi tak mampu mencerdaskan orang sekitar. Hanya bisa mengeluh akan ketidak-mengerti-an masyarakat yang belum faham. Tugas kita adalah memahamkan mereka, tak ada manusia yang tak berguna. Yang ada hanyalah manusia yang dibukakan hatinya dan manusia yang sudah terkunci hatinya. (Ipah)

Oded M Danial Fasilitasi Audiensi Sekolah Swasta dengan Disdik Kota Bandung



Kemarin (16/12), sebanyak lima perwakilan sekolah swasta di Kota Bandung mengikuti audiensi dengan Dinas Pendidikan Kota Bandung dan Wakil Walikota Bandung, Oded M Danial. Pertemuan ini digelar menyusul persoalan terhambatnya izin operasional sekolah.

Sudah beberapa waktu ini, sekolah-sekolah swasta terutama yang baru di Kota Bandung mengeluhkan terhambatnya proses pembuatan izin operasional. Pasalnya, belum ada peraturan walikota yang mengatur hal tersebut. Namun, menurut Dinas Pendidikan, Perwal terkait hal tersebut sudah hampir selesai. Pengurusannya telah sampai di Bappeda, tinggal menunggu Standar Operasional Prosedurnya selesai. Sehingga, Disdik dalam hal ini yang berhak memberikan izin menghimbau agar sekolah-sekolah tersebut tetap mengirimkan berkasnya, hingga Perwal resmi disahkan.


Oded M Danial yang turut hadir dan memfasilitasi audiensi tersebut menuturkan bahwa persoalan ini sebenarnya hanya perlu koordinasi antar pihak terkait. Semua prosedur telah dijalankan, tinggal masing-masing pihak saling berkomunikasi agar keberjalanan peraturan terjamin dengan baik. Wawalkot Bandung ini pun berharap, selalu tercipta iklim koordinasi yang baik antar instansi-instansi di lingkungan Kota Bandung, agar persoalan birokrasi semacam ini tidak menghambat kinerja masing-masing instansi.

Audiensi diakhiri dengan adanya kesepahaman antara Disdik dan pihak sekolah. Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Kabag Disdik Ajat S Natalegawa, bersama dua staff nya Wiwis dan Suhandi. (RD)

Ketika Ledia Hanifa Turun Gunung

Written By alimoel soekarno on Senin, 15 Desember 2014 | 00.56

Aku tak biasa...begitu dalam hati, menyaksikan dekorasi ruang selain spanduk, seperangkat meja kursi, dipajang didepan seperangkat alat timbang balita lebih mirip tempat bermain, berwarna pink, cantik dan imut. Wouw...inovasi dekorasi baru mungkin.

Belakangan diakhir sesi, pembawa acara mengumumkan bahwa ternyata bukan sekedar dekorasi pemanis ruang tapi hadiah, total 3 unit alat timbang balita disediakan Ledia Hanifa, Wakil Ketua DPR RI Komisi 2 sekaligus anggota MPR RI, Wakil dari PKS Dapil Jabar 1 untuk kegiatan Posyandu di Pasir Kaliki, Cibabat dan Leuwi Gajah, Cimahi.

Pemberian hadiah tersebut wujud nyata bahwa Ledia konsen terhadap tumbuh kembang balita disamping prihatin dengan angka kematian Ibu di Indonesia. Menurut data WHO masuk peringkat
ketiga tertinggi se Asean. WHO mensejajarkan angka kematian ibu Indonesia yang berjumlah 9.900 orang dari 4,5 juta keseluruhan kelahiran tahun 2012. Hal tersebut sama dengan 66 pesawat Boeing 737 seri 400 yang berpenumpang penuh, jatuh dan seluruh penumpang dan awak pesawat meninggal.

Didepan ibu ibu yang antusias menyimak, ada beberapa pasal dari UUD 45 yang dibahas, diantaranya tentang Hak Asasi Manusia yang tertuang dalam pasal 28B yang telah dua kali diamandemen, berbunyi sebagai berikut :
"Membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan, hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi".

Diantara bahasan tentang kebhinnekaan penduduk Indonesia baik yang Warga Negara Asli maupun Penduduk Asing yang mencari penghasilan di Indonesia, juga bahasan masing masing sila dari Pancasila yang diatur dalam pasal 1 bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang Undang Dasar. Hadirin yang seratus persen adalah ibu ibu lebih tertarik mengikuti bahasan yang ada kaitan langsung dengan dunianya.

Maraknya KDRT, kasus sodomi terhadap anak laki-laki dan beberapa kekerasan lain menjadi bahasan yang menarik, dengan dicontohkan kasus perkasus. Salah satu ibu mengkritisi dengan pertanyaan " Langkah apa yang diambil seorang ibu, ketika menyaksikan tayangan yang banyak menyajikan hal yang kurang terpuji di televisi", Ledia memberikan advice " Jika ada acara anak-anak di televisi yang tayang jam sembilan malam keatas, segera matikan karena bertepatan dengan waktu ijin tayang iklan rokok di televisi yang bisa meracuni pola pikiran anak yang masih bersih, cenderung meniru.

Acara Dengar Pendapat Ledia Hanifa dari masyarakat tentang Pancasila, Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesian tahun 1945 (UUD45), Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika yang difasilitasi oleh Bidpuan PKS Cimahi, berlangsung Ahad (14/12) dengan mengambil tempat di Gedung Rabbani lantai 3, Cimahi, berlangsung sangat cair.

Ketika turun gunung, tak ada jarak antara Ledia yang Wakil yang terhormat dengan rakyat. Nampak Ledia tak ingin mengecewakan rakyat yang telah mempercayakan suaranya di gedung Lembaga Tertinggi Negara ketika berlangsung Pemilu yang baru usai beberapa bulan lalu. Dengan senyum tulus, diladeni semua Ibu ibu yang ingin diabadikan bersama. Begitulah penulis amati kararter dan ciri kader PKS yang menempati posusi apapun, selalu memandang jabatan sebagai amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT langsung, sehingga yang muncul kerendahan hati. ( Frieda )

Arti Sebuah Kebebasan

Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB kala saya dan teman-teman menunggu didepan pintu yang sangat asing bagi saya, pintu penjara. Ya... kali ini saya dan teman-teman mengadakan program kunjungan ke sebuah Lembaga Pemasyarakatan.

Orang yang kami tuju sudah ditetapkan, saya belum pernah mengenalnya dengan baik walau pernah mendengar namanya saja. Tapi setelah kunjungan tersebut, saya merasa sangat dekat dengannya bahkan perasaan saya maupun teman-teman seperti bertemu dengan keluarga sendiri.

Adalah seorang yang bisa dikatakan cukup disegani saat masih menjadi "orang bebas" bahkan sekarang sipir penjara pun mafhum kenapa beliau disegani karena merekapun merasa demikian. Tanpa canggung dan ragu kami menyebutnya sebagai "Ustadz" atau dalam bahasa Indonesianya "Guru". Alasannya, pertama maksud kunjungan kami selama ini adalah mencari ilmu walau itu dipenjara sekalipun dan kedua beliau memang pantas disebut dengan Ustadz.

Setelah kami masuk dengan menitipkan KTP kepada penjaga, kami diarahkan keruang tunggu. walaupun tidak bisa disebut ruang tunggu pada umumnya karena ini tempatnya sedikit terbuka. Cukup lama memang menunggu giliran kami, karena sang Ustadz sedang menerima tamu dari suatu daerah di luar kota. Ketika rombongan tamu tersebut mulai beranjak dari tempatnya, saya mengira inilah giliran kami. Sang Ustadzpun menghampiri kami seraya merangkul satu persatu, sambil menunggu pula saya kaget karena tangan saya dipegang sang Ustadz seakan kamilah tamu istimewa yang beliau tunggu dan rindukan.

Sebenarnya pertemuan kami tidaklah lama, namun membekas dalam ingatan apa dan bagaimana karakter orang yang sedang kami hadapi ini. Sang Ustadz sudah mulai menyibukkan kami dengan renungan yang sangat dalam, tentang arti sebuah kebebasan. Beliau dalam penjara walaupun dalam sidang pengadilan lebih tinggi mendapat hukuman yang lebih berat, hanya senyum yang ada dibenaknya. Apa arti penambahan dua tahun hukuman itu? itu kan sebentar... pernyataan yang sangat mengherankan saya. Kalau dengan penjara dapat meningkatkan taqwa kita dan menjauhkan dari kelalaian apakah itu bukan suatu berkah tersendiri, lanjut beliau. Didalam penjara banyak orang menemui kebebasannya dalam menambah keimanan kepada Allah swt, bisa jadi orang-orang yang diluar penjara malah terlena dengan kebebasannya sendiri. Artinya orang yang bebas dari jeruji besi malah mereka terbelenggu oleh nafsu dunia, apalah arti sebuah kebebasan itu bila kita hanya bebas dalam semu.

Mengalir panjang lebar wejangan-wejangan beliau kepada kami, bukannya kami yang ingin menghibur malah beliau memberi "hiburan akhirat" kepada kami... Terimakasih Ustadz, semoga perjuangan engkau tetap istiqomah dan tiada mengenal henti, walaupun itu ditempat yang paling tidak dipilih oleh orang lain.

Teringat doa Nabi Yusuf as saat difitnah:
"Ya ALLAH.. Lebih baik aku hidup di penjara selamanya daripada hidup di luar bersama dengan orang2 pendusta..!"

Haru Suandharu : Tak ada sampah di Sungai Han

Written By alimoel soekarno on Minggu, 14 Desember 2014 | 15.02

Korea Selatan memiliki 4 musim. Setelah perang dunia kedua, korea memasuki perang saudara, didalam perang saudara (perang korea, 1950) tersebut membuat kondisi masyarakat sangat sulit. Saat musim dingin masyarakat berebut mencari kayu bakar di hutan-hutan sampai hutan di korea habis.

Setelah habis kayu masyarakat beralih ke batubara. Jelaga batu bara pun di buang ke sungai. Sehingga sungai menjadi hitam karena jelaga batu bara.

Berlanjut masyarakatpun membuang semua sampah ke sungai mulai dari sampah sayuran sisa membuat kimchi (makanan dari sayuran sejenis asinan), samphoo, sabun, dan limbah industri. Demikian berjalan sampai 20 tahun.

Pada tahun 1972 pemerintah mulai kesulitan menyediakan air bersih untuk masyarakat, karena sungai Han sebagai sumber air baku justru habis diisi dengan sampah yang sangat pekat. Akhirnya pemerintah korea selatan melarang masyarakat dan industri membuang limbah ke sungai.

Awalnya menjadi sangat berat untuk masyarakat. Tetapi pemerintah konsisten menjalankan kebijakan itu. Pelanggaran pertama denda 250 Won, pelanggaran ulangan yang kedua 750 Won, dan yang ketiga hukuman penjara.

Tahun 1991 pemerintah mulai membangun bendungan-bendungan. Hingga tahun 2001 sudah terbentuk 5 bendungan.

Sekalipun pemerintah semangat menjaga sungai. Ternyata masih ada perusahaan-perusahaan yg diam-diam membuang limbah ke sungai. Dengan tegas pemerintah menangkap semua pelaku usaha tersebut dan di penjara sampai 7 tahun. Sejak peristiwa itu, tidak ada lagi masyarakat atau pengusaha yang main-main dengan membuang sampah ke sungai.

Kota bandung hanya tinggal 1 tahun memiliki stok air baku. Itupun suplai air dari kabupaten bandung. Tampaknya pemerintah  harus memiliki konsistensi untuk mengimplementasikan peraturan perundangan dan untuk menjaga kelestarian lingkungan.


Mengunjungi Sungai Han di Seoul Korea Selatan, tidak ada satu sampahpun yg melayang di atas sungai.

[Tokoh Inspiratif] Ladang Pengabdian Dina Ahsan


Setiap mahasiswa pasti punya impian kelak kemana setelah lulus. Begitu pula bagi Dina Ahsan, jebolan salah satu Akademi Bahasa di Bandung ini tidak menyangka jika akhirnya akan blusukan dari Posyandu ke Posyandu, bergilir untuk 74 Pos Pelayanan Terpadu di Kecamatan Regol, Kota Bandung.

Selama hampir 1 jam bincang bincang, tak menyiratkan penyesalan bahkan semangat dan bahagia yang tersirat dari setiap ucapan kata. Siapa sebenarnya dia? Ibu dari 7 putra putri dengan sulung baru klas 1 SMP ini adalah istri dari Drg. Ocky Pranata, Sp BM. Hari harinya tak pernah sepi dari melayani meski tak digaji layaknya seorang karyawati, karena memang tak bekerja di perusahaan atau instansi.

Dina bersama ibu ibu di timnya dalam kesehariannya antara pukul 9 sampai dengan pukul 12 siang, memanfaatkan jam kosong tak ada anak suami dirumah, mengalokasikan waktunya untuk mengadvokasi Posyandu dilingkungan dimana dia tinggal. Baginya punya kepuasan tersendiri dapat ambil peran dalam PKP (Pendampingan Kader Posyandu) . PKP ini program yang digulirkan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan sejak tiga tahun lalu dan Netty Prasetyani sebagai istri gubernur yang memonitor langsung pelaksanaannya dilapangan.

Dina melanjutkan, selain mengadvokasi kader Posyandu, berdiskusi dengan Sekretaris Camat sebagai Pokjanal Posyandu, berkoordinasi dengan Lurah, jalin hubungan dengan Puskesmas sebagai Pembina Posyandu diwilayah kerjanya, sehingga waktu benar benar harus cermat dibagi, antara aktivitas dirumah, Fasilitator Kampung berkebun dan konselor PKP, sebagai warga masyarakat dan tentunya yang tak boleh lupa mengurus anak dan melayani suami. Wouw....kebayang hebohnya. Capai badan tentu, hilang waktu pasti, tapi manakala kebun yang ditanam sayur warga tumbuh subur, Dina sebagai Pendamping Fasilitator Kampung Berkebun bersyukur, karena berarti penunjang kegiatan Posyandu bertelur, sehingga tak perlu keluar dana buat sediakan bubur anak balita. Juga punya kepuasan tersendiri manakala dana yang dikucurkan Gubernur untuk bantuan operasional dan penyediaan sarana & prasarana Posyandu yang dikawal PKP jatuh ke tangan pengelola secars utuh berujud sarana dan prasarana yang langsung bisa dinikmati warga.

Tak selamanya program advokasi berjalan mulus, kadang terbentur tembok dulu baru bisa dipahami. Seperti dicontohkan, ketika salah satu Kader Posyandu yang sempat dipecat dari kepengurusan bisa kembali masuk ke Pengurusan dan direhab nama baiknya, setelah menghadirkan tokoh yang terkait dan pembahasan panjang, bahwa Dana Bantuan Gubernur untuk Posyandu harus dibukukan dan dipertanggung jawabkan tersendiri tanpa harus melalui PKK RW.

Disingggung kepuasan, Dina nampak bersemangat menceriterakan ketika baru baru ini deal dengan PT Inti dalam mengajukan proposal untuk menyumpang 5 Posyandu sekaligus. " Ini merupakan kepuasan yang tak bisa dinilai dengan uang, meski saya pribadi tak mendapat sepeserpun ". Ini salah satu kepuasan lahiriah dari banyak capaian keberhasilan kerja yang semua berlandaskan undang undang yang mengatur sepak terjang PKP. Untuk kepuasan ruhani ketika nilai nilai yang berlandaskan ajaran agama ditularkan lalu diikuti dan dilaksanakan.

Karena memang tak hanya segi fisik yang diadvokasi tapi penanaman nilai nilai juga jadi bagian Moto saya sederhana _"Terus bergerak seperti air yang mengalir, jangan sampai terhenti dan menggenang" demikian ketika penulis menanyakan motonya. Rupanya ini yang membakar semangatnya bahwa sesulit apapun medan dilapangan, tapi program harus sampai kesasaran. Dua jempol untuk Dina, Srikandi dari Balong Gede, kota Bandung. ( Frieda )

Mengasuh Anak Tangguh di Era Digital

Written By Budi Haryana on Sabtu, 13 Desember 2014 | 13.02

Mengasuh Anak Tangguh di Era Digital

Ada fakta anak dan remaja sekarang sebagai digital native, lahir dan tumbuh diera digital sementara orang tua masih dikatakan digital imigrant, penduduk pendatang yang masih berusaha beradaptasi di dunia digital. Perkembangan akses internet semakin mudah dan murah dengan berbagai variasi layanan memunculkan sisi negatif lain di antaranya kecanduan game online dan pornografi 

Menurut Psikolog Dewi Yulia, S.Sos, M.Si ada beberapa langkah yang perlu dilakukan orang tua dalam menangkal sisi negatif era digital diantaranya orang tua harus mengajarkan langsung agama langsung , jangan disubkontrakkan. Pendidikan agama adalah tanggung jawab kedua orang tua 

Menghangatkan hubungan dengan anak. Berbicara baik-baik, Mendengar aktif, kenali anak dengan baca bahasa tubuh dan tebak perasannya.  Hindari gaya komunikasi yang salah seperti memotong pembicaraan atau mengancam, mencap dan memerintah. Selanjutnya beri nasihat pada anak dengan tutur kata yang baik, benar dan menyenangkan, bukan membuka aib, menyindir atau dengan melampiaskan marah 

"Langkah lainnya mengasuh anak diera digital adalah tanggap dengan anak, tidak gaptek. bermain dan jalan bareng anak" ujarnya

Berbagai penelitian menunjukan peran aktif ayah akan membuat anak cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang pengasih, lebih sehat secara fisik dan mental, dan lebih tahan menghadapi frustasi. 

Mengasuh Anak Tangguh diera Digital
Mengasuh Anak Tangguh diera Digital

 
Support :

Tim Media DPD PKS Kota Bandung Jalan Brigjen Katamso no. 17 Phone: 022-7208303 / 7237260 - Redaksi menerima tulisan, opini, agenda dan Foto kegiatan - Kirim ke humas.pksbdg@gmail.com