Latest Post

PKS Lengkong : Tak Ada Kata Berhenti Untuk Bermanfaat

Written By ipah umu Abiba on Rabu, 27 Mei 2015 | 09.14

kader PKS Lengkong siap GPS
pksbandungkota.com - Alhamdulillah PKS DPC Lengkong, Rutin mengadakan GPS (Gerakan Pungut Sampah) di setiap Kelurahan, hari ini tadi pagi sekitar Pukul 08.00-09.30 WIB , DPC Lengkong GPS bertempat di Kelurahan Lingkar Selatan RW 03 dan RW 04.
tua,muda siap untuk GPS
Bersama para warga sekitar, saling membantu untuk menjaga kebersihan lingkungan di daerah Lengkong. Tak hanya para bapak yang turun untuk melaksanakan gerakan pungut sampah yang selama ini menjadi program walikota Bandung, Ridwan Kamil. Namun para ibu dan juga anak-anak tidak mau kalah untuk unjuk gigi membantu membersikan lingkungan tempat tinggalnya.
Semoga di daerah Bandung lainnya kita bersama warga sekitar bisa saling menjaga kebersihan lingkungan dan semakin bermanfaat dimanapun kita berada.
(Ipah & Eva)

Harga Sembako Merangkak Naik, DPR: Pemerintah Harus Antisipatif

Written By Riska Mardiana on Selasa, 26 Mei 2015 | 11.37



Jakarta (25/5) – Menjelang bulan suci Ramadhan beragam harga komoditas pangan mulai merangkak naik, hal ini diperkirakan akan terus terjadi hingga hari Raya Idul Fitri jika pemerintah tidak serius dalam memonitoring pergerakan harganya.

Rofi Munawar - Anggota DPR RI Fraksi PKS
“Kenaikan harga pangan menjelang bulan Ramadhan jika diperhatikan merupakan fenomena berulang setiap tahun, seharusnya ada antisipasi yang lebih maksimal dari Pemerintah baik terkait ketersediaan maupun distribusinya. Salah satu sebab kenaikan dikarenakan adanya permintaan yang meningkat dari konsumen, kenaikan biaya distribusi dan psikologi pasar jelang bulan Suci Ramadhan,” kata Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS, Rofi Munawar,di Jakarta, Senin (25/5).

Rofi menambahkan, saat ini harga sembilan bahan pokok (sembako) pada umumnya mulai beranjak naik dikisaran Rp500 hingga Rp1.000,-. Rofi mencontohkan, seperti di pasar tradisional Kramat Jati Jakarta dan Tanah Tinggi kota Tangerang, harga beras medium naik pada kisaran Rp10.800/kg, minyak goreng Rp11.300/kg, bawang putih Rp23.000/kg, gula pasir Rp12.700/kg, dan daging Rp108.000/kg. Menurut Rofi, seluruh kenaikan ini tentu akan sangat memberatkan masyarakat, terlebih bagi kalangan menengah ke bawah. 

“Perpres (Peraturan Presiden) harus segera dikeluarkan untuk mencegah melonjaknya komoditas bahan pokok utama di pasaran. Lebih penting lagi, harus ada kepastian bawah Perpres itu dilaksanakan, jangan sampai ada jarak antara regulasi dengan realitas di lapangan,” imbuhnya.

Menurut Rofi, kenaikan juga dipicu oleh perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan meningkatnya biaya produksi pangan di tingkat petani akibat mundurnya musim tanam. Oleh karenanya, lanjut Rofi, peran Pemerintah sangat penting dalam mengantisipasi dan mengontrol kenaikan harga agar tidak terjadi inflasi yang semakin tinggi.

“Diantaranya dengan menjaga distribusi barang, pasokan, dan sistem kontrol terhadap harga,” ujar Rofi.

Legislator asal Jawa Timur ini juga mendesak Tim Pangan yang baru saja dibentuk oleh Pemerintah untuk melakukan langkah-langkah terencana, sistematis dan efisien dalam mengendalikan harga pangan yang kini mulai naik. Selain itu, kebijakan Tim Pangan harus mampu menjangkau hingga ke grass root agar mampu menjaga stabilitas harga di pasaran sepanjang bulan Ramadhan.

“Koordinasi antar instansi pemerintah yang menangani permasalahan kenaikan harga barang kebutuhan pokok hendaknya dapat berjalan dengan sinergis dan saling mendukung. Selain itu, informasi mengenai permintaan dan penawaran barang kebutuhan pokok harus dilakukan dalam sistem tata niaga yang transparan dan berimbang,” pungkasnya. 

Diketahui, rencananya Pemerintah akan mengesahkan Perpres tentang pengendalian harga jelang Ramadhan sebagai amanah dari UU No 7/2014. Isi Perpres tersebut akan mengatur pengendalian harga komoditas pangan utama dengan wewenang pengendalian harga diberikan kepada Menteri Perdagangan. 

Ibu, Bekerja, dan Kembang Ilmu

Written By Anak Panah yang Terbang Melesat on Senin, 25 Mei 2015 | 10.07


 A mother is a person who seeing there are only 4 pieces of pie for 5 people, announces she never did care for pie. - Tenneva Jordan
Ibu adalah seseorang yang melihat ada 4 kue untuk 5 orang, maka dia berkata bahwa dia tidak tertarik dengan kue - Tenneva Jordan


Dosen saya, Pak Ari Samadhi, menceritakan bahwa Amerika sedang sering kerjasama dengan India dalam hal pengolahan data. Mengapa? Bukankah India begitu jauh, zona waktu berbeda, gap budaya dan lain sebagainya? Ternyata ancaman itu justru bisa menjadi peluang. Perusahaan di Amerika menyelesaikan pekerjaannya hingga sore hari, lalu data pekerjaannya dikirimkan ke India lewat email, yang saat itu sudah mulai pagi hari di India. Pekerjaan pengolahan data dilanjutkan oleh Perusahaan India, lalu setelah selesai sore hari waktu bagian India, dikirim balik ke Amerika yang sedang pagi hari waktu bagian Amerika. Pekerjaannya terus dituntaskan tak mengenal pagi malam. Hal itu mungkin berkat adanya ICT: Information and Communication Technology atau teknologi Informasi dan Komunikasi. Email, cloud, website, dan banyak isilah baru itu menjadikan dunia demikian erat.

Lalu saya berpikir, bila perusahaan India bisa bekerja untuk perusahaan Amerika yang jaraknya ribuan kilometer, lalu mengapa Ibu-ibu dan para istri tidak bisa bekerja dari rumah yang mungkin jarak ke kantornya hanya belasan kilometer?

Dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang karya Salim A Fillah, beliau mengutip banyak karya sosiolog barat, ada sebuah gejala di mana munculnya pria metroseksual. Pria yang berdandan berlebihan bak wanita. Saat Riset Euro RSCG melakukan survey pada pria saat Semester 2 tahun 2004, pria yang merasa penting untuk mempercantik diri ada sejumlah 89%, mayoritas yang signifikan. Hal tersebut dianalisis karena para perempuan memasuki dunia kerja dan lalu para pria merasa tersaingi oleh keindahan alami perempuan. Maka pria pun membuat dirinya “cantik”

Ketika demo buruh kemarin misalnya, ada tulisan yang terpampang jutaan buruh Jomblo karena kerja 8 jam/hari.
Di sisi lain para ibu-ibu dan istri mendapat sebuah semangat kembali ke rumah dan menjadi ibu full time karena mendapat motivasi dan dorongan dari nilai-nilai agama seperti berbakti pada suami, dan merawat serta mendidik anak. Beberapa link yang cukup viral adalah sebagai berikut:

Kisah Nyata : Inilah Alasanku Berhenti Menjadi Wanita Karir:
http://www.wanitamasakini.com/2014/11/kisah-nyata-inilah-alasanku-berhenti-menjadi-wanita-karir/
Atau film Istri Paruh Waktu: https://www.youtube.com/watch?v=slCFLaiRmkE
Ada pula link artikel yang menceritakan mengapa para ibu tetap perlu kuliah tinggi meski akhirnya menjadi ibu rumah tangga yang bidangnya tak sesuai program doktor atau magisternya:
http://kuntawiaji.tumblr.com/post/449555884

Sungguh indah betapa para perempuan menyadari peran utama dirinya sebagai ratu di rumah dan kembali pulang menjadi ibu rumah tangga sepenuh waktu. Tapi wahai laki-laki, mari lihat gurat wajah mereka, lihat raut wajahnya. Mungkin di sana ada kerinduan dari beberapa ibu. Kerinduan dengan bidang ilmu yang ia asyik mahsyuki selama kurun waktu 4 tahun sarjana. Mungkin di sana ada sebuah mimpi ingin menjadi “wanita karir” sebagaimana perempuan lain yang tampak keren dengan fashion dan gaya mereka. Para ibu ini dengan perkasa, tetap di rumah; mencuci, memberi makan, membersihkan, menmani suami, meski dengan merelakan semua ilmu sarjananya menguap entah ke mana.

Tidak adakah jalan tengah di sini? Adakah suatu solusi sehingga para ibu bisa tetap berbakti sepenuh waktu di rumah tapi tetap bisa membaktikan ilmu sarjananya dan lebih hebat dari wanita-wanita karir itu, tanpa harus berpeluh keirngat ke kantor, rebutan kendaraan umum, berdesak-desakan dengan pria asing di bis, serta ditindas oleh atasan kantor? Bisakah ibu-ibu ini tetap bisa membaktikan dan mengembangkan ilmu sarjananya dengan keterbatasan ruang dan waktu.

Kita ingat lagi kisah perusahaan India yang membantu perusahaan amerika dari bagian awal artikel ini. Bila perusahaan India bisa bekerja untuk perusahaan Amerika yang jaraknya ribuan kilometer, lalu mengapa Ibu-ibu dan para istri tidak bisa bekerja dari rumah yang mungkin jarak ke kantornya hanya belasan kilometer? Dengan ICT (Information and Communication Technology) ini bisa dan mungkin dilakukan. Karena cinta kita kepada istri dan ibu kita, kita harus usahakan agar ini bisa.

Kita buat “Ibu dan Istri kita-Sarjana Dari Rumah”

Penulis berada di lingkungan universitas jurusan teknik industri dan mencoba memahami sedikit hal tentang ini. Kita awali dengan sebuah pertanyaan, adakah pekerjaan-pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah tanpa harus ke kantor dan mungkin tak lama waktu pengerjaannya? Ada dan sangat banyak. Kadang perusahaan membutuhkan konsultan dan tenaga ahli untuk menuntaskan beberapa masalahnya. Dibutuhkan orang yang sekedar membuat tulisan beberapa paragraf, laporan tertulis, analisis sekian halaman, atau perhitungan di tabel excel. Apakah pekerjaan tersebut harus dilakukan secara tatap muka penuh di kantor? Tidak harus. Suatu kali saya pernah melakukan sebuah analisis kelayakan dari sebuah BUMN dan pertemuan hanya dilakukan sepekan sekali, sisanya dikerjakan di rumah. Kalau saya yang pria bisa mengerjakan dari rumah, tentu Ibu-ibu jauh lebih bisa. Kadang juga dosen membuat video pembelajaran dengan sistem e learning, maka Ibu-ibu bisa melakukan hal tersebut dari rumah lalu mengirmkan ke kantor. Begitu juga dengan membuat laporan penelitian,

Saya membayangkan para ibu dan istri ini bisa saja 24 jam mengurus rumah tapi ada waktu 2 jam sebagai waktu baginya untuk membaktikan ilmunya. Mungkin yang bidang keperawatan bisa membuat artikel penelitian tentang perkembangan ilmu keperawatan, atau misal membuat video pembelajaran tentang ilmu ilmu keperawatan.

Bagi insiyur dan aristek bisa pula mengerjakan proyek dan desain bangunan atau pabrik dari rumah. Bagi guru bisa membuat video pembelajaran semenarik mungkin dari rumah. Dan semua nya bisa membuat penelitian lalu menerbitkannya dalam paper ilmiah di jurnal nasional maupun internasional. Pekerjaan-pekerjaan tersebut bisa menjadi tambahan pemasukan baginya, tapi terutama bukan uang, karena nafkah adalah tanggung jawab suami. Pekerjaan-pekerjaan tersebut dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan bagi para ibu dan istri.

Saya pribadi siap menggunakan jasa para ibu sarjana bila memang beliau-beliau bersedia mengerjakan beberapa proyek yang saya miliki.

Maka indonesia akan punya surplus atau tambahan sarjana yang turut membangun negeri. Tapi tetap Indonesia akan punya Ibu-ibu yang merawat keluarga dengan apik dan cantik, secantik dirinya.

-Amu Darya-

Ledia Hanifa : Posyandu "Media Pencerdasan Perlindungan Anak"


Ledia Hanifa bersama ketua CD3,warga,dan Bapak Camat Batununggal

pksbandungkota.com - Ledia Hanifa, S.Si,M.Psi.T yang terpilih sebagai anggota DPR RI 2014-2019 dari daerah pemilihan Jawa Barat I, melakukan kunjungan kerja perorangan di Kecamatan Batununggal. Acara ini dihadiri oleh 150 orang tokoh wanita dari kecamatan tersebut menghadiri reses yang dilakukan oleh Bu Ledia. Dalam reses nya, beliau menerangkan tentang pentingnya perlindungan terhadap anak, dimana seperti yang kita tahu kini masalah perlindungan anak menjadi sorotan bersama. Bahkan kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua mereka sendiri kini semakin meningkat. Hal ini menjadi perhatian Bu Ledia dan mengajak bersama para tokoh wanita di kecamatan tersebut untuk menjadikan hal ini sebagai salah satu fokus kerja di Kecamatan Batununggal.
Bu Ledia bersama peserta
Salah satu tindakan konkrit yang dapat dilakukan adalah dengan memaksimalkan posyandu-posyandu yang ada. Sebab pencerdasan tentang perlindungan anak dapat dilakukan lewat kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh posyandu. Dimana para orang tua pasti akan membawa anak mereka untuk mendapatkan vaksin kesehatan dan disana bisa dijadikan sarana untuk memberikan konsultasi tentang pendidikan anak sehingga pemahaman tentang perlindungan terhadap anak dapat meresap ke dalam hati para orang tua.



Ibu Ledia dan Ibu Posyandu
Tak lupa juga, Bu Ledia memberikan semangat pada para peserta yang mayoritas adalah sosok seorang ibu. Dimana mereka adalah tonggak peradaban yang dapat melindungi masa depan anak mereka dengan memberikan hak-hak anak dan juga mendidik anak untuk menjalankan kewajibannya. Sehingga hak dan kewajiban berjalan beriringan dan hal tersebut merupakan salah satu tindakan orang tua dalam melindungi anak mereka dari lingkungan yang semakin semrawut dan rawan bagi tumbuh kembang anak. dacin pada ibu penggerak posyandu sebagai simbolis dari perwakilan kecamatan.
Ibu Ledia dan peserta
Acara reses pun ditutup dengan memberikan sembako oleh Camat Batununggal dan Bu Ledia sebagai simbolis pada peserta.
Semoga dengan menggerakkan ibu-ibu posyandu, perlindungan terhadap anak dapat meningkat akibatnya anak-anak kita dapat berkembang baik secara fisik dan psikis sehingga masa depan mereka akan lebih cerah dan dapat menjadi generasi yang lebih baik dari sebelumnya.
(Ipah & Eva)

Setelah Konsolidasi, PKS Kota Bandung mengadakan Pembekalan DPC

Written By alimoel soekarno on Minggu, 24 Mei 2015 | 11.51


Bandung (23/05/2015). Setelah mengadakan Konsolidasi para Pengurus PKS dari tingkat Kecamatan hingga tingkat Kelurahan, mulailah saatnya DPD PKS Kota Bandung mengadakan Pembekalan untuk Peningkatan Kapasitas Pengurus DPC. Acara yang rencananya hari ini dihelat mulai dari 07.30 hingga 17.30 WIB dilaksanakan di Aula Kantor Dewan Pengurus Wilayah Jabar (DPW Jabar) Jl. Sukarno-Hatta. Alasan tempat pelaksanaan acara tidak lain karena Kantor DPD sedang direnovasi sehingga tidak memungkinkan untuk diadakan ditempat tersebut.

Acara dibuka oleh Bidang Perencanaan, Haldi Panjaitan yang memaparkan arahan-arahan untuk Bidang-bidang di DPC. Pembicara selanjutnya dari Bidang Perempuan, Runingsih atau yang biasa dipanggil Teh Eno. Beliau memaparkan ruang lingkup kegiatan yang dicanangkan oleh Bidpuan.

Selanjutnya oleh Bidang Kaderisasi dan dari Kewilayahan, pemaparan demi pemaparan tersebut diharapkan dapat diserap maksimal oleh para Pengurus DPC untuk kemudian dilaksanakan diwilayah masing-masing. [Al]

Berantas Korupsi, Aher Keluarkan Pergub

Written By alimoel soekarno on Jumat, 22 Mei 2015 | 23.47

BANDUNG - Dalam rangka pencegahan korupsi terintegrasi dan peningkatan penyampaian Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI melakukan Penandatanganan Pernyataan Bersama tentang Komitmen Pencegahan Korupsi Terintegrasi di lingkup Provinsi Jawa Barat (22/05). Kegiatan yang bertempat di Aula Barat Gedung Sate, Bandung, tersebut dihadiri Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher), serta para walikota dan bupati se-Provinsi Jawa Barat atau yang mewakili.

Pada acara kali ini selain Komitmen KPK – Gubernur, KPK – Kepala Daerah, juga ditandatangan Pergub No. 55 tahun 2015 tentang LKPHN di lingkungan Pemda Prov Jabar.

Pernyataan komitmen bersama ini diharapkan mampu mendongkrak secara signifikan tingkat kepatuhan wajib LHKPN di lingkup Provinsi Jawa Barat yang per akhir April 2015 kasih berapa pada tahap kisaran 43 persen.

Menurut Adnan, Kepatuhan melaporkan LHKPN menjadi sarana kontrol masyarakat dan menguji integritas para penyelenggara negara. "Selain itu, kewajiban pelaporan LHKPN juga memberikan sejumlah manfaat bagi pelapornya. Antara lain: menanamkan sifat kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab; membangkitkan rasa takut untuk korupsi; serta mendeteksi potensi konflik kepentingan di antara tugas-tugas publik dan kepentingan pribadi," kata Adnan.

Sebelumnya, pada 18-21 Mei 2015, telah dilakukan serangkaian kegiatan peningkatan kepatuhan penyampaian LHKPN, antara lain: asistensi pengisian dan pengumpulan LHKPN di Pemprov Jabar, PT Perkebunan Nusantara VIII, Badan Geologi Kementrian ESDM, Kanwil BPN Prov Jabar, dan Perum Bulog Divisi Regional Jawa Barat. juga kegiatan koordinasi pengelolaan dan percepatan kepatuhan LHKPN yang dilakukan di PT Pindad (Persero) dan PT Pos Indonesia (Persero). Di sana, tim KPK menemui pimpinan instansi untuk melakukan review atas kepatuhan LHKPN dan regulasi serta memberikan rekomendasi untuk percepatan kepatuhan LHKPN.

Aher menjelaskan, penyelenggara negara dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau aparatur sipil negara yang tidak melaporkan, tidak mengumumkan, dan tidak bersedia diperiksa harta kekayaannya dapat dikenakan tindakan ataupun sanksi sesuai dengan ketentuan perundang undangan yang berlaku.

“Terkait dengan sanksi, itu sesuaikan dengan perundangan, dimulai dari teguran keras, pengurangan tunjangan, penurunan pangkat, sampai kepada pemecatan. Tentu saja ini akan menjadi bagian dari keputusan yang nanti akan diambil oleh BKD nantinya, lewat PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil),” tambah Gubernur. 


Bekal Pilkada, Sukses Memilih Pemimpin Dengan Akal Sehat

Written By alimoel soekarno on Kamis, 21 Mei 2015 | 23.04

Doc. Google


Oleh : Adi Supriadi

Pemilu Presiden sudah selesai, 2015 Kita kembali dihebohkan dengan Pilkada diberbagai di daerah Republik yang Kita cintai ini, dari Sabang sampai Marauke, dari sunda (jawa) hingga pulau selat karimata (kalimantan), usaha-usaha licik dilakukan berbagai Partai Politik dengan mengganggu pengurus Partai lain dan memecahnya menjadi berantakan, padahal sebelumnya sudah membisiki KPU untuk tidak membolehkan partai yang pecah kepengurusannya mengikuti Pilkada, inti dari semua yang mereka lakukan hanya ingin menang dan entahlah apa yang diinginkan setelah menang dengan cara jahat itu. Jika caranya sudah jahat maka tak mungkin orang baik yang melakukannya, sudah bisa dipastikan mereka adalah Penjahat.

Ketika Kita memilih Pemimpin harus hati-hati, karena setiap pilihan tidak hanya didunia dirasakannya tetapi diakhirat akan diminta pertanggungjawabnya, sudah banyak Penulis mengenai ini. Kali ini, Penulis ingin berbagi tentang bagaimana Kita menilai Pemimpin sebelum jatuh memberikan pilihan.

Berikut ini beberapa kesalahan Pemilih ketika menentukan pilihannya baik itu dalam Pilkada maupun Pemilu Presiden.

1.      Halo Effect
Pemilih hanya melihat “kesamaan” tertentu yang ada dalam diri Pemimpin. Hal itu menimbulkan impresi yang bagus dalam diri Pemilih sehingga menutupi kualitas negatif tertentu dalam diri calon pemimpin yang seharusnya membuat Calon Pemimpin tidak layak dipilih. Misalnya: Kesamaan pendidikan, alumni universitas yang sama, ras/suku  yang sama, Ayah sang calon Pemimpin adalah orang yang berjasa dalam diri pemilih, menggunakan model baju yang disukai dan banyak lagi alasan memilih yang tidak logis.

2.      Horn Effect
Kebalikan dari efek halo yaitu   Pemilih melihat sesuatu hal dalam diri calon Pemimpin yang tidak disukainya. Hal ini menimbulkan impresi negatif dalam diri pemilih sehingga menutup kualitas baik tertentu dalam diri calon Pemimpin yang seharusnya membuat Sang Calon Pemimpin ini dapat diterima sebagai Pemimpin daerah atau negara tersebut. Misalnya: Suku/ras yang berbeda, Calon Pemimpin dari universitas yang tidak disukai oleh sang Pemilih, wajah sang calon mirip dengan "mantan"  yang dibenci oleh sang Pemilih dsb.

Solusi:
Fokuskan pada faktor yang benar-benar berhubungan dengan kreteria kepemimpian dalam Islam, Stop Asumsi, Stop prasangka / kesan positif dan negatif anda, Bandingkan pandangan Anda dengan pemilih lain, konsultasikan dengan Ahli agama yang lurus bukan ahli agama yang cendrung berpolitik.

3.      Contrast Effect
Efek ini sesuai dengan pepatah " kalau anda berada di antara orang-orang yang gemuk, anda akan kelihatan lebih kurus.  Atau bila anda berada di antara orang-orang berpenampilan buruk, anda terlihat lebih cantik.. Misalnya pada saat anda akan memilih  5 kandidat Pemimpin daerah Anda dengan kualitas personal yang buruk, lalu muncul kandidat ke 6 yang berkualitas sedikit lebih baik, maka anda akan merasa menemukan kandidat yang tepat. Padahal belum tentu.

Kandidat Pemimpin ke-6 ini kelihatan berkualitas baik karena dikontraskan dengan 5 orang sebelumnya yang sudah membuat anda jengah dan lelah.

Solusi : Ajukan pertanyaan dalam diri Anda,”Jika Kandidat Pemimpin ini adalah satu-satunya Calon Pemimpin yang akan saya pilih, apakah saya akan memilihnya?” Jika tidak, Anda konsultasikan lagi dengan Ulama (karena pertimbanganya pilihan Anda akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat).

4.      Merasa Diri yang Terbaik
Terkadang ada juga para Pemilih yang merasa dirinya paling layak menjadi calon pemimpin ketimbang calon-calon yang ada. Narsis yang berlebihan, sehingga tidak ada keungulan sedikitpun dari semua kandidat. Kenapa Anda nggak "nyalon" aja kalo gitu.

5.      Tidak memiliki informasi banyak tentang calon Pemimpin
Pemilih tidak punya infirmasi mendalam atau luas tentang kandidat pemimpin yang akan dipilihnya, atau lebih parah Pemilih tidak tahu tujuan yang mau dilihat dalam diri calon pemimpin.

Solusi: buatlah daftar informasi positif dan negatif sekaligus tentang calon pemimpin Anda dan konsultasikan dengan yang lebih memahami dan bukan partisan.

6.      Terlalu Mengandalkan Perasaan
Perasaan terkadang bisa berpengaruh dalam setiap Kita mengambil keputusan. Tetapi mendasarkan keputusan hanya menggunakan feeling saja membuat Anda akan menyesal nanti karena kondisi emosi akan dipengaruhi media yang pastinya sudah diibayar oleh sang kandidat pemimpin demi kemenangannya.
Perbanyaklah mendekat kepada Allah Swt, Tidak memilihpun berarti Anda mengiyakan pilihan buruk yang ada,  Memilih dengan logis dan menggunakan pendekatan religius adalah cara terbaik.  Selamat Menjemput Kemenangan!

Jabar MoU Proyek Pelatihan Tenaga Kerja Wanita

Doc. Google


Jakarta - Guna meningkatkan keterampilan Tenaga Kerja Wanita (TKW), merepresentasikan Pemprov Jawa Barat, Wakil Gubernur Deddy Mizwar melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) proyek pelatihan tenaga kerja wanita, dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dan Tahir Foundation, di Sasana Bhakti Praja Lt.3 Gd.C Kemendagri Jl.Medan Merdeka Utara No.7 Jakarta Pusat, Kamis (21/05).

Tak hanya Jabar, MoU ini juga diikuti oleh 5 provinsi lainnya sebagai pilot project di tahun pertama ini, antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Ditargetkan, Jabar, Jateng dan Jatim masing-masing dapat mencetak 1.000 TKW berkompeten baru, sedangkan NTB, NTT, dan Maluku masing-masing ditargetkan mencetak 500 TKW terlatih, sehingga total akan ada 4.500 TKW baru yang mampu bersaing dari keenam provinsi.

Proyek Pelatihan Tenaga Kerja Wanita Indonesia senilai Rp. Satu trilyun  ini diadakan selama lima tahun, mulai Agustus 2015 hingga 2020 mendatang. Dengan mengusung tagline "Wanita Indonesia Hebat", pelatihan TKW ini meliputi 5 bidang pelatihan, yaitu bidang bahasa (Inggris dan Mandarin), bidang hospitality, bidang keperawatan, bidang dasar bisnis, dan pengembangan karakter.

Dalam MoU disebutkan bahwa tugas dan tanggung jawab pihak provinsi meliputi membantu penyediaan fasilitas selama 5 tahun, membantu pencarian calon peserta pelatihan TKW dengan pendidikan minimal SMA/SMK/Sederajat, serta membantu koordinasi dengan lembaga terkait yang ikut menunjang pelaksanaan pelatihan TKW ini.

Wakil Gubernur Deddy Mizwar, yang hadir mewakili Jabar, mengungkapkan bahwa jatah 1.000 peserta pelatihan masih belum menutupi kebutuhan, terkait jumlah TKW asal Jabar yang termasuk paling banyak di Indonesia.

Menurutnya, sebagai tindak lanjut program strategis ini, kedepan perlu ada penganggaran khusus untuk peningkatan ketenagakerjaan wanita di Jawa Barat.

"Kurang sebenarnya, tapi kan perlu disiapkan juga infrastruktur lainnya, seperti tempat (pelatihan)-nya untuk menambah (peserta)," ujar Wagub ditemui usai acara MoU.

" Kalau (program) ini berjalan baik pada tahun ini, kita akan perlu mengembangkan ini. Saya kira tidak ada salahnya kita membantu dari APBD kita," tambahnya.

Turut hadir dalam acara Menteri Dalam Negeri RI Tjahjo Kumolo, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, Pemimpin Tahir Foundation Dato Sri Prof. Dr. Tahir, serta Gubernur/Wakil Gubernur/Perwakilan ke-5 Provinsi lainnya.

Netty Heryawan Ajak Konsumsi Pangan Lokal



BANDUNG -- Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat Netty Heryawan memberi pengarahan pada Acara Sosialisasi Festival Keanekaragamanan Makanan Berbahan Baku Lokal Tahun 2015 di Gedung Lelang Komoditi Agro Bandung, Rabu (21/5). Sosialisasi Festival Keanekaragamanan Makanan Berbahan Baku Lokal Tahun 2015 ini diselenggarakan atas kerjasama Dinas Perindustrian dan perdagangan Jawa Barat dengan Indonesian Chef Association.

Dalam arahannya, Netty mengatakan Festival ini harus dimaknai sebagai perjuangan dalam mempertahankan bahan pangan lokal. Saat ini pangan yang dikonsumsi Indonesia mengalami kerawanan karena berasal dari negara lain, seperti halnya terigu dan beras yang masih impor.

“Padahal, masih banyak bahan pangan lainnya yang dapat dikonsumsi seperti singkong, ubi bahkan kacang-kacangan,” tuturnya.

Untuk itu, Netty mengajak seluruh peserta yang terdiri dari PKK, pelajar dan mahasiswa untuk melakukan proses ideologisasi konsumsi pangan yang ada. Dengan kata lain mengganti nasi sebagai sumber karbohidrat utama dengan tanaman pangan sumber karbohidrat lain. 

"Sehingga dari segi politis, kita dapat membantu pemerintah untuk menekan angka import pangan yang dapat digunakan untuk kesehatan contohnya," tandas Netty. 

Festival Keanekaragamanan Makanan Berbahan Baku Lokal Tahun 2015 akan dilaksanakan pada tanggal 30 – 31 Mei 2015 di Mall Cihampelas Walk. Makanan yang akan dilombakan yaitu berupa cookies, chips, cake/bolu, desert, main couse dan minuman yang berbahan baku cereal dan kacang-kacangan. Selain itu juga akan dibuat tumpeng setinggi 1 M berwarna pelangi yang pewarnanya terbuat dari kacang-kacangan serta cookies dan cake berbentuk Surili.

Alih Kelola SMA/SMK, Jabar Lakukan Identifikasi Aset


BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengungkapkan salah satu masalah yang dihadapi Pemprov yaitu terkait dengan pengelolaan aset. SMA/SMK yang aset nya masih dimiliki pihak lain tidak bisa diperbaiki dan dibangun oleh Pemprov. 

“SMA dan SMK yang ada di kabupaten kota seharusnya tidak ada masalah apa-apa, tapi ternyata ada SMA yang belum punya aset, ada yang asetnya milik desa. Kedepannya harus ditata, harus jadi milik provinsi, harus dibayar desa nya. Nanti begitu penyelesaianya,” ujarnya pada Persiapan Percepatan Alih Kelola SMA dan SMK 2016 di Provinsi Jawa Barat digelar di Aula Barat Gedung Sate. 

“SMA dan SMK yang ada di kabupaten kota seharusnya tidak ada masalah apa-apa, tapi ternyata ada SMA yang belum punya aset, ada yang asetnya milik desa. Kedepannya harus ditata, harus jadi milik provinsi, harus dibayar desa nya. Nanti begitu penyelesaianya,” Kata Aher.

Hadir pula pada kesempatan itu Pimpinan Komisi V DPRD Prov Jabar, Plt. Sekda Iwa Karniwa, Kepala Perwakilan BPKP Jawa Barat Hamonangan Simarmata, Kadisdik Prov Jabar, Para kepala OPD Prov Jabar dan kadisdik dari kabupaten kota di Jawa Barat.

Menurut Aher, dalam konteks perencanaan untuk pelaksanaan alih kelola SMA/SMK menjadi urusan Provinsi maka perlu diidentifikasi dari berbagai aspek terkait dengan aspek Personil, Peralatan, Pembiayaan, dan Dokumen (P3D). Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) per Februari 2015, SMA/SMK di Jawa Barat mencapai 3917 sekolah, termasuk sekolah negeri dan swasta.

Saat ini ada sekitar 732 SMA dan SMK Negeri di Jawa Barat. Selain itu Pemprov Jabar akan membangun SMA dan SMK negeri di 129 kecamatan. Pembangunan sekolah tersebut sebagai upaya pemerintah menghadirkan wajah negara di daerah pelosok.

“Pembangunan SMA dan SMK baru, khususnya di kecamatan-kecamatan yang belum punya SMA/SMK negeri kita maksudkan untuk dua hal. Pertama, menjangkau layanan masyarakat sedekat mungkin terhadap masyarakat. Yang kedua, meluaskan jaringan dan daya tampung,” Kata Aher.

 
Support :

Tim Media DPD PKS Kota Bandung Jalan Brigjen Katamso no. 17 Phone: 022-7208303 / 7237260 - Redaksi menerima tulisan, opini, agenda dan Foto kegiatan - Kirim ke humas.pksbdg@gmail.com