Latest Post

Belajar dari Wanita Zaman Rasulullah

Written By Winter's profile on Senin, 22 September 2014 | 10.57

Mungkin tidak banyak yang tahu tentang siapa saja istri Rasulullah SAW, kebanyakkan dari kita hanya mengenal Khadijah dan Aisyah binti Abu Bakar. Padahal Rasulullah mempunyai istri sholehah lainnya yang bisa kita pelajari.
Maka dari itu, tujuan diadakannya kegiatan pengajian CD3 PKS Bandung adalah untuk mengambil hikmah dan mencari tauladan seorang muslimah yang Allah ridhai.
Bertempat di Mesjid Al Fitrah, di Sabtu sore yang begitu hangat, para peserta pun berkumpul dan tak lupa sebelum acara dimulai. Mereka menyetorkan hafalan Qur'an masing-masing pada penguji. Hal ini bertujuan agar majelis ilmu ini selalu diberikan rahmat Allah SWT.
Dilanjut materi oleh Bu Neneng Amiarti, dimana beliau menjelaskan beberapa istri Rasulullah yang patut diteladani.

Pertama, Umu Salamah ra. Beliau dinikahi Rasulullah SAW saat terjadi perjanjian Hudaibiyah, bisa di cek di Qs. Al Fath.
Kedua, Zainab binti Huzamah. Beliau begitu senang bersedekah sehingga di juluki "Ummul Masakin" yaitu ibu orang-orang miskin, dan itulah alasan Rasulullah SAW menikahi nya.
Ketiga, Khodijah binti Khuwailid. Beliau istri pertama Rasulullah SAW, murid pertama Rasulullah dan juga hanya beliau lah yang memberi Rasul keturunan, dan dia adalah tempat rasulullah untuk menyampaikan segala keluh kesah akan perjuangan dakwah. Dan Khadijah pun tak kalah dermawan, beliau memberikan seluruh harta nya untuk dakwah Islam.
Keempat, Aisyah binti Abu Bakar, beliau adalah istri ke dua Rasulullah, dan satu-satu nya yang dinikahi dalam status gadis, ibunda kita satu ini paling banyak meriwayatkan hadist Rasulullah SAW dan beliau terkenal dengan kecerdasan ya. Karena kemuliaannya, Allah pun hingga menurunkan ayat saat muncul gosip tentang istri Rasulullah satu ini.
Kelima, Asma binti Abu Bakar. Asma lah yang mengantarkan makanan ke Gua Hira saat Abu Bakar dan Rasulullah SAW bersembunyi dari kaum kafir yang ingin menghentikkan beliau dari hijrah nya.

Begitulah perjuangan para wanita di zaman Rasulullah SAW, bukan manja dan tak berdaya. Mereka adalah wanita-wanita kuat yang menjadi penyemangat Rasulullah SAW dalam berdakwah. Dan bukan hanya sifat nya saja yang perlu diteladani, namun kegigihan mereka dalam memperjuangkan Islam tegak di bumi. Perlu di acungi jempol, dan semoga kita bisa seperti mereka, meskipun tak sama tetapi mendekati.
Kita ikhtiar yang terbaik dan biarlah Sang Khalik yang menentukkan hasilnya. (Ipah)

Menuju Bandung Juara

Written By Winter's profile on Sabtu, 20 September 2014 | 12.55

Mang Oded, Wakil Walikota Bandung

Dalam acara life yang diselenggarakan oleh radio PRFM tanggal 19 September 2014 pukul 20.00 WIB, Wakil Walikota Bandung yang biasa disapa Mang Oded menjawab beberapa pertanyaan dan masukan warga kota Bandung.

Dari beberapa pertanyaan yang menjadi perhatian dan hingga saat ini masih terus diupayakan adalah penanganan kemacetan lalu lintas yang ada di kota Bandung. Mang Oded mengatakan bahwa memang mengurai kemacetan menjadi prioritas penanggulangan dari pemerintahan duet Emil-Oded.

Dalam mengurai kemacetan ini, langkah awal yang ditempuh dengan penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) antara lain PKL. Memang bukan semata PKL sebagai penyebab kemacetan, seperti paparan Ketua Paguyuban Kecamatan Asep Gufron, bahwa dunia hiburan, pusat perbelanjaan, pendidikan dan volume kendaraan baik sepeda motor maupun mobil, semua berkontribusi dalam kemacetan. Oleh karena itu, penyebab yang kompleks tersebut dimaklumi tak semudah seperti membalik telapak tangan. Paling tidak diperlukan 2 sampai 3 tahun Emil-Oded untuk bisa mengatasinya.

 Dalam mengakhiri bincang-bincangnya, Oded mengingatkan kepada seluruh pemuda yang ada di kota Bandung untuk terus berkreasi. Dikatakan bahwa pemuda punya potensi sangat besar, sehingga diberi ruang dan regulasi seluas-luasnya untuk berkreasi apapun, demi terwujud Bandung Kota Kreatif menuju Bandung Juara. (Frieda)

Jangan Menunggu

Written By Winter's profile on Kamis, 18 September 2014 | 10.43

ilustrasi

Jangan menunggu didengar
Karena telinga in ada dua dan mulut itu satu,mk seringlah diri in mendengar.

Jangan tunggu disuruh
karena tangan diciptakan sepasang begitupun kaki, diciptakan sepasang. Maka teladan lebih baik dibanding nasihat berupa ucapan.

Jangan tunggu dibutuhkan
karena manusia terlalu gengsi untuk meminta tolong, tapi diri in lah yg seharusnya berinisiatif mnjadi barisan terdepan utk menolong.

jangan tunggu dicaci
karena kita tidak tahu dr arah mana org akan mencaci kita, kebaikan pun bs menjadi pematik muncul nya cacian.

Jangan tunggu dimarahi
karena bisa jadi saat amarah itu menyembur diri kita. Ternyata diri in belum siap menerima nya

Jangan tunggu diberi
karena tangan di atas lebih baik dibandingkan tangan dibawah.

Jangan tunggu dihormati
Karena yang meninggikan derajat atau merendahkan bukanlah kuasa kita tapi itu pun terjadi karena takdir-Nya.
(Ipah)

PMI Makin Dekat di Hati


Kiprah PMI (Palang Merah Indonesia) dikancah internasional mulai diakui dunia Internasional. Hal ini terbukti dengan beberapa kali PMI dilibatkan dalam pertemuan untuk membahas isu-isu global. Seperti disitir dari sambutan Ketua PMI Pusat yang dibacakan oleh Wakil Walikota Bandung, Mang Oded, kemarin bertepatan tanggal 17 September 2014, di kantor PMI Jalan Aceh, Bandung. Tak lupa disampaikan pula salam dari H.M. Yusuf Kalla selaku Ketua PMI Pusat kepada segenap jajaran PMI Bandung.

    Dalam usianya yang genap 69 tahun tak henti terus melakukan penyempurnaan. Baik segi infrastruktur seperti mendirikan pusat pendidikan dan pelatihan, penambahan mobil ambulance, mobil untuk donor darah, kendaraan tangki air, mobil amphibi hagglund, dan armada udara berupa helikopter. Begitu juga dalam segi pelayanan kepada masyarakat makin ditingkatkan dengan lebih profesional dan berkualitas.

    Semoga di tahun mendatang PMI makin lekat dengan masyarakat dan siap siaga di setiap saat. Meski dalam kondisi darurat bisa bergerak cepat dalam melakukan pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan. Dirgahayu PMI, teruslah melayani.(Frieda)

Al Qur'an Kalibrasi Hati

Written By Anak Panah yang Terbang Melesat on Selasa, 16 September 2014 | 15.02


sumber gambar: news.tridinamika.com
Kalibrasi adalah sebuah proses mengembalikan ukuran kepada standar asal. Misalkan timbangan beras, secara berkala haruslah dikalibrasi agar tepat memberi informasi bahwa 1 Kg memang 1 kg bukan malah jadi 2 Kg. Hati kita juga berfungsi sebagai timbangan untuk menimbang yang baik dan buruk, yang indah dan tak indah, yang benar dan salah. Repot tentunya bila timbangan tersebut tidak tepat memberi informasi, yang buruk akan kita lihat baik dan yang baik akan kita lihat buruk. Al Quran adalah kalibrator hati kita.

Umar bin Khatab mengamuk di momen Rasulullaah wafat dan berjanji akan menebas siapapun yang mengatakan bahwa Rasul telah tiada; beliau enggan menerima kenyataan buruk tersebut. Lalu apa yang dilakukan oleh abu bakar? Abu bakar menyadarkan kembali persepsi Umar tentang kenabian dan kerasulan dengan sebuah kalimat:

wahai Umar . . . . . andai kau menyembah Muhammad, hari ini Muhammad telah pergi, tapi jika kamu menyembah Allah, percayalah sesungguhnya Allah tetap hidup dan kekal selamanya.”

Dan lalu Abu Bakar melanjutkan dengan membaca Ali Imran 144:
[3:144] Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Umar pun menyahut, “Seakan-akan aku baru mendengar ayat ini.”

Umar seperti baru teringat kembali ayat tersebut dan ia pun menjadi tenang serta menurunkan pedangnya.
Kita bisa melihat di sini bahwa kondisi hati Umar di kalibrasi ulang dengan ayat tersebut. Yang awalnya galau kembali rasional. Maka kita bisa melihat salah satu fungsi Al-Qur’an adalah mengkalibrasi hati kita; membuat bisikan-bisikan hati kita kembali normal dan baik.

Salah satu ketidaknormalan hati tentu adalah perasaan malas beramal. Kalibrasilah hati kita dengan melantunkan ayat yang sesuai. Di sinilah peran hafalan Qur’an menjadi penting. Dan, menurut pengalaman penulis, ayat dalam bahasa arab akan lebih mengena dibandingkan tafsiran bahasa Indonesia yang lebih sempit dalam makna. Di sinilah peran hafalan Qur’an menjadi penting.

Bila tiba-tiba harus berjuang melawan sesuatu yang tak terkalahkan maka lantunkanlah surat Muhammad ayat 7 dalam bahasa arab sambil memaknai maknanya bahwa barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolong dan meneguhkan kedudukan.

Bila tiba-tiba merasa malas untuk beramal, maka lantunkan Surat Taubah ayat 41 sambil memahami artinya, “Bergeraklah kamu baik dengan rasa ringan dan rasa berat….”

Bila tiba-tiba merasakan sedih dalam perjuangan ini, maka lantunkan At-Taubah ayat 40 yang memiliki arti, “Janganlah kau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”.

Dan banyak ayat lainnya, yang akan menjadi penguat. Bukan hendak mengecilkan pengaruh kata-kata mutiara, namun entah bagaimana, ayat-ayat Al-Qur’an memberikan dorongan yang lebih kuat, mengkalibrasi lebih tepat, dan memberi makna yang lebih dalam. (Dikutip dari Artikel Rio Aurachman: Menjadi Da’i yang Tak Pernah Lelah, Web Fimadani)

Mungkin itu menjadi sebab mengapa Mang oded, Wakil Walikota Bandung memberikan penekanan khusus perihal belajar Al-Quran saat memberi di SMPN 40 Bandung, Senin, tanggal 15 September 2014. Beiau berpesan agar siswa SMPN 40 menimba ilmu sebaik mungkin dan ingatlah selalu untuk terus mengahafal AL Quran. Karena pada umur ini, adalah masa perubahan yang benar-benar harus dijaga sebaik-baiknya dengan aktifitas positif. Mang Oded sendiri senantiasa berusaha menjadi penghafal Al Qur’an meskipun kini sudah menjadi pejabat publik. Justru saat menjadi pejabat public, saat amanah menjadi demikian berat, Al Quran sebagai kalibrator hati kian dibutuhkan.


Mang Oded Saat Menjadi Inspektur Upacara di SMPN 40 Bandung

Mari kita bayangkan sikap apa yang akan dimiliki oleh pelajar Bandung jika ia mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an surat Luqman: 14; Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Mari kita bayangkan bagaimana semangat pelajar bandung dalam meraih prestasi di kelas bila mereka mengulang-ulang hafalan Al Qur’an  surat Al-Mujaadilah ayat 11 : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.


Bersama Al Quran, kota Bandung akan benar-benar menjadi Bandung Juara. Mungkin benar, ada pendapat bahwa orang tua siswa ketika menentukan sekolah anaknya, akan mencari sekolah yang punya program peningkatkan hafalan AL Qur’an. Mungkin benar kata Ustadz Yusuf MAnshur, trend nama untuk bayi yang baru lahir adalah Hafidz dan Hafidzah. (Fanfiru)

Sudah Sehatkah Komunikasi Kita dengan Anak-anak Kita?

Bagaimana Menjadi Orang Tua Berkualitas dengan Komunikasi sehat


Perkembangan emosi anak, maju atau mundurnya, sangat ditentukan oleh komunikasi”, tutur Bunda Ery Sukresna dalam mengawali seminar parenting yang diselenggarakan di Al Hikmah Preschool, Margamakmur. Ciwastra. Kali ini beliau membahas “Bagaimana Menjadi Orang Tua Berkualitas dengan Komunikasi sehat”.
Dalam pemaparan 30 menit tersebut, dijelaskan bahwa berprofesi sebagai orang tua membuat  kita harus senantiasa belajar. Menjadi orang tua berarti mendaftar pada suatu profesi di luar latar belakang pendidikan kita, di luar gelar pendidikan yang kita sandang, namun disaat yang bersamaan kita dituntut untuk memperoleh hasil kerja yang gemilang. Sehingga, menjadi orang tua adalah menjadi seorang pembelajar.
Dalam menggeluti ‘pekerjaan’ sebagai orang tua, salah satu yang menjadi kemampuan dasarnya adalah komunikasi. Komunikasi merupakan hal fundamental dalam membangun hubungan antara orang tua dan anak. Ironisnya, menurut penelitian, seorang anak setiap harinya rata-rata menerima 450 komentar negatif dan 75 komentar positif dari orang tua, guru, dan orang-orang dewasa lainnya. Lebih jauh lagi, memarahi seorang anak dapat mematikan 250 sel otaknya.
Secara umum, komunikasi dapat dibagi menjadi komunikasi instruktif dan komunikasi produktif. Orang tua sering kali menggunakan komunikasi instruktif untuk menyampaikan informasi pada anak. Larangan untuk makan sebelum mencuci tangan, jangan menangis setelah terjatuh, tidak boleh kotor, dan sebagainya. Informasi ini disampaikan begitu saja sehingga mengakibatkan anak tidak mengerti penyebab larangan atau perintah yang diberikan.
Agar anak dapat mempertahankan informasi yang ia dapat sampai besar, ia harus menerima informasi dari batang otaknya, atau dalam istilah kedokteran disebut sebagai otak reptil. Otak reptil ini hanya akan merespon dengan 2 perilaku: taat atau melawan. Selanjutnya, apabila informasi ingin diserap secara optimal, maka sistem limbiknya harus diaktifkan. Sistem limbik berkaitan dengan emosi. informasi akan cepat ditangkap dalam perbincangan yang menyenangkan. Ketika seorang anak bahagia, otak yang aktif adalah bagian neokorteks. Dalam kondisi ini, mereka dapat berpikir tingkat tinggi.
Namun sehari-hari, sering kali orang tua melakukan aktivitas yang menghambatan sampainya informasi secara optimal. Kecenderungan untuk menghardik, menunjuk-nunjuk, menyakiti, dan meyindir menghalangi esensi sebenarnya dari informasi yang diberikan. Sering membuat anak merasa dirinya bersalah akan mengakibatkan anak tumbuh sebagai orang yang rendah diri. Namun, terlalu menganggap mereka sebagai teman dan banyak mentolerir kesalahannya akan membuat anak menjadi lemah dan tidak mandiri.
Pada seminar kali ini, Bunda Ery Sukresna mengangkat komunikasi produktif sebagai solusi untuk menjadi orang tua berkualitas. Komunikasi produktif berarti mengajak anak-anak untuk berpikir dan bereksplorasi dengan fenomena yang terjadi terhadap dirinya dan lingkungan sekitarnya. Orang tua diharapkan tidak memberikan arahan langsung, namun berupa pertanyaan-pertanyaan yang memfasilitasi seorang anak untuk bisa menganalisa. Dengan cara seperti ini, anak akan lebih mengerti esensi dari suatu perintah atau larangan dari orang tuanya.
Lantas sudah produktifkah komunikasi kita? komunikasi sehat memiliki ciri-ciri:
1.      Penerima pesan dan pengirim pesan mempunyai persepsi yang sama.
Eye contact sangat dibutuhkan saat komunikasi langsung. Paling tidak selama 5 menit, orang tua dapat menatap mata anak selama berbicara. Dengan eye contact, orang tua dapat menganalisa sudah sejauh mana, atau sudah sebanyak apa informasi yang mereka tangkap. Libatkan pula para ayah dalam komunikasi, karena logika laki-laki cenderung lebih kuat sehingga perbincangan dengan anak juga menjadi perbincangan yang logis.
2.       Terjadi hubungan yang hangat dan akrab.
Hubungan yang hangat dan akrab akan membuka kesempatan percakapan selanjutnya.
3.       Saling mengerti dan memahami
4.       Saling bekerja sama
5.       Anak lebih banyak bicara, orang tua lebih banyak mendengar.
Seringkali orang tua memiliki keinginan untuk mengajarkan banyak hal pada anaknya tanpa arah komunikasi yang berimbang. Dalam membangun komunikasi sehat, seorang anak diajak untuk berbicara dan bereksplorasi sementa orang tua akan lebih banyak mendengar pendapat mereka.
Komunikasi yang sehat akan membentuk anak-anak dengan kemampuan spiritual yang tinggi dan emosi yang stabil. Anak-anak seperti ini secara sosial akan menyenangkan bagi sekitarnya. Lalu seiring dengan itu, kognitifnya juga akan ikut melejit.

Sebagai penutup, Bunda Ery Sukresna menyampaikan bahwa dalam pola komunikasi sehat, orang tua akan sering menghitung, mengukur, dan membuat aturan main untuk orang tua dan anak secara fair.
Jangan hanya memperlihatkan dompet pada anak saat uangnya sedikit, perlihatkan pula jika isinya ketika sedang banyak. Dengan begitu, anak akan belajar percaya dan ia juga akan belajar memahami akibat untuk dirinya
(NAJ)

Film dan Proyek Peradaban

Written By Anak Panah yang Terbang Melesat on Senin, 15 September 2014 | 12.59

sumber: mylovemichellesshortfilmfestival.com
Saat kita mengira film, penampilan, dan karya seni menjadi sekedar pendulang uang, ternyata sudah sejak lama film menjadi motor bergeraknya masyarakat menuju kebaikan. Saat dulu kita mengeluh film Indonesia berkutat di masalah pornografi dan klenik, ternyata kini kita harus bertindak. Kita tak boleh sekedar mengeluh. Karena lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada terus mengutuk kegelapan.

Salim Al Fillah, dalam buku fenomenalnya yang berjudul “ Saksikanlah bahwa Aku Seorang Muslim” mengungkapkan banyak fakta tentang kuatnya dunia seni dan sastra, yang mana film ada di dalamnya. Paradigma yang ada di Indonesia sebenarnya memang cenderung memisahkan seni dan budaya dari ilmu pengetahuan pada umumnya. Namun seni dan ilmu pengetahuan harus terus bergandengan tangan. ITB adalah Institut teknik yang di dalamnya ada fakultas seni rupa tempat orang belajar melukis, membuat patung, hingga merancang desain mobil terbaru. Salim berkata: “Ternyata, untuk menjadi sebuah peradaban, setiap proyek pemikiran harus disupport oleh proyek budaya.”

Pernah ada masa-masanya jilbab demikian terlarang di Indonesia. Tidak sedikit siswi SMA Negeri Unggulan di Bandung yang dikeluarkan dari sekolahnya karena konsisten berjilbab. Namun kini silahkan kita melihat dari timur hingga ke barat. Betapa mudahnya kita menemukan, jilbab-jilbab yang rapih dikenakan. Bagaimana asal muasal keajaiban itu berasal? Salah satunya karena konsistensi pejuang jilbab dulu kala, yang ngotot pakai jilbab meski ijazah SMA taruhannya. Sebab lainnya ada sebuah pesan yang marayap ke khalayak rakyat bahwa jilbab itu lazim dan indah bila dibudayakan. Siapa yang menyebar pesan itu?

Salim A Fillah mengatakan bahwa lagu “Aisyah Adinda Kita” dari Bimbo dan “Lautan Jibab” karya Emha Ainun Najib menjadi sebuah senandung, syair, keindahan yang nyaman diulang-ulang tua muda manusia Indonesia. Beriut kutipan Aisyah Adinda Kita:

Aisyah adinda kita yang sopan dan jelita
Angka SMP dan SMA sembilan rata – rata
Pandai mengarang dan organisasi
Mulai Muharam 1401 memakai jilbab menutup rambutnya
Busana muslimah amat pantasnya

Salim pun mengatakan bahwa dengan bantuan sastra dan seni di mana film ada di dalamnya, sebuah ide pemikiran dan nasehat bisa berkembang pesat. Bila kita lupakan sastra dan seni (yang mana film ada di dalamnya), ide kita akan beresiko ditelan zaman.  Mengapa pemikiran-pemikiran Ibnu Taimiyah tidak populer padahal begitu cerdas. Salim menyitir kata Ustadz Musyaffa ‘Abdurrahim dalam Membangun Ruh Baru, “Karena Ibnu Taimiyah tidak didukung oleh para penyair!” Sebuah paradox yaitu kasus Omar Al Khayyam sang ahli matematika dan astronom brilian namun justru terkenal dengan Ruba’iyyat, kumpulan puisi empatan. Justru mahsyur lah ia karena sastra dan seni (yang mana film ada di dalamnya). Sebuah nasehat yang dibungkus sastra dan seni, akan mahsyur dan mengakar kuat. Sebagaimana lirik Aisyah Adinda kita berikut:

Aisyah adinda kita yang sopan dan jelita
Index Prestasi tertinggi tiga tahun lamanya
Calon insinyur dan bintang di kampus
Bulan Muharam 1404 tetap berjilbab menutup rambutnya
Busana muslimah amat pantasnya

Jepang mulai menyiarkan film captain tsubasa di kisaran tahun 1990-an. Anak-anak SD yang menonton TV jepang itu meihat idolanya bermain bertanding sejak SD hingga cerita berlanjut, tsubasa pergi ke eropa, berlatih, pulang ke Jepang, lalu membuat Jepang jadi juara dunia. Mungkin itu baru terjadi di film, namun kisah itu hidup di jiwa bocah-bocah jepang, mengental, mengendap, dan menjadi visi mereka untuk diwujudkan di masa yang akan datang. Bertahun-tahun setelah itu, sepakbola Jepang bangkit, menjadi tuan rumah piala dunia, dan mampu bersaing di kancah Internasional. Padahal dulu Jepang sempat belajar sepakbola pada Indonesia. Di Indonesia pun terjadi, novel plus film Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih berhasil memberi semangat berbusana muslim, melanjutkan karya Bimbo “Aisyah Adinda Kita”.

Sastra dan seni (yang mana film ada di dalamnya) memberikan visi, energi, teladan, cinta, rasa di jiwa para pemirsanya. Sastra dan seni bagaikan ruh bagi peradaban ini. Maka ia adalah pedang bermata dua, bisa membangkitkan bisa pula menghancurkan. Mari kita evaluasi tontonan kita dan anak-anak kita sekarang. Apakah tontonan di saluran TV swasta itu akan membentuk anak-anak kita menjadi pahlawan Indonesia berikutnya atau justru pecundang masa depan, kita memohon perlindungan kepada Allah.

Himbauan Bapak Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pasca hadir di acara penganugerahan Festival Film Bandung 2014: “Majulah perfilman Indonesia. Film yang menginspirasi dan mengedukasi masyarakat akan makin dicari. Karena masyarakat Indonesia makin sejahtera, berpendidikan dan relijius.”

Aher di Acara Festival Film Bandung 2014
sumber gambar: fanpage Facebook AHER for President
Tak sekedar membuat film, para sineas kita (dan seniman lainnya) perlu membuat film yang penuh energi, visi, cinta, cita-cita, pelajaran, edukasi, inspirasi, dan punya sentuhan reliji. Maka karya mereka akan hidup selamanya-hingga kiamat merapat. Mereka abadi tak hanya sebagai karya seni dan sastra, namun juga menjadi ruh dan spirit bagi jutaan pemirsanya.. Sebagaimana lirik Aisyah Adinda kita bagian terakhir


Aisyah adinda kita tidak banyak berkata
Aisyah adinda kita dia memberi contoh saja
Ada sepuluh Aisyah berbusana muslimah
Ada seratus Aisyah berbusana muslimah
Ada sejuta Aisyah berbusana muslimah
Ada sejuta Aisyah, Aisyah adinda kita

Benar bukan? Bimbo dan karyanya benar-benar “abadi”. Bahkan kini tak hanya sejuta, 100 juta putri Indonesia menjadi Aisyah Adinda kita yang berjilbab. 

Allah lah sumber segala kekuatan, segalanya puji hanya bagi Allah.

Oleh: Fanfiru

Bahan Bacaan:

Puluhan Ummahat Siaga Kembali Sejahterakan Ummat

Written By PKS Bandung on Minggu, 14 September 2014 | 12.39



Silaturrahim Bidpuan DPD-DPC

 
 BANDUNG – Bidpuan mengadakan acara Silaturrahim Bidpuan DPD-DPC. Acara ini dilaksanakan Sabtu, (13/9) di rumah dinas wakil Wali Kota Bandung Oded M. DanialSiti Mumtamah istri wakil wali kota Bandung memberikan kata sambutan sekaligus membuka acara. Dengan menghadirkan Ummu Syauqi sebagai pemberi tausiyah, peserta diberikan materi motivasi sebagai bekal menjalankan tugas kedepan. Total peserta yang hadir terdiri dari 60 peserta perwakilan DPC dan 20 peserta perwakilan DPD. Satu hal yang menjadi pertimbangan kedepan yaitu rencana pertemuan koordinator Sekolah Ibu sekota Bandung dan pembinaan untuk koordinator Bank Sampah PKS sekota Bandung.





Acara yang menghabiskan waktu setengah hari ini semakin mempererat hubungan bidpuan DPD dan DPC. Pasalnya program-program yang sudah dicanangkan bisa terkontrol dengan baik, saling bersinergi antara pengurus yang bekerja dibelakang layar dan mereka yang langsung turun ke lapangan. Acara ini juga diisi oleh apresiasi Bidpuan DPC teladan, presentasi Biro KK (Ketahanan Keluarga) dan Biro PK2P (Peningkatan Kapasitas Kader Perempuan).


Acara ditutup dengan dialog untuk menggali permasalahan di lapangan dan mencari solusi yang tepat. Lalu diakhiri dengan solat berjamaah dan makan siang bersama.

Tak Lagi Menjabat, Hati Mesti Tetap Dekat

Written By PKS Bandung on Jumat, 12 September 2014 | 20.29

Anggota DPRD PKS Budi Haryana
Budi Haryana

Jabatan adalah hal yang terkadang dapat merubah hidup seseorang. Entah berubah ke arah yang lebih baik atau berubah ke arah yang lebih buruk. Terkadang jabatan lah yang menjadi latar belakang seseorang melakukan sesuatu. Meski pun dia menyukai nya atau tidak. Seorang dosen wali harus mengajari anak didiknya tentang suatu hal, terlepas dia suka atau tidak dengan isi curhat anak didiknya, namun karena jabatannya sebagai dosen wali, dia harus melaksanakannya.

Saat banyak anggota parlemen yang menduduki kursi wakil rakyat, begitu juga hal yang wajar jika ada rakyat yang meminta untuk dibantu dan ditolong, karena para pejabat itu memiliki tanggung jawab pada rakyat yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.

Lalu bagaimana jika masa jabatan sebagai wakil rakyat ini sudah habis, masihkah mereka harus peduli pada rakyat? Atau membiarkan rakyat dibantu oleh parlemen yang baru?
Di sinilah nurani ikut campur, di sinilah kuat atau lemahnya iman kita diuji.
Teringat kisah salah seorang Anggota DPRD Kota Bandung dari Fraksi PKS, Budi Haryana. Beliau baru saja mengakhiri masa tugasnya sebagai wakil rakyat periode 2009-2014. Tapi ada satu hal yang patut kita teladani dari kisah ini,


-===================

Beberapa bulan lalu seorang Bapak menelpon, menyampaikan bahwa anaknya yang masih duduk di bangku SMA tiba-tiba sakit mendadak. Karena panik, ia bawa langsung anaknya ke RSHS.

Kendala bagi masyarakat kecil adalah ketidaktahuan masalah peraturan, bahkan ketika BPJS sudah diberlakukan. Kesalahpahaman juga menimpa para pelaksana di rumah sakit, petugas Rumah Sakit tetap meminta rujukan dari Puskesmas, sedangkan Puskesmas tetap tidak memberi, karena pasien tidak diperiksa di Puskesmas terlebih dahulu. Seharusnya mengikuti urutan prosedur : Rujukan dari dokter atau Puskesmas dahulu baru ke RS.

Aleg PKS ini pun coba membantu proses Bapak ini. "Alhamdulillah lancar, akhirnya pasien bisa dirawat di RSHS tanpa keluar biaya." sambungnya.

Masih ada lagi kisahnya Aleg satu ini, di akhir Agustus lalu.

===================
Rabu sore ketika mengecek Handphone, ada SMS "Pak, istri Pak Yanto nu di Nagrog ngantunkeun". Pak Yanto ini salah seorang simpatisan PKS di Ujung Berung

Esok pagi ia pun bergegas menuju Ujung Berung untuk bertakziah. Pukul tujuh pagi, dengan menaiki sepeda Budi pun meluncur menuju Nagrog.

Ketika ditanya alasan mengapa melakukan semua itu, Budi menuturkan,
"Jadi anggota dewan atau sudah tidak lagi, tugas advokasi dan silaturahim di masyarakat tetap harus berjalan. Tidak menduduki jabatan formal sekalipun tugas sebagai Politisi tidak boleh berhenti. Teringat  sebuah ucapan  'Nahnu Du'at qobla kulli syaiiin' -kita adalah Da'i sebelum yang lainnya."

Begitulah kita, sebagai umat muslim, sebelum kita menjadi apapun di dunia ini, kita dilahirkan sebagai seorang da’i. Meskipun tidak memiliki jabatan penting di pemerintahan, meskipun masa bakti pada negara secara administratif telah usai, tetapi pengabdian pada ummat tidak akan pernah berhenti. Karena kebaikan itu tidak perlu menunggu kita menjadi seseorang. Karena kebaikan itu cukup dilakukan dengan niat yang tulus dan bertujuan membahagiakan bagi banyak khalayak umum, bukan sekedar manusia tetapi juga bagi kebaikan alam semesta. (Ipah)

Mengapa Orang Indonesia Kuat?

sumber: sundul.com

Dalam buku David and Goliath karya Malcolm Gladwell, kita bisa membaca sebuah kisah menarik. Tahun 1937 Jerman diprediksi akan mengebom London-Inggris dari udara. Aksi militer itu dipredisksi akan melukai 1,2 juta penduduk. Pemerintah tidak tinggal diam. Mereka menyiapkan rumah sakit jiwa untuk mengatasi Depresi warga yang mungkin ditinggalkan orang terkasihnya. Atau mungkin untuk mengobati pilu yang mendera karena hidup dalam terror. Tapi apakah masyarakat benar-benar hancur dan depresi?

1940 terjadi pengeboman 57 malam beruntun. Puluhan ribu ton bom jatuh. 40 ribu terbunuh, 46 ribu terluka. Justru hal aneh yang terjadi. Psikiater Inggris Menulis:
“Oktober 1940 saya menyetir mobil di London Tenggara sesudah terjadi serangkaian serangan itu, Tampaknya tiap sekitar 90 meter kawah bom atau puing bekas rumah atau toko. Sirene berbunyi memberi peringatan (bahwa bom berikutnya akan jatuh) dan saya mencoba melihat apa yang bakal terjadi. Seorang biarawati menggenggam tangan anak yang dikawalnya dan bergegas. Hanya dia dan saya yang tampaknya mendengar peringatan itu. Anak-anak kecil terus bermain di trotoar, orang-orang terus tawar menawar di toko, seorang polisi mengatur lalu lintas dengan bosan, dan para pengendara sepeda menantang maut dan aturan lalulintas. Sejauh yang saya lihat tak seorang pun Memandang Langit.”

Mengapa orang Inggris tersebut seperti tak acuh pada bom yang akan membumi hanguskan kota mereka? Salah satu jawaban yang disodorkan adalah bahwa mereka sudah kebal. Kali pertama bom jatuh, mereka spontan histeris, menangis, meringis. Namun kedua kali ketiga kali keempat kali dan ternyata mereka masih selamat, mereka membuat kesimpulan bahwa mereka cukup kuat menghadapi bom-bom berikutnya.

Salah satu keajaiban manusia adalah manusia mampu belajar dan mengingat. Dalam Teknik Industri, mempelajari benda yang punya memori dan tidak punya memori akan sangat jauh berbeda perlakukannya. Untuk sistem atau benda yang bermemori kita menggunakan konsep Sistem Dinamis. Memori memberikan kelemahan karena adanya trauma, namun juga memberikan keuntungan yaitu bertumpuknya pengetahuan baru, atau kita sebut sebagai pengalaman. Pengalaman masa lalu akan kita jadikan sebagai peta untuk memandang masa depan.

Andaikan kita takut berenang. Akan berbeda ceritanya bila kita sudah pernah menceburkan diri ke air. Kita akan membuat kesimpulan, ternyata air tidak semenakutkan itu. Tanpa sadar, seiring hal baru yang kita alami, kita pun bertambah makin kuat. Semakin banyak pengalaman, semakin banyak trauma yang kita singkirkan, semakin kita kuat.

Mengapa orang Indonesia kuat? Karena sebagai satu nusantara kita memiliki banyak pengalaman. Mulai dari memperjuangkan kemerdekaan, diinvasi oleh belanda, menghadapi pemberontakan PKI, masa terpimpinnya orde baru, carut marut reformasi, dan hal berat lainnya. Kita pernah susah payah menjaga keutuhan NKRI, mulai dari Aceh hingga Timor Leste. Pengalaman-pengalaman berat itu akan membuat kita siap mengahadapi tantangan zaman.

Bagaimana carany agar orang Indoenesia senantiasa kuat? Bila pengalaman menjadi salah satu sumber penguat, maka sejarah menjadi obat penguat kita. Kata sejarah diadopsi dari bahasa arab yaitu Syajaroh yang artinya akar. Sebagaimana akar pohon, sejarah akan menguatkan siapapun untuk berdiri tegak. Bila sejarah dilupakan, tinggal tunggu jatuh tempo, pohon akan rubuh. Membaca sejarah Indonesia, mengambil hikmahnya, menceritakan kembali, adalah modal awal membangun kekuatan bangsa ini.

Tak becukup diri dengan sejarah nasional, kita pun boleh mengintip sejarah lainnya. Sebagai agama dengan penganut terbesar di nusantara, Islam dan sejarahnya layak kita pelajari. Warisan budaya 1 milennium nyaris 5 abad dari sejarah Islam, adalah mata air yang berharga untuk kita reguk. Bagaimana nabi Muhammad membangun peradaban arab jahiliyyah hingga bisa menjadi peradaban besar? Jawaban pertanyaan itu akan sangat berharga untuk diaplikasikan di Indonesia, agar Indonesia mampu menjadi Negara yang kuat nantinya.

Pengalaman kita akan membuat kita kuat mengahadapi tantangan dan masalah. Bahkan masalah dan cobaan membuat kita merasa tangguh, bahagia dan digdaya. Sebagaimana celetukan warga Inggris yang hampir kena bom Jerman:
Aku berbaring di sana merasa bahagia tak terlukiskan dan menang. “Aku dibom!: aku terus berkata seperti itu kepada diri sendiri- mencoba-coba kalimat itu seperti baju baru untuk melihat apakah cocok. “Aku Dibom!..aku dibom-aku!”
oleh: Fanfiru
 
Support :

Tim Media DPD PKS Kota Bandung Jalan Brigjen Katamso no. 17 Phone: 022-7208303 / 7237260 - Redaksi menerima tulisan, opini, agenda dan Foto kegiatan - Kirim ke humas.pksbdg@gmail.com