Latest Post

Oase di Tengah Dahaga Bangsa

Written By PKS Kota Bandung on Senin, 21 Juli 2014 | 15.34



"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang"
(QS. Ar-Ra'du : 28)

Bagaikan oase di tengah padang pasir. Menyaksikan ini di depan mata bak oase di tengah dahaga puasa. Bahkan, dahaga bangsa. Dahaga pada kebaikan yang masih tertanam pada diri setiap kita.

Ahad (20/7) itu, kebetulan DPC PKS Lengkong sedang mengadakan Yaumul Qur'an (Sehari bersama Qur'an) di Masjid Al Ikhlas di kawasan Turangga, Bandung. Tak sengaja, di sela-sela istirahat dzuhur tiba-tiba terlihat sesosok pria dengan seragam khas yang sudah tidak asing lagi. Ya, seorang polisi! 

Diam-diam kami dekati sosok tersebut, ternyata beliau sedang khusyuk membaca Alqur'an. Maasyaa Allah... Kami nikmati benar lantunan qur'an darinya, sungguh merdu. Tak sampai sana saja, polisi itu tiba-tiba sujud sambil menangis ketika bacaannya menemui ayat sajada. 

Terenyuh bathin kami. Di tengah banyaknya kesedihan yang melanda bangsa ini, masih ada aparat negara yang jiwanya bersih, bahkan senantiasa menyucikan diri di bulan Ramadhan ini. Dengan amanat profesinya untuk mencegah kejahatan, kami jadi teringat ayat dalam Alqur'an Surah Ali Imran ayat 110 :

" Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..."

Ya Allah... Ramadhan ini, jadikanlah waktu bagi kami memperbaiki amalan kami dengan sebaik-baik amalan
Karuniakan kepada kami pemimpin, jajaran pemerintahan, dan aparat negara yang ta'muruuna bil makruf wa tanhauna 'anil munkar, serta beriman kepada-Mu
Jadikan kami bangsa yang bertaqwa kepadaMu dengan sebaik-baik taqwa
Jadikan tanah kami, Indonesia, menjadi tanah yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur...
Aamiin. (RD)

Ratusan Geng Motor di Rumah Mang Oded. Ada Apa?


BANDUNG -Apa yang muncul dalam fikiran anda ketika kami sebut nama Geng Motor? Hampir bisa ditebak, rata-rata orang akan bereaksi kurang nyaman setelah mendengar nama tersebut. Tapi, beda halnya dengan Komunitas Club Motor Bandung yang 'diasuh' oleh Wakil Walikota Bandung., Oded M Danial

Sebanyak 160 Club Motor dari komunitas Club Motor Bandung mengikuti acara buka puasa bersama Oded M Danial, Ahad (20/7). Setelah sehari sebelumnya Wakil Walikota Bandung ini menggelar buka puasa bersama Yatim Piatu, kembali rumah dinasnya sengaja dikosongkan dari perabotan demi menjamu komunitas Club Motor ini. Bahkan, Mang Oded meracik Mie Kocok spesial khusus untuk Komunitas Club Motor Bandung ini.

Jangan remehkan anak-anak muda penyuka motor ini. Pasalnya, pada acara yang digelar kemarin sore ini mereka menunjukkan kebolehannya tilawah qur'an. Tak hanya itu, bahkan kini dalam tubuh komunitas tersebut telah dibentuk divisi religi, termasuk di dalamnya ada tim marawis. Luar Biasa! Belakangan, banyak juga mantan narapidana yang ikut komunitas ini dan turut melakukan aktivitas positif di dalamnya. Alhamdulillah...

Acara buka bersama ini memang bukan sekedar buka puasa biasa. Komunitas Club Motor menyerahkan sumbangan untuk Palestina sebesar masing-masing sepuluh juta rupiah untuk tiap Club. Sumbangan ini rencananya akan disalurkan melalui Rumah Zakat Indonesia. Rencananya, untuk memperluas kebaikan melalui komunitas ini, Oded M Danial akan membentuk komunitas baru yang diketuai olehnya sendiri bernama 'Sunda Matic', lima agustus nanti. (RD)

Merasakan Kesejukan Mushola BIP

Written By PKS Kota Bandung on Jumat, 18 Juli 2014 | 20.28


Letak mushola di lantai 3 Bandung Indah Plaza, Jl Merdeka Bandung. Mall yang identik dengan keriuhan feysen dan kuliner, begitu masuk mushola terasa kesejukan. Tidak seperti mall lain yang menempatkan mushola di lantai dasar atau di basement. Bahkan ada yang menempatkam mushola ditempat yang seadanya saja. Mushala BIP justru ada dilantai paling atas 

Mushola cukup luas, terpisah antara laki-laki dan perempuan. Tempat wudhunya nyaman dan bersih walupun tidak terlalu luas. Ada rak penyimpanan sepatu. Ada seorang pengurus mushola yang mengatur jamaah tatkala waktu sholat tiba. Beberapa waktu lalu saya sholat maghrib di BIP antrian jamaah yang akan sholat nampak berjubel. Saya merasaakan suasa religius di tengah keramaian mall.

Belum semua mall menyediakan yang nyaman dan memadai. Peraturan Daerah Kota Bandung sudah mengatur tentang hal ini. Dalam Perda Kota Bandung no. 5 tahun 2010 tetang Bangunan Gedungpasal 81 : 
"Setiap bangunan gedung untuk kepentingan umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung, guna memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan gedung untuk beraktivitas di dalamnya meliputi: ruang ibadah, ruang ganti, ruang bayi, toilet, tempat parkir, tempat sampah, serta fasilitas komunikasi daninformasi". Penjelasan pasal ini menyebutkan "Penyediaan ruang ibadah direncanakan dengan pertimbangan mudah dilihat, dicapai, dan diberi rambu penanda, serta dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk kebutuhan ibadah"

Implementasi dan sosialisasi Perda ini arus gencar dilakukan Pemerintah Kota Bandung. Kedepannya harus menjadi dasar dalam pemberian izin mendirikan bangunan mall, pertokoaan dan pusat perbelanjaan lainnya.

Masjid AL-Imtiyaad Sucor, Oase ditengah Deretan Ruko


Satu sudut dalam deretan ruko di Surapati Core (Sucor) nambak berbeda dan megah. Ada kubah besar warna biru dan ornamen khusus yang membedakan dengan bangunan sekitarnya. Ini masjid Al-Imtiyaad, posisinya berdempetan dengan ruko-ruko. Lokasinya di Surapati core Jl. PHH Hasan Mustafa Bandung

Masjid ini dibangun tahun 2011 dari dana pribadi seorang donatur. Awalnya kapling kosong, kemudian dibangun mejadi masjid yang megah empat lantai yang menampung 2000 jamaah. Tempat wudhu terletak dilantai 2. 

Kepengurusan masjid ini dibawah Yayasan AL-imtiyaad. Meskipun ditengah pertokoan aktivitas masjid cukup hidup, ada kajian Ba'da Maghrib dan Madrasah Diniyah anak-anak. Selama bulan Ramadhan kegiatan masjid beragam ceramah shubuh, kajian Dhuha, kajian terjemah, kultum dzuhur, takjil gratis. 10 hari terakhir Ramadhan tak luput menyelenggarakan i'tikaf

Semoga Masjid Al-Imtiyaad ini menjadi contoh pusat perbelanjaan lainya di Kota Bandung. Semangat dalam aktivitas  ekonomi akan senantiasa berdampingan dengan semangat keislaman.

Setitik Tawakkal dari Lembah Badar


Ketika kaum Quraisy dengan angkuhnya maju menuju lembah Badar, Rasulullah mengangkat kedua tangannya seraya berdoa kepada Allah swt, “Ya Rabbi, jika pasukan kecil ini sampai binasa, tidaklah akan ada lagi yang menyembahMu dengan hati iklas”. Abu Bakar As Shidiq mencermati wajah Rasulullah SAW terlihat sedih, lalu ia berusaha menenangkan hati junjungannya seraya berkata, “Ya Rasulullah demi diriku yang ada ditangan-Nya. Bergembiralah! Sesungguhnya Allah SWT pasti akan memenuhi janji yang telah diberikan kepadamu”. 

Saya ingin menggaris bawahi kata “Sesungguhnya Allah SWT pasti akan memenuhi janji”. Hal ini semacam kata kunci dalam peperangan bagi umat muslim, bahwa kita perlu optimis. Tentu dalam peperangan serangan kecurangan, kebrutalan akan bersanding dengan ketakberdayaan, dan keterbatasan selalu akan ditemui. Tetapi jika merujuk janji Allah, tak ada kata yang mustahil untuk meraih kemenangan.

Jangan beri ruang sedikitpun untuk ketidakberdayaan dan kekalahan. Optimisme ini bisa terbentuk manakala syarat-syarat untuk bisa mendapat pertolongan Allah telah ditunaikan. Sekarang tinggal masing-masing kader untuk bisa introspeksi. Adakah aturan Allah yang dilanggar dalam bermuamalah dalam  kehidupan sehari-hari. Dan adakah jarak antara aku dan Dia? Jika semua jawaban tidak, yakinlah bahwa Allah berada di pihak kita. Tentunya seiring dengan berjalannya bulan Ramadhan kita pun sudah menumpuk amalan-amalan yang disukai Allah. Sehingga tidak ada alasan untuk degradasi semangat dalam menghadapi pertarungan sengit, brutal dan tak berbatas  di dunia maya maupun di dunia nyata.

Fenomena Perang Badar insyaallah akan berulang. Meski kekuatan kita jauh lebih kecil tetapi insyaallah dengan militansi yang kuat dan soliditas seluruh kader dan tingginya ruhiyah yang dimiliki, insyaallah kemenangan akan teraih. Allah pasti akan menuntun  kita. Biarkan Allah yang bekerja. Dia hanya butuh tangan dan kemauan besar kita. Faidzaa 'azamta fatawakkal 'alallah. Setelah berazam dan berusaha, maka tawakkal adalah langkah berikutnya. Maka apa lagi yang perlu dikhawatirkan?   
Allahu Akbar...Allahu Akbar....Allahu Akbar. (Frieda)    

Kiat Menghapal Al-Qur'an, Ustadz Abdul Aziz : Mulailah Menghapal Juz 30

Written By PKS Kota Bandung on Rabu, 16 Juli 2014 | 22.16

Al-Quran adalah mukzijat luar biasa dari Allah yang diperlihatkan kepada kita kaum muslimin. Kalau bukan karena mukzijat, mustahil manusia bisa menghapal 30 Juz Al-Qur'an. Kemudahan menghapal Al-Qur'an telah dijamin Allah SWT dalam firmannya :

"Sesungguhnya Kami telah mudahkan Al-Quran untuk pelajaran. Maka adakah orang yang mengambil pelajaran ? " (Al-Qamar : 17)

Jaminan kemudahan ini berlaku untuk segala bentuk interaksi bersama Al-Qur'an; membaca, menghapal dan memahaminya. Mulailah dengan yang mudah dijangkau seperti juz 30, sehingga nanti bisa beradaptasi untuk hapalan yang lebih besar

Mengapa sebaiknya kita mulai dengan menghafal juz 30 ? Ayat-ayatnya relatif sudah sering didengar, pendek dan jumlah ayat disetiap surat sedikit. Setelah menyelesaikan juz 30, ada penghapal yang melanjutkan ke juz 29, 28, 27 dan seterusnya. Ini merupakan kiat, tidak ada nash yang mengharuskan. Dengan cara seperti ini tercipta kesiapan menghapal Al-Qur'an yang terus-menerus dan terhindar dari kegagalan ditengah jalan.

Mengapa umumnya menghapal tidak dimulai dari Al-Baqarah? karena karakteristik surat ini ayat-ayatnya panjang, tidak semudah juz 30. Walaupun kembali kepada kesungguhan kita saat menghapal. Ketika serius insya Allah dari juz berapa pun kita mulai tidak menjadi masalah. Jadi tujuan memulai hapalan dari juz 30 agar kita terlatih menghapal dan terbangun kesabaran untuk menyelesaikan 30 juz.

Sumber : Menghapal Al-Qur’an itu Mudah, Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc


Penjara Stanfrod, Ramadhan, dan Perubahan

sumber: wiki.shanti.virginia.edu

Stanford prison ecperiment (SPE) adalah sebuah percobaan tentang perilaku manusia di penjara. Percobaan ini dilakukan di replika penjara di ruang bawah tanah universitas Stanford, Amerika, tahun 1971. Philip Zimbardo yang memimpin penelitian tersebut berperan sebagai kepala penjara. Dua puluh empat orang direkrut secara acak untuk berperan sebagai sebagai napi atau sebagai sipir. Berbagai kejadian dan kasus diperagakan. Namun sayangnya penelitian ini dihentikan hanya dalam waktu enam hari. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena secara menakjubkan semua pemeran sandiwara tersebut sangat menjiwai peran mereka, atau bisa kita katakan terlalu menjiwai percobaan tersebut. Sipir benar-benar menekan bahkan menyiksa secara psikologis dan fisik. Napi pun bersungguh-sungguh ingin memberontak. Bahkan Zimbardo yang memimpin penelitian ini, yang berperan sebagai kepala penjara, juga terbawa suasana. Ia mengizinkan beberapa siksaan sipir kepada napi. Beberapa peserta penelitian tidak kuat menanggung beban tersebut dan akhirnya mengundurkan diri. Penelitian usai. 

( sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Stanford_prison_experiment).

Belajar dari kisah Stanford tadi,kita mendapatkan informasi bahwa manusia dapat menjadi buruk saat lingkungannya mengondisikan seperti itu. Berlaku pula kebalikannya, manusia bisa super baik saat sekelilingnya bernuansa sama, sebagaimana nuansa replika penjara Stanford membuat para peserta percobaan seakan menjadi orang lain. Ramadhan didesign oleh Allah menjadi bulan yang spesial. Bahkan dikatakan bahwa setan pun dibelenggu.

Diriwayatkan dari Abi Hurairah Ra., bahwasanya Rasul Saw. bersabda: apabila telah datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibukakan, pintu-pintu-pintu neraka ditutup rapat dan setan-setan dibelenggu. ” (HR. Muslim)

Kebaikan seperti menemukan musim seminya untuk tersemai dan berbuah. Maka kita melihat yang tak berjilbab menjadi berjilbab, yang tak sholat malam mendadak sibuk taraweh, yang malas sodaqoh jadi semangat berinfaq, yang jengah berdakwah jadi panitia sanlat. Seakan udara membisik-bisiki telinga umat untuk terus berbuat baik. Momentum yang sangat sayang bila kita lewatkan.

Untuk Diri Sendiri
Mari kita manfaatkan waktu itu untuk naik tangga ke tingkatan diri yang lebih baik. Selepas lebaran tak hanya baju saja yang baru tapi juga jiwa kita. Jiwa yang kuat, ibadah yang mantap, badan yang sehat, manajemen diri yang ketat. Ibarat kita ingin menumbuhkan kecambah kebaikan di diri kita, ramadhan sedang menjadi hujan gerimis yang menyuburkan kecambah itu menjadi tunas. Ramadhan menyediakan pestisida yang menghancurkan hama-hama dosa kita. Diri yang baru akan muncul di satu syawal ini, insyaAllah. Satu syawal kita akan muncul dengan kebiasaan ibadah yang naik, pemahaman akan islam yang kian membaik, juga akhlak diri yang kian menarik. Maka program pembinaan diri dan ibadah menjadi satu hal yang perlu kita rencanakan dengan apik.

Untuk Masyarakat
Sebagai da’i kita mendapatkan peluang yang jarang terulang. Masyarakat terpapar oleh radiasi kebaikan dari lingkungan ramadhan. Saat ini mudah rasanya mengajak orang shalat, gampang sepertinya mendorong orang berakhlak islami, tak sulit tampaknya mencegah maksiat. Saya membayangkan bahwa di telinga setiap orang kini sedang ada selang yang menjadi jalan tembus menuju hati. Setiap nasehat yang bergema di udara, akan meluncur bagaikan lewat jalan tol langsung ke sanubari tiap orang. Tiap orang akan menjadi mudah untuk diajak kepada kebaikan. Mubadzir dan sungguh “kufur nikmat” jika bulan ramadhan ini lewat begitu saja tanpa isnpirasi yang kita sebar kepada orang lain. Mari selain sibuknya kita dengan diri sendiri, tambah kesibukan juga dengan partisipasi pada da’wah dan membantu orang lain. Sebar syiar islam, status nasehat di media sosial, menjadi panitia agenda ramadhan, mengajak salat tetangga dan lain sebagainya

As you grow older, you will discover you have two hands: one for helping yourself, the others for helping others. - Audrey Hepburn

Semakin kita dewasa kita akan paham bahwa kita memiliki dua tangan, satu untuk menolong diri kita, dan tangan satunya untuk menolong orang lain- Audrey Hepburn . (Fanfiru)

Catatan Hati Seorang Saksi - Di balik Pilpres 9 Juli


Malam itu ketika sedang asyik bertilawah, tiba-tiba ponsel berdering, ...ah abaikan saja. Namun segera kusahut ponsel ketika panggilan masuk dari nomor yang sama.  Dari seberang suara ingin memastikan apa aku tetap bersedia menjadi saksi untuk capres dan cawapres Prabowo Subianto - Hatta Rajasa, besok tanggal 9 Juli 2014. Dan ketika aku nyatakan siap , tetap saja masih disangsikan. Mengapa ? Oh ternyata karena waktu ada taklim gabungan hari kemarin aku minta ijin tak hadir karena sakit. ”Benar, untuk duduk di bawah sakit, tapi InsyaAllah jika duduk di kursi aku bisa bertahan sampai sore, Bu”, begitu penjelasanku. Singkatnya deal, aku tetap tercatat sebagai saksi.

Antusiasme warga di TPS 45  perlu diacungi jempol. Belum juga jam tujuh pagi, sebagian kursi tunggu sudah diisi warga, bahkan beberapa yang sudah lanjut usia. Memang kalau dicermati pilpres kali ini banyak menyedot perhatian massa.  Pilpres jadi bahan tutur dari tukang sayur hingga tetangga yang insinyur. Tak luput di dunia maya pun, nama Prabowo dan Jokowi bertabur.

Pencoblosan masih berlangsung saat tiba-tiba Ketua TPPS menawarkan kepada kedua saksi untuk pendampingan ke rumah warga yang sakit. Langsung aku menawarkan diri, tentu dengan minta ijin pada saksi nomor dua. Dilema memang, disatu sisi saksi tak selayaknya tinggalkan  lokasi kecuali ada saksi pengganti, untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan. Di sisi  lain 2 surat suara  yang diperuntukkan untuk warga sakit, harus bisa dipastikan aman  sampai  tangan. Semua kupertimbangkan terlebih dahulu sebelum pergi. Akhirnya, kuputuskan pergi. TPS di Melong, Cimahi ini kutitipkan pada hakim teradil saja.

Ditengah  proses pemungutan suara berjalan, seorang petugas menyodorkan berkas Berita  Acara untuk ditanda tangan  saksi nomor dua dan sret, kertas itu ia tandatangani. Giliran disodorkan padaku, dengan senyum kukatakan mohon maaf simpan dulu saja.  Apa jadinya jika belakangan ada keberatan yang aku ajukan, tapi Berita Acara sudah dibubuhi tanda tangan? Itu pertimbangannya. 

Ketika adzan Ashar berkumandang proses penghitungan berakhir. Alhamdulillah, Prabowo mendapat 177 suara dan Jokowi 112 suara dengan 7 suara tidak sah.  Kembali aku disodori berkas Berita Acara untuk ditanda tangani. Untuk kedua kalinya aku minta maaf , belum bisa membubuhkan tanda tangan. Beruntung sikap tegas ini bisa dipahami meski beliau menjelaskan, bahwa ini semata untuk menyingkat waktu mengingat sudah sore. Dengan ringan dan senyum kukatakan “Tak mengapa Pak, mari kita selesaikan tugas dengan sempurna”.

Tak  lama kami semua dapat menarik napas lega, tak ada keberatan yang perlu dituliskan, proses berjalan dengan lancar. Sebelum berpisah, kuucapkan maaf dan terima kasih pada saksi nomor dua. Hari itu, kami bekerja dalam damai. Meski dalam suasana persaingan, tapi kami bisa melewatkan dengan kedamaian. Akhirnya aku melenggang pulang dengan Formulir asli C1 ditangan. Satu harapanku, semoga kertas berharga yang bernama  C1 ini dan dari saksi lain di seluruh Indonesia selamat sampai ujung penghitungan di KPU pusat. (Frieda)

Marshmallow, Ramadhan, dan Sukses Masa Depan

Written By Anak Panah yang Terbang Melesat on Sabtu, 12 Juli 2014 | 08.00

gambar: indonesiasetara.org

Stanford Marshmallow Experiment (SME) adalah salah satu eksperimen psikologi yang paling terkenal dalam sejarah. Penelitian dilakukan pada kisaran tahun 1960 dan 1970, dipimpin olehWalter Mischel, seorang professor di Universitas Stanford. Dalam penelitian ini kumpulan anak kecil ditawari dua dilema. Di dalam sebuah ruangan tertutup, terdapat satu buah marshmallow yang dapat ia makan. Namun dibuatlah sebuah perjanjian, jika sang anak kecil mau menunggu tidak makan sampai peneliti kembali ke ruangan, maka ia akan mendapatkan dua marshmallow. Memilih satu atau dua tentu kita memilih dua. Tapi menunggu untuk suatu waktu adalah sebuah hambatan yang tidak enak. Beberapa anak kecil  mengikuti percobaan ini. Ada kelompok A yang tidak menunggu lama, selepas peneliti pergi, marshmallow tersebut langsung habis ditelan. Ada kelompok B yang bersedia menunggu dan menunggu hingga peneliti datang kembali ke ruangan dan dia pun mendapatkan marshmallow lebih banyak. Kelompok  ini mampu menunggu dan menahan diri untuk kenikmatan yang lebih besar di masa depan. Dalam rekaman eksperimennya terlihat bagaimana lucunya ekspresi bocah-bocah itu menahan dirinya untuk tidak makan marshmallow.

Hasil dari penelitian ini hasil yang menarik. Di masa depan, ternyata kelompok B, yang mau menunggu, memiliki capaian hidup yang lebih baik dibandingkan kelompok A yang tidak mau bersabar dan langsung memakan marshmallow tersebut. Kelompok B memiliki nilai SAT yang lebih bagus (Nilai seleksi masuk perguruan tinggi di Amerika),  capaian akademik yang lebih baik, kebugaran dan kesehatan tubuh (Dinilai dari BMI- Body Mass Index), dan ukuran-ukuran lainnya. (sumber: http://www.webcitation.org/62C0yfhcJ )

Percobaan tersebut adalah simulasi dari kehidupan seluruh manusia. Seringkali kita digoda dengan marshmallow-marshmallow yang jika kita mau bersabar, kita akan mendapatkan marshmallow yang lebih banyak di masa depan. Sebuah dilemma kecil, antara membeli Smartphone model terbaru atau menabung untuk biaya kuliah. Kita paham bahwa biaya kuliah ini akan menghasilkan keuntungan lebih banyak di masa depan. Bahkan dari ilmu yang kita dapat melalui kuliah, kita akan mampu membeli lebih banyak smartphone. Namun ternyata kita sering tergoda untuk menghabiskan uang tersebut untuk smartphone baru. Kenikmatan-kenikmatan singkat yang harus kita lawan.

Bila kita ingat lagi masa lalu kita akan sadar betapa banyak waktu yang terbuang. Betapa kita tak mau bersabar sakit sedikit saja, akibatnya kita kehilangan peluang sukses masa depan. Dari penelitian di atas kita belajar sebuah fakta bahwa orang-orang yang mau bersabar dan mengendalikan dirinya akan mampu unggul dalam persaingan. Kemampuan menahan diri, sebuah kemampuan yang tampak sederhana, dan mudah dikatakan tapi ternyata berefek begitu besar.

“Barangsiapa yang kini berlemah lembut pada dirinya, maka di masa depan dunia akan kejam pada dirinya. Barangsiapa yang kini  kejam pada dirinya, maka di masa depan dunia akan berlemah lembut pada dirinya” (Sebuha Pepatah yang Penulis lupa sumbernya)

Ramadhan ini terjadi berbagai macam marshmallow berbentuk makanan, minuman, maksiat, dosa dan godaan lainnya. Ramadhan kali ini kita dipaksa untuk berlatih menahan diri untuk tidak memakan marshmallow itu agar di masa depan kita mendapatkan marshmallow yang lebih banyak. Agar di hari akhir nanti kita beroleh surga  firdaus. Agar di masa depan kehidupan kita diberi “kabar baik yang dipercepat” berupa hidup penuh berkah. Mudah-mudahan selepas dari ramadhan ini kita masuk sebagai bocah-bocah kategori B yang mampu menahan diri dari nikmat kehidupan dan tumbuhlah bibit potensi diri menjadi umat terbaik.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Qs.3:110

Oleh: Rio Aurachman

Ramadhan dan Otot Jiwa

Written By Anak Panah yang Terbang Melesat on Jumat, 11 Juli 2014 | 11.34

sumber: mangoesandpalmtrees.com

Roy baumeister adalah seorang professor psikologi dari Florida State University. Ia mendedikasikan hidupnya meneliti di bidang pengendalian diri. Ada sebuah eksperimennya yang terkenal. Dia meminta beberapa mahasiswa untuk berpuasa sebelum pergi ke laboratorium. Lalu sesampainya mereka di lab. Mereka diminta duduk dalam sebuah ruangan dengan piring berisikan lobak, coklat dan permen. Mahasiswa A boleh memakan apapun makanan yang ada di piring itu. Mahasiswa B hanya boleh memakan lobak saja. Setelah proses makan dimakan tersebut kedua kelompok mahasiswa diminta menyelesaikan sebuah teka-teki yang tidak mungkin terpecah. Ada fakta menarik yaitu ternyata kelompok A, yang boleh memakan coklat dan permen, mampu bertahan mengerjakan teka-teki itu selama 20 menit. Sedangkan kelompok B, yang hanya boleh memakan lobak, dan harus menahan keinginannya memakan coklat, hanya bisa bertahan 8 menit.  Ternyata ada kelompok mahasiswa ketiga yaitu mahasiswa C, yang berpuasa juga hanya saja tidak boleh memakan apapun dan belum melihat coklat dan permen, sehingga ia tidak harus melawan goadaan sebagaimana mahasiswa B. Bagaimanakah hasil prestasi teka-teki mahasiswa C? Ternyata sama dengan mahasiswa A, mampu bertahan 20 menit. Mampu mengalahkan kelompok B yang makan lobak. Perbedaan waktu tersebut adalah jarak yang besar untuk standar laboratorium.

Apakah kesimpulan dari penelitian tersebut? Tentu bukan berarti lobak membuat orang tak bisa kerjakan teka-teki. Peneliti mengambil kesimpulan bahwa yang dialami mahasiswa B, melawan godaan coklat dan permen, adalah sebuah hal yang melelahkan dan menguras energy. Sehingga energy jiwa mereka habis dan tak cukup untuk mengerjakan teka-teki. Baumesiter mengatakan, “Will power, like a muscle, becomes fatigued from overuse.” Artinya, motivasi itu seperti otot, bisa menjadi lelah ketika terlalu sering digunakan. (Sumber: buku “What the Most Successful People Do Before Breakfast” karya Laura Vanderkam)

Seringkali kita dinasehati bahwa Ramadhan adalah bulan latihan. Namun sering terbesit pertanyaan, apa yang dilatih di ramadhan ini. Latihan sholat? Bukankah tiap hari kita sholat. Penelitian di atas seperti memberikan jawaban. Latihan memperkuat otot jiwa kita.

Hidup manusia penuh godaan. Godaan baju baru, godaan makan makanan tak sehat, godaan gadget yang lebih canggih, godaan berbuat dosa. Menahan diri dari godaan ternyata tak sekedar mengatakan “tidak”. Ada sumber energi yang kita kuras saat menahan godaan tersebut. Maka mungkin kita merasakan lelah yang sangat saat menahan diri untuk tidak membeli motor baru secara kredit atau menjauhkan diri dari maksiat, butuh sebuah energi.

Dalam 10 kepribadian muslim, ada satu poin berjudul Mujahidun Linafsih (Berjihad Melawan Hawa Nafsu). Seringkali nafsu memang harus diperangi. Kadang nafsu yang diperturutkan mengantarkan kita menuju penyesalan. Namun ternyata memerangi hawa nafsu itu bukanlah perkara yang mudah. Butuh sumber energy yang mungkin habis dan membuat kita lelah. Tapi sumber energi jiwa itu ternyata diilustrasikan ahli sebagai otot, bisa lelah namun bisa juga dilatih, menguat, dan makin banyak kapasitasnya. Orang yang seharian bekerja di kantor, hanya duduk, tapi sepulangnya langsung ambruk di kasur, energi jiwanya terkuras.

Ramadhan dan puasanya ini bagaikan memberikan kita latihan otot jiwa agar kuat di masa depan. Latihan yang dilakukan di bulan puasa adalah memberi beban terhadap otot jiwa kita; beban menanggung godaan. Maka saya mengandai-andaikan selepas puasa energi jiwa kita akan kuat. Kita akan mampu berlama-lama mengerjakan tugas, berdiskusi, berpikir rumit, berdebat  bila perlu, mengambil keputusan dilematis, menganalisis, berpikir, dan kelelahan mental lainnya. Mungkin fakta itu pula yang menjadi alasan mengapa beberapa perang dalam sejarah islam dimenangkan saat bulan ramadhan, saat energi jiwa para sahabat sedang dalam posisi terkuatnya. Ramadhan melatih hati kita sehingga berjiwa baja, menjadi manusia yang siap memimpin peradaban dan mampu menanggung berbagai tantangan mental, yang tak sanggup dipikul oleh orang sezamannya

oleh: fanfiru
Bandung Malam yang Kelam, 30 Juni 2014
 
Support : Tim Media DPD PKS Kota Bandung Jalan Brigjen Katamso no. 17 Phone: 022-7208303 / 7237260 - Redaksi menerima tulisan, opini, agenda dan Foto kegiatan - Kirim ke humas.pksbdg@gmail.com