Latest Post

Gorila Ajaib dan Idul Fitri

Written By Anak Panah yang Terbang Melesat on Senin, 28 Juli 2014 | 18.36


Sumber Gambar: www.psychologytoday.com
Pemberian maaf tidak mengubah masa lalu, tapi meluaskan masa depan- Paul Boese
Forgiveness does not change the past, but it does enlarge the future. - Paul Boese
Percayakah kita bila ternyata ada gorilla lewat di depan kita,maka kita tidak akan sadar? Kita tentu ragu. Tapi Ternyata ada sebuah penelitian yang membahas itu, Penelitian itu berjudul The Invisible Gorilla (Gorilla yang tidak kelihatan). Penelitinya bernama Christoper Chabris dan Daniel Simons.

Mereka membuat film pendek mengenai dua tim yang saling oper bola basket, satu tim memakai kaus putih, satu lagi memakai kaus hitam. Para penonton film disuruh menghitung jumlah operan yang dilakukan tim putih dan mengabaikan tim hitam. Tugas itu sulit dan menyita perhatian. Di tengah video, seorang perempuan yang memakai baju goria muncul, menyebrangi lapangan, memukul-mukul dada, dan pergi. Si gorilla terlihat selama 9 detik. Ribuan orang telah menonton video itu, dan menakjubkannya sekitar setengahnya tidak melihat ada yang aneh, tidak menyadari ada gorila. Tugas menghitung dan mengabaikan tim hitam, menimbulkan kebutaan. (Sumber:Thinking, Fast and Slow, karya Daniel Kahneman, peraih hadiah nobel bidang ekonomi)

Coba anda lihat jendela rumah anda, barangkali barusan ada gorila yang baru lewat. Tentu saya hanya bercanda. Namun itu bisa saja terjadi. Saat anda fokus membaca tulisan ini, kita jadi abai kondisi sekitar. Fokus yang sangat intens pada satu tugas bisa membuat orang secara efektif buta.

Bagaimana dengan kehidupan kita ini. Apakah mungkin ada hal yang terlalu kita fokuskan sehingga kita buta terhadap “gorila” yang lewat di depan kita? Apakah mungkin kita fokus mengenyangkan perut sehingga buta terhadap warga suriah yang krisis kelaparan hingga terpaksa makan kucing. Apakah mungkin kita fokus tidur nyenyak sehingga kita buta terhadap warga palestina yang berselimutkan rudal dan berbantalkan peluru Israel. Apakah kita fokus belanja sehingga buta terhadap warga Indonesia pelosok yang masih belum terdidik sehingga di tanah Papua umum warga berumur di atas 20 tahun yang masih duduk di bangku SMA, SMP, bahkan SD.

Dalam kondisi yang terdekat mungkin kita fokus pada diri kita dan keegoisan diri kita sehingga tanpa sengaja hati teman kita lukai, persaan kerabat kita remehkan, persahabatan pun kita nodai. Apakah mungkin kita terlalu fokus pada dunia sehingga lupa sekitar dan lupa pada Tuhan kita. Saat terlalu fokus dan serius, mungkin ada baiknya kita simak perkataan illahi:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat iti lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?” (QS. Al An’am 32)

Kita perlu mengingat kembali bahwa dunia ini sementara dan sidang akhirat yang menentukan nasib hidup kita selamanya. Terlalu fokus dan tak acuh pada kondisi sekitar ternyata adalah jebakan yang kita hadapi sehari-hari sehingga konsekuensi dosa sulit dihindari. Kepada Allah kita bertaubat.

Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beramal shaleh kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaaha: 82).

Namun permasalahannya bila salah yang kita lakukan adalah kepada manusia. Tampaknya berdosa kepada orang lain ini menjadi permasalahan yang lebih pelik. Kita sudah paham kisah orang yang bangkrut karena terus mendzolimi orang lain.
“Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayaannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dianiaya untuk ditanggungkan kepadanya.” (HR. Bukhori, Muslim)
Konsekuensi dosa ke orang lain begitu rumit. Bila terbawa hingga akhirat, maka kita harus membayarnya dengan pahala kita bahkan dosanya pun ditimpakan kepada kita, naudzubillaah. Maka semoga momentum idul Fitri ini menjadi saat yang tepat untuk bermurah hati saling memberi maaf.

Kerja keras amat diperlukan untuk membuat masyarakat yang madani, di mana kedzoliman dan yang terdzolimi mendapatkan keadilannya. Semua muslim patut bekerja keras mengajak orang menuju cahaya Allah. Sehingga mereka takut melukai saudaranya barang satu duri, karena yakin Allah maha melihat dan mengamati. Melalui da’wah, melalui pemerintahan, melalui pendidikan, dan semua lini yang harus kita manfaatkan, membawa semangat Idul Fitri ke seluruh dunia, ke seluruh masa. (fanfiru)

Melihat Bandung dari Puncak Menara Masjid Raya

Written By PKS Kota Bandung on Minggu, 27 Juli 2014 | 16.03


Mau melihat Kota Bandung dari udara? Datanglah ke menara kembar Masjid Raya Bandung. Lokasi Masjid diantara Jl. Asia-Afrika dan Jl. Dalem kaum Bandung atau lebih dikenal Alun-alun Bandung. Cukup membayar tiket Rp. 3000 kita akan dibawa ke puncak menara setiggi 99 meter. Melalui sebuah lift yang terletak dalam menara pengunjung dapat melihat pemandangan Kota Bandung sekitar Masjid. Pada hari biasa menara hanya dibuka Sabtu dan Ahad. Selama Bulan Ramadhan menara dibuka tiap hari. Menara yang dibangun tahun 2002 menjadi salah satu tempat ngabuburit warga. Jika selama ini Alun-alun Bandung sebagai tempat favorit ngabuburit maka keberadaan menara menambah sarana ngabuburit sekaligus destinasi wisata ruhani

Masjid raya ini mempunyai sejarah panjang seiring dengan perkembangan Kota Bandung. Masjid Raya Bandung Jawa Barat sebelumnya dikenal dengan nama Masjid Agung didirikan pertama kali pada tahun 1812.

Masjid Agung Bandung dibangun bersamaan dengan dipindahkannya pusat kota Bandung dari Krapyak, sekitar sepuluh kilometer selatan kota Bandung ke pusat kota sekarang. Masjid ini pada awalnya dibangun dengan bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil air wudhlu. Air kolam ini berfungsi juga sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di daerah Alun-Alun Bandung pada tahun 1825.

Kemegahan Masjid Agung Bandung waktu itu sampai-sampai di-abadikan dalam lukisan pelukis Inggris bernama W Spreat pada tahun 1852. Dari lukisan tersebut, terlihat atap limas besar bersusun tiga tinggi menjulang dan mayarakat menyebutnya dengan sebutan bale nyungcung. Kemudian bangunan masjid kembali mengalami perubahan pada tahun 1875 dengan penambahan pondasi dan pagar tembok yang mengelilingi masjid.

Menjelang konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Agung Bandung mengalamai perombakan besar-besaran. Atas rancangan Presiden RI pertama, Soekarno, Masjid Agung Bandung mengalami prubahan total diantaranya kubah dari sebelumnya berbentuk nyungcung menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang. Keberadaan Masjid Agung Bandung yang baru waktu itu digunakan untuk shalat para tamu peserta Konferensi Asia Afrika.

Ngabuburit di Priangan


Beberapa istilah yang saya hapal ketika ramadhan di masa kecil, ngabuburit, munggahan, botram, lodong, dan puasa ayakan. Jelang Ramadhan di Tanah Priangan ada tradisi munggahan yaitu satu hari jelang shaum. Biasanya masak makanan enak-enak sambil botram. Arti Botram adalah makan bersama, Sebuah kominitas atau keluarga membawa makanan sendiri-sendiri kemudian makan bersama-sama.  

Ada tradisi lain yaitu Rantangan. Jelang Ramadhan antar keluarga sekampung saling kirim nasi dengan lauk pauknya. Ada yang lucu, Rantangan yang kita kirim ke saudara isinya sama dengan yang kita terima. isinya nasi, tumis, ikan, tahu dan tempe. Ala kulli hal, bukan rantangannya, tapi nilai silaturahim antar keluarga tetap terjaga 

Istiliah yang masih ngetren sampai sekarang yaitu ngabuburit. Burit artinya jelang malam atau maghrib. Jadi ngabuburit artinya menghabiskan waktu sambil menunggu adzan maghrib atau saatnya berbuka puasa. Tempat yang menjadi tujuan ngabuburit biasanya Alun-alun atau  pusat keramaian lain seperti terminal dan taman kota.

Selain acara ngabuburit ada acara yang tak kalah seru, maen lodong. Lodong, meriam bambu diisi minyak tanah kemudian dipanaskan dan disulut api. 

Ada istilah puasa ayakan kepanjangan dari nu aya dihakan (yang ada dimakan) , ini candaan untuk anak kecil sekaligus sindiran untuk orang dewasa yang tidak puasa

Saat ini cara ngabuburit bergeser ke arah permainan modern. Di Alun-Alun Bandung depan masjid Raya, anak-anak ngabuburit dengan mancing ikan-ikan kecil dalam kolam buatan, sementara di Alun-alun Ujung Berung sepeda motor anak dan mobil-mobilan tenaga aki menjadi favorit.



Singgah dalam Perjalanan Sejarah di Masjid Cipaganti


“Pangemut-ngemut ngadegna Masjid Cipaganti. Ngawitan dipidamel dina ping 11 Syawal 1351 H /7 Februari 1933. Diistrenan dina ping 11 Syawal 1352 H / 27 Januari 1934”. Tulisan dalam Prasasti ini menjelaskan sejarah singkat berdirinya Masjid Cipaganti

Masjid Raya Cipaganti dibangun tahun 1933. Nama awalnya adalah Masjid Kaum Cipaganti. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh inohong Bandung Asta Kanjeng Bupati Bandung bernama Raden Tumenggung Hasan Soemadipradja didampingi oleh Raden Rg Wirijadinata sebagai Patih Bandung dan Raden Hadji Abdul Kadir sebagai Hoopd panghulu Bandung. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 11 Syawal 1351 H bertepatan dengan tanggal 7 Pebruari 1933 M.

Letak masjid ini berada di Jl. Cipaganti, sebuah kawasasan sejuk di wilayah Bandung Utara. Rimbunan pepohonan dan bangunan-bangunan khas peninggalan Belanda sepanjang jalan Cipaganti menjadi tanda daerah ini sarat akan sejarah. Masjid Raya Cipaganti di desain oleh Prof. Kemal C.P. Wolff Shoemaker, seorang arsitek Belanda yang menjadi Profesor di ITB Bandung dan menghasilkan banyak karya yaitu Hotel Preanger, Villa Isola (kampus UPI), laboratorium Boscha dan lain-lain. 

Pada saat pembangunan masjid ini mendapat bantuan biaya dari seorang inohong Bandung bernama R.A.A. Hasan Soemadipradja. Di samping itu pula terkumpul anggaran biaya yang disumbangkan oleh golongan bumiputra yang peduli terhadap pembangunan masjid yang secara keseluruhan dana yang terkumpul digunakan untuk pembagunan masjid ini.



Berebut Lailatul Qadr di antara Lautan Manusia

Written By PKS Kota Bandung on Sabtu, 26 Juli 2014 | 09.49




Adalah Mulyana, seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun yang kami temui di Masjid Habiburrahman, Bandung. Di tengah kerumunan lautan manusia yang tengah berebut rahmat Allah di malam ke-27 Ramadhan, ia berada. 


Aktivitas sehari-harinya sebagai pengusaha loket pembayaran dan penjual pulsa. Awalnya, ia mengetahui adanya mabit I’tikaf di Habiburrahman ini melalui surat kabar. Sungguh sebuah hal yang baru baginya, berhimpitan di tengah padatnya jamaah yang juga menghiba berharap memperoleh malam Lailatul Qadr.


Kami mencoba menelisik lebih jauh pada sosoknya. Ternyata, ini adalah kali pertamanya mengikuti I’tikaf.


“Ini pertama kalinya dalam hidup saya,” katanya.


Meski baru saja memulai I’tikaf, tapi Mulyana telah tenggelam dalam tilawah Qur’annya. Bagaimana tidak? Ribuan orang yang turut memadati Habiburrahman memang semua sibuk beibadah : Shalat dan Tilawah Al-Qur’an. Tentu hal ini yang membuat suasana I’tikaf menjadi semakin syahdu dan khusyuk.


“Saya tahu I’tikaf ini dari Koran. Saya baca ada mabit, lalu ada pemasangan tenda segala. Saya jadi penasaran sebenarnya ada apa disana..” ungkapnya.


Akhirnya Mulyana berangkat untuk ber-I’tikaf, dengan bekal penasaran, sedahsyat apa I’tikaf di malam-malam terakhir ramadhan.


“Alhamdulillah luar biasa…Saya bersyukur ternyata masih banyak orang yang bisa menikmati pentingnya beribadah di malam-malam terakhir ramadhan ini” 


Tak ingin berlama-lama kami mengganggu asyiknya ia bertilawah, wawancara pun kami akhiri. Ditanya tentang rencana ramadhan tahun depan, Mulyana mantap akan melanjutkan kebiasaan barunya : I’tikaf.


“In Sya Allah, tahun depan saya akan mencoba tempat-tempat baru, yang berbeda untuk I’tikaf…” pungkasnya. (RD&Mang Ihin)

Kisah Imam Ahmad bin Hambal, Residivis, dan Makna Kemenangan

Written By Anak Panah yang Terbang Melesat on Kamis, 24 Juli 2014 | 05.17

Artikel Berikut Disarikan dari Tausyiah Bapak Ahmad Heryawan saat buka bersama di Gedung Pakuan 22 Juli 2014.
Sumber: bangtoyip1945.blogspot.com

Masa depan kita masih sangat cerah. Kita harus bekerja optimal. Kita selesaikan tugas generasi kita untuk dilanjutkan generasi berikutnya. Kita harus yakin kemenangan di tangan kita. Tugas kita disukseskan untuk masa depan yang kita perjuangkan. Kesberhasilan massa depan kita capai bersama. Definisi menang tidaknya kita adalah tergantung di mana kebenaran kita letakkan. Kalau menang lalu takabur,maka tidak menang jadinya.

Ada sebuah kisah yang menggambarkan hal tersebut. Penjara di masa Ahmad bin Hambal isinya kalau bukan residivis maka kemungkinan adalah para penyeru kebaikan tapi bertentangan dengan pemerintah. Jangan dikira di penjara itu salah semua, bisa jadi ada orang baik di sana, untuk dibungkam.

Ada obrolan sangat unik. Ahmad bin Hambal dipenjarakan penguasa mu’tazillah. Penguasa sangat benci kaum sunni karena kepercayaan yang berbeda dalam masalah aqidah. Banyak orang sunni dipenjarakan. Ahmad bin Hambal satu sel bersama residivis. Kemudian dua-duanya berkenalan, saling berkeluh kesah.

Residivis dinasehati agar segera taubat.Dia memang sudah taubat. Dia berharap agar penjara jadi proses taubat. Ahmad bin hambal juga mengeluh bahwa mu’tazilah itu sedikit tapi jadi penguasa. Itu bahayanya bila kekuatan jatuh ke tangan orang yang buruk. Itulah rakyat dengan penguasa. Meski seluruh rakyat membela Mesir dan Palestina, jika pemimpinnya tidak, kontribusi dan perjuangan tetap mentok di tengah jalan.

Imam Ahmad bin Hambal mengeluhkan bahwa ia dipenjara, kaum sunni akan dilemahkan, kita akan kalah. Namun uniknyya giliran residivis menasehati Ahmad bin Hambal. Sang residivis mengatakan bahwa kita belum kalah, sepanjang kebenaran bersemayam di dada kita, sepanjang kebenaran kita pegang teguh, kita adalah pemenang.

Sepanjang kebenaran bersemayam di dada kita, sepanjang kebenaran kita pegang teguh, kita adalah pemenang

Orang pada perannya masing-masing diperlukan. Residivis sekalipun ternyata punya kalimat yang kokoh. Kemenangan tetap dapat kita miliki dalam konteks besar maupun kecil. Hari demi hari Allah pergilirkan, Kadang ada hari kemenangan, kadang ada hari kekalahan. Ketika perang Badar menang, perang Uhud kita kalah. Muncul sikap jumawa. Muncul logika bahwa Uhud harusnya menang. Juga saat perang Hunain, ada sikap Jumawa. Di perang Hunain 10 ribu Mujahid. Logiknya dengan jumlah tersebut harusnya kaum muslimin menang, namun ternyata sempat dipukul mundur sebelum akhirnya membalik keadaan.Ternyata perhitungan manusia tidak cukup. Hubungan kita dengan Allah harus lebih kuat. Hati manusia ada dalam genggaman Allah. 
“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” 
Sepanjang kita bersama Allah. Sepanjang kita bersama kebenaran, kita akan hadir sebagai pemenang.

Kebenaran itu ternyata tidak butuh pengakuan. Kalau sudah benar ya benar. Kebenaran itu di depan Allah. Di akhirat, ada nabi dengan umat ratusan, puluhan, puluhan ribu, jutaan. Nabi Musa umatnya banyak. Nabi Isa lebih banyak lagi. Namun lebih banyak lagi, Nabi Muhammad dan umatnya. Ada nabi pengikutnya 9 orang, 7 orang, 6 orang, 5, 4,3,2. Bahkan ada nabi yang pengikutnya  hanya 1 orang. Sepanjang dia hidup pengikutnya hanya 1. Ternyata ada nabi tanpa pengikut sama sekali. Dan beliau tetap digelari sebagai Nabi tidak lantas bila kebenaran tidak diakui umatnya, ia menjadi kalah. Ia tetap menjadi pemenang.

Kebenaran akan menang baik skala individu maupun skala peradaban. Semangat kita harus sangat kuat. Dalam konteks perjuangan, harus sangat menguasai lapangan. Dalam proses perjuangan ini kita tidak punya media elektronik satupun, kecuali streaming. Kita tidak punya televisi. Alhamdulillaah kita punya sosmed, sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Ternyata sosmed cukup besar pengaruhnya. Sebelum kita punya radio dan televisi dan Koran, kita gunakan saja sosmed sebagai media perjuangan kita.

Kalau ada orang yang menyerang Islam dam mendagangkan keburukan, bongkar di sosmed! Bongkar pelaku kejahatan berkedok demokrasi. Kita menjadi media yang menghadirkan kebenaran, dan membongkar kebatilan. Kebatilan yang terbungkus demokrasi, HAM, dan bungkus lainnya. Mudah-mudahan diberi rezeki untuk lalu kita sisihkan harta. Maka ekonomi kita harus dibangun dengan baik. Media membuat jutaan orang bisa menikmati kebaikan.


Jangan khawatir, masa depan di tangan kita. Akan ada periodesasi kehidupan. Akan berakhir dengan Khilafah ala minhajul nubuwwah. Takdirnya sudah ada. Kita bertugas menyambut takdir tersebut. Kita buat jalan yang lurus menuju takdir kemenangan tersebut (R-10)

Oase di Tengah Dahaga Bangsa

Written By PKS Kota Bandung on Senin, 21 Juli 2014 | 15.34



"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang"
(QS. Ar-Ra'du : 28)

Bagaikan oase di tengah padang pasir. Menyaksikan ini di depan mata bak oase di tengah dahaga puasa. Bahkan, dahaga bangsa. Dahaga pada kebaikan yang masih tertanam pada diri setiap kita.

Ahad (20/7) itu, kebetulan DPC PKS Lengkong sedang mengadakan Yaumul Qur'an (Sehari bersama Qur'an) di Masjid Al Ikhlas di kawasan Turangga, Bandung. Tak sengaja, di sela-sela istirahat dzuhur tiba-tiba terlihat sesosok pria dengan seragam khas yang sudah tidak asing lagi. Ya, seorang polisi! 

Diam-diam kami dekati sosok tersebut, ternyata beliau sedang khusyuk membaca Alqur'an. Maasyaa Allah... Kami nikmati benar lantunan qur'an darinya, sungguh merdu. Tak sampai sana saja, polisi itu tiba-tiba sujud sambil menangis ketika bacaannya menemui ayat sajada. 

Terenyuh bathin kami. Di tengah banyaknya kesedihan yang melanda bangsa ini, masih ada aparat negara yang jiwanya bersih, bahkan senantiasa menyucikan diri di bulan Ramadhan ini. Dengan amanat profesinya untuk mencegah kejahatan, kami jadi teringat ayat dalam Alqur'an Surah Ali Imran ayat 110 :

" Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..."

Ya Allah... Ramadhan ini, jadikanlah waktu bagi kami memperbaiki amalan kami dengan sebaik-baik amalan
Karuniakan kepada kami pemimpin, jajaran pemerintahan, dan aparat negara yang ta'muruuna bil makruf wa tanhauna 'anil munkar, serta beriman kepada-Mu
Jadikan kami bangsa yang bertaqwa kepadaMu dengan sebaik-baik taqwa
Jadikan tanah kami, Indonesia, menjadi tanah yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur...
Aamiin. (RD)

Ratusan Geng Motor di Rumah Mang Oded. Ada Apa?


BANDUNG -Apa yang muncul dalam fikiran anda ketika kami sebut nama Geng Motor? Hampir bisa ditebak, rata-rata orang akan bereaksi kurang nyaman setelah mendengar nama tersebut. Tapi, beda halnya dengan Komunitas Club Motor Bandung yang 'diasuh' oleh Wakil Walikota Bandung., Oded M Danial

Sebanyak 160 Club Motor dari komunitas Club Motor Bandung mengikuti acara buka puasa bersama Oded M Danial, Ahad (20/7). Setelah sehari sebelumnya Wakil Walikota Bandung ini menggelar buka puasa bersama Yatim Piatu, kembali rumah dinasnya sengaja dikosongkan dari perabotan demi menjamu komunitas Club Motor ini. Bahkan, Mang Oded meracik Mie Kocok spesial khusus untuk Komunitas Club Motor Bandung ini.

Jangan remehkan anak-anak muda penyuka motor ini. Pasalnya, pada acara yang digelar kemarin sore ini mereka menunjukkan kebolehannya tilawah qur'an. Tak hanya itu, bahkan kini dalam tubuh komunitas tersebut telah dibentuk divisi religi, termasuk di dalamnya ada tim marawis. Luar Biasa! Belakangan, banyak juga mantan narapidana yang ikut komunitas ini dan turut melakukan aktivitas positif di dalamnya. Alhamdulillah...

Acara buka bersama ini memang bukan sekedar buka puasa biasa. Komunitas Club Motor menyerahkan sumbangan untuk Palestina sebesar masing-masing sepuluh juta rupiah untuk tiap Club. Sumbangan ini rencananya akan disalurkan melalui Rumah Zakat Indonesia. Rencananya, untuk memperluas kebaikan melalui komunitas ini, Oded M Danial akan membentuk komunitas baru yang diketuai olehnya sendiri bernama 'Sunda Matic', lima agustus nanti. (RD)

Merasakan Kesejukan Mushola BIP

Written By PKS Kota Bandung on Jumat, 18 Juli 2014 | 20.28


Letak mushola di lantai 3 Bandung Indah Plaza, Jl Merdeka Bandung. Mall yang identik dengan keriuhan feysen dan kuliner, begitu masuk mushola terasa kesejukan. Tidak seperti mall lain yang menempatkan mushola di lantai dasar atau di basement. Bahkan ada yang menempatkam mushola ditempat yang seadanya saja. Mushala BIP justru ada dilantai paling atas 

Mushola cukup luas, terpisah antara laki-laki dan perempuan. Tempat wudhunya nyaman dan bersih walupun tidak terlalu luas. Ada rak penyimpanan sepatu. Ada seorang pengurus mushola yang mengatur jamaah tatkala waktu sholat tiba. Beberapa waktu lalu saya sholat maghrib di BIP antrian jamaah yang akan sholat nampak berjubel. Saya merasaakan suasa religius di tengah keramaian mall.

Belum semua mall menyediakan yang nyaman dan memadai. Peraturan Daerah Kota Bandung sudah mengatur tentang hal ini. Dalam Perda Kota Bandung no. 5 tahun 2010 tetang Bangunan Gedungpasal 81 : 
"Setiap bangunan gedung untuk kepentingan umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung, guna memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan gedung untuk beraktivitas di dalamnya meliputi: ruang ibadah, ruang ganti, ruang bayi, toilet, tempat parkir, tempat sampah, serta fasilitas komunikasi daninformasi". Penjelasan pasal ini menyebutkan "Penyediaan ruang ibadah direncanakan dengan pertimbangan mudah dilihat, dicapai, dan diberi rambu penanda, serta dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk kebutuhan ibadah"

Implementasi dan sosialisasi Perda ini arus gencar dilakukan Pemerintah Kota Bandung. Kedepannya harus menjadi dasar dalam pemberian izin mendirikan bangunan mall, pertokoaan dan pusat perbelanjaan lainnya.

Masjid AL-Imtiyaad Sucor, Oase ditengah Deretan Ruko


Satu sudut dalam deretan ruko di Surapati Core (Sucor) nambak berbeda dan megah. Ada kubah besar warna biru dan ornamen khusus yang membedakan dengan bangunan sekitarnya. Ini masjid Al-Imtiyaad, posisinya berdempetan dengan ruko-ruko. Lokasinya di Surapati core Jl. PHH Hasan Mustafa Bandung

Masjid ini dibangun tahun 2011 dari dana pribadi seorang donatur. Awalnya kapling kosong, kemudian dibangun mejadi masjid yang megah empat lantai yang menampung 2000 jamaah. Tempat wudhu terletak dilantai 2. 

Kepengurusan masjid ini dibawah Yayasan AL-imtiyaad. Meskipun ditengah pertokoan aktivitas masjid cukup hidup, ada kajian Ba'da Maghrib dan Madrasah Diniyah anak-anak. Selama bulan Ramadhan kegiatan masjid beragam ceramah shubuh, kajian Dhuha, kajian terjemah, kultum dzuhur, takjil gratis. 10 hari terakhir Ramadhan tak luput menyelenggarakan i'tikaf

Semoga Masjid Al-Imtiyaad ini menjadi contoh pusat perbelanjaan lainya di Kota Bandung. Semangat dalam aktivitas  ekonomi akan senantiasa berdampingan dengan semangat keislaman.
 
Support : Tim Media DPD PKS Kota Bandung Jalan Brigjen Katamso no. 17 Phone: 022-7208303 / 7237260 - Redaksi menerima tulisan, opini, agenda dan Foto kegiatan - Kirim ke humas.pksbdg@gmail.com